Nasser Hospital di Gaza mengecam keputusan Doctors Without Borders (MSF) yang menghentikan sebagian besar layanan medisnya karena alasan keamanan. Rumah sakit tersebut menegaskan bahwa mereka telah menempatkan polisi sipil untuk menjaga keamanan pasien dan staf, sehingga klaim MSF dianggap keliru dan membahayakan fasilitas medis yang seharusnya terlindungi.
Keputusan MSF menghentikan operasi nonkritis diumumkan setelah adanya peningkatan kehadiran pria bersenjata di kawasan rumah sakit sejak gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat berlaku. MSF menyebut adanya pelanggaran keamanan yang serius, termasuk intimidasi dan penahanan sewenang-wenang terhadap pasien, sehingga mereka menilai kondisi tersebut sangat berbahaya bagi tim medis dan pasien.
Peran Nasser Hospital dalam Krisis Gaza
Nasser Hospital menjadi salah satu fasilitas kesehatan besar yang masih beroperasi di Gaza, khususnya di kota Khan Younis bagian selatan. Rumah sakit ini memberi layanan rutin kepada ratusan pasien dan korban perang setiap hari. Selain itu, Nasser Hospital juga sempat menjadi tempat transit bagi tawanan Palestina yang dibebaskan Israel dalam kesepakatan gencatan senjata saat ini.
Staf rumah sakit melaporkan bahwa mereka sering diserang oleh kelompok bersenjata yang mengenakan penutup wajah, sehingga kehadiran polisi sipil yang bersenjata dianggap sangat penting untuk melindungi pasien dan tenaga kesehatan. Namun, Hamas yang menguasai sebagian besar Gaza termasuk area rumah sakit masih menjadi kekuatan dominan, meskipun kelompok bersenjata lain juga bermunculan selama konflik berkepanjangan.
Kontroversi dan Tuduhan Militer
Militer Israel mengklaim bahwa Nasser Hospital digunakan sebagai markas utama dan pos militer oleh pejabat senior Hamas, meskipun tanpa menyampaikan bukti yang jelas. Israel menyambut keputusan MSF sebagai langkah penting tetapi menilai pengumuman itu terlambat mengingat situasi keamanan yang sudah memburuk.
Sepanjang konflik, Israel berkali-kali menargetkan rumah sakit di Gaza, termasuk Nasser, dengan tuduhan bahwa Hamas menggunakan fasilitas kesehatan tersebut untuk aktivitas militer. Hamas sendiri diketahui sering menempatkan personel keamanan di dalam rumah sakit, membatasi akses ke beberapa area.
Dampak Serangan dan Korban Terbaru
Dalam 24 jam terakhir, rumah sakit-rumah sakit Gaza melaporkan sedikitnya 11 warga Palestina tewas akibat serangan militer Israel. Di Khan Younis, lima pria muda berusia 20-an tewas dalam serangan yang mengenai kelompok di dekat Garis Kuning, batas antara wilayah yang dikuasai Israel dan Gaza. Beberapa dari korban diketahui terafiliasi dengan Brigade Qassam, lengan militer Hamas.
Di bagian utara Gaza, serangan drone juga menewaskan lima orang di kamp pengungsi Jabaliya serta satu orang di Kota Gaza. Militer Israel menyatakan serangan melawan para militan yang diduga berusaha melintasi Zona Garis Kuning dengan senjata atau bersembunyi di reruntuhan. Meskipun gencatan senjata sejak pertengahan Oktober berusaha meredakan konflik, tembakan dan serangan sporadis terus terjadi.
Situasi Politik dan Sosial di Israel
Di sisi lain, dalam wilayah Israel sendiri terjadi kekacauan di kota ultra-Ortodoks Bnei Brak saat dua tentara wanita diselamatkan dari kerusuhan. Ribuan warga ultra-Ortodoks yang menentang layanan militer bagi komunitas mereka turun ke jalan dalam protes keras terhadap kebijakan wajib militer. Insiden ini mengakibatkan puluhan penangkapan dan bentrokan dengan polisi.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengutuk serangan tersebut dan menyalahkan kelompok ekstremis minoritas atas kekerasan itu. Komunitas ultra-Ortodoks yang berjumlah sekitar 1,3 juta jiwa menganggap tugas utama mereka adalah belajar di seminari agama dan menolak dinas militer. Isu ini menimbulkan perpecahan tajam dalam masyarakat Israel, khususnya di tengah tekanan perang Gaza.
Dengan ketegangan keamanan yang terus berlangsung di Gaza serta penghentian layanan medis oleh MSF, situasi kemanusiaan di rumah sakit-rumah sakit seperti Nasser Hospital tetap menjadi perhatian global. Peran lembaga kesehatan sipil dalam konflik ini menjadi sangat penting demi menjaga akses terhadap perawatan sekaligus menghindari keterlibatan militer di fasilitas medis.





