Serangan udara Israel di Gaza menyebabkan setidaknya 12 orang tewas sejak dini hari pada hari Minggu, menurut laporan dari badan pertahanan sipil Gaza. Serangan itu dilaporkan menargetkan berbagai lokasi, termasuk tenda pengungsi di utara Gaza dan beberapa area lain di wilayah selatan.
Badan pertahanan sipil yang beroperasi di bawah otoritas Hamas menyebutkan lima orang meninggal dan beberapa luka-luka ketika sebuah serangan udara menghantam tenda tempat pengungsian di Jabalia, sebelah utara Gaza. Lokasi lain yang menjadi sasaran adalah kota Khan Yunis di selatan, di mana korban jiwa lainnya terjadi.
Selain itu, satu orang tewas akibat serangan artileri di Kota Gaza dan seorang lainnya tertembak dalam baku tembak di Beit Lahia, bagian utara Gaza. Rumah sakit Al-Shifa dan Nasser mengonfirmasi menerima sedikitnya tujuh jenazah dari insiden tersebut.
Seorang warga bernama Osama Abu Askar menyatakan bahwa serangan itu terjadi saat para korban sedang tidur. Ia menyebut bahwa meskipun sudah ada gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat, Israel “tidak memahami konsep gencatan senjata atau perjanjian damai.”
Pelanggaran gencatan senjata ini mendapat tanggapan dari pihak militer Israel yang mengklaim serangan tersebut sebagai balasan terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh Hamas. Seorang pejabat militer menjelaskan bahwa Hamas melanggar perjanjian dengan mengirim beberapa militan bersenjata ke lokasi-lokasi yang berdekatan dengan pasukan IDF.
Menurut aturan gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober, pasukan Israel menarik diri hingga garis yang disebut “Garis Kuning,” walau tetap menguasai lebih dari setengah wilayah Palestina di Gaza. Namun, ketegangan tetap membara karena kedua pihak saling menuduh melakukan pelanggaran.
Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, dengan tegas mengecam tindakan militer Israel, menilai serangan terhadap tempat pengungsian sebagai pelanggaran serius terhadap perjanjian gencatan senjata.
Badan kesehatan Gaza, yang dikelola oleh Hamas, melaporkan bahwa sejak dimulainya gencatan senjata sudah ada 601 korban jiwa di wilayah tersebut. Sementara itu, Israel menyatakan bahwa mereka kehilangan setidaknya empat prajurit selama periode yang sama.
Pembatasan akses media ke Gaza membuat verifikasi independen atas jumlah korban dan peristiwa di lapangan menjadi sulit. Lembaga kemanusiaan internasional, Doctors Without Borders (MSF), menyatakan telah menghentikan sejumlah layanan non-kritis setelah staf mereka melaporkan adanya kehadiran militan dan pergerakan senjata di rumah sakit Nasser.
MSF mengaku tidak mengetahui identitas kelompok bersenjata tersebut, sementara militer Israel menuding bahwa Hamas menggunakan fasilitas medis sebagai basis untuk menyerang pasukan mereka.
Sebagai respons atas kejadian ini, badan pertahanan sipil Gaza terus berupaya melakukan evakuasi dan memberi bantuan kepada korban. Namun, situasi di lapangan tetap penuh risiko karena berlangsungnya serangan yang sporadis dan adanya klaim pelanggaran gencatan senjata dari kedua belah pihak.
Berikut adalah rangkuman terkait dampak serangan dan situasi terakhir di Gaza:
1. Jumlah korban tewas sejak dini hari: 12 orang.
2. Lokasi utama serangan: Jabalia (utara), Khan Yunis (selatan), Gaza City, Beit Lahia.
3. Pelanggaran gencatan senjata dituduhkan oleh Israel terhadap Hamas.
4. Hamas menuduh Israel melakukan serangan terlarang terhadap pengungsi.
5. Rumah sakit lokal menerima sejumlah korban yang meninggal.
6. Pembatasan akses media semakin mempersulit konfirmasi situasi terbaru.
7. Organisasi kemanusiaan menghentikan beberapa aktivitas karena kondisi keamanan tidak stabil.
Situasi di Gaza masih sangat dinamis dan berpotensi mengalami eskalasi lebih lanjut, sehingga upaya pengawasan dan bantuan kemanusiaan sangat dibutuhkan. Namun, ketegangan antara pasukan Israel dan kelompok Hamas masih menjadi penghalang signifikan dalam mencapai perdamaian yang berkelanjutan di wilayah tersebut.





