Serangan Israel Hancurkan Tenda Pengungsi Gaza, 12 Tewas Sejak Fajar: Kesepakatan Gencatan Senjata Kembali Terabaikan, Warga Terluka Saat Tidur dalam Kekerasan yang Tak Pernah Reda

Serangan udara Israel di Jalur Gaza telah menewaskan setidaknya 12 orang sejak pagi hari, menurut laporan dari badan pertahanan sipil Gaza yang beroperasi di bawah otoritas Hamas. Serangan ini terjadi meskipun terdapat gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat dan telah memasuki fase kedua pada bulan lalu.

Badan pertahanan sipil melaporkan bahwa salah satu serangan menghantam sebuah tenda tempat pengungsi berlindung di utara Gaza, sementara serangan lainnya terjadi di wilayah selatan. Di Jabalia, tepatnya di utara Gaza, lima orang tewas dan sejumlah lainnya terluka akibat serangan udara yang menimpa tenda pengungsian.

Di Khan Yunis, kota di bagian selatan Jalur Gaza, terjadi serangan terpisah yang juga menewaskan lima orang dan menyebabkan beberapa korban luka. Selain itu, seorang korban meninggal akibat penembakan oleh pasukan Israel di Kota Gaza dan satu orang lagi tewas akibat tembakan di Beit Lahia, wilayah utara Gaza.

Rumah sakit Al-Shifa dan Nasser mengonfirmasi telah menerima jenazah minimal tujuh korban tewas dari serangan-serangan tersebut. Osama Abu Askar, yang keponakannya menjadi salah satu korban di Jabalia, mengecam aksi militer Israel dan menyatakan bahwa warga sipil terus menjadi sasaran meskipun adanya gencatan senjata yang telah berlangsung berbulan-bulan.

Respons Militer Israel dan Tuduhan Pelanggaran Gencatan Senjata

Seorang pejabat militer Israel menyatakan serangan dilakukan sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas. Pelanggaran tersebut termasuk sejumlah militan bersenjata yang bersembunyi di bawah reruntuhan di timur garis kuning, dekat dengan pasukan Israel. Menurut pejabat tersebut, aksi militan yang bersenjata melintasi garis tersebut merupakan pelanggaran yang jelas terhadap perjanjian gencatan senjata.

Setelah gencatan senjata mulai berlaku di pertengahan Oktober, pasukan Israel menarik diri ke posisi di belakang garis kuning, meskipun masih mengendalikan lebih dari separuh wilayah Palestina. Hamas melalui juru bicaranya, Hazem Qassem, membantah tindakan Israel dan menuduh militer tersebut melanggar gencatan senjata dengan menargetkan pengungsi yang berlindung di tenda-tenda.

Dampak dan Situasi di Lapangan

Kementerian kesehatan Gaza yang dikelola oleh Hamas melaporkan sebanyak 601 orang telah meninggal dunia sejak gencatan senjata diterapkan. Sementara itu, militer Israel menyatakan bahwa setidaknya empat tentara mereka juga gugur selama periode yang sama. Pembatasan media dan akses yang terbatas ke wilayah Gaza membuat angka korban maupun situasi di lapangan sulit untuk diverifikasi secara independen oleh media internasional.

Doa dan prosesi pemakaman digelar di depan jenazah korban di Rumah Sakit Nasser, di mana kerabat dan masyarakat berkumpul melaksanakan ritual keagamaan sebelum pemakaman. Kejadian ini kembali menegaskan eskalasi ketegangan dan kekerasan yang terus berlangsung di wilayah tersebut meskipun telah ada upaya gencatan senjata internasional.

Situasi di Gaza mencerminkan ketegangan yang tetap tinggi antara Israel dan Hamas, dengan kedua pihak saling menuduh melanggar perjanjian damai. Kondisi ini mengindikasikan bahwa konflik yang sedang berlangsung belum menunjukkan tanda-tanda mereda dalam waktu dekat.

Berita Terkait

Back to top button