Amerika Serikat telah menyelesaikan pemindahan lebih dari 5.700 tahanan yang diduga anggota ISIL (ISIS) dari penjara-penjara di Suriah ke Irak. Proses ini berlangsung selama 23 hari yang dimulai sejak 21 Januari, dan berakhir pada 12 Februari dengan penerbangan malam dari timur laut Suriah menuju Irak.
Menurut pernyataan dari Komando Sentral AS (CENTCOM), tahanan yang dipindahkan semuanya adalah pria dewasa. Operasi ini bertujuan untuk menjaga keamanan para tahanan dengan menempatkan mereka dalam pengawasan yang lebih ketat di penjara-penjara Irak. Sebelumnya AS menyatakan rencana memindahkan sekitar 7.000 tahanan.
Tahanan yang dipindahkan berasal dari sekitar 60 negara dan sebagian besar sebelumnya ditahan oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi. SDF mengelola sejumlah penjara di Suriah sebelum wilayah tersebut direbut kembali oleh pemerintah Suriah. Perubahan kontrol wilayah membuat AS terpaksa mengambil langkah memindahkan tahanan demi mencegah pelarian atau kekacauan keamanan.
Kelompok ISIL sendiri sempat menguasai wilayah luas di Suriah dan Irak sejak 2014, melakukan pembunuhan massal, dan memperbudak perempuan serta anak perempuan. Dukungan pasukan pimpinan AS akhirnya membantu Irak mendeklarasikan kemenangan atas ISIL pada 2017 dan SDF mengalahkan ISIL di Suriah dua tahun kemudian.
Setelah kekalahan ISIL, SDF menahan ribuan anggota yang dicurigai serta puluhan ribu kerabat mereka di kamp-kamp tahanan. Proses pemindahan ini menjadi langkah penting setelah serangan pasukan Suriah ke wilayah utara yang mengusir SDF dari beberapa daerah dan menimbulkan ketidakpastian nasib tahanan ISIL.
Pusat Kerjasama Kehakiman Internasional Nasional Irak (NCIJC) menyatakan sebanyak 5.704 tahanan ISIL telah tiba di Irak. Mereka berasal dari 61 kewarganegaraan, termasuk:
1. 3.543 warga Suriah
2. 467 warga Irak
3. 710 tahanan dari negara-negara Arab lain
4. Lebih dari 980 tahanan asing, termasuk dari Eropa, Asia, Australia, dan AS
CENTCOM memuji peran Irak dalam pengelolaan tahanan ini. Kepala CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, menyatakan, “Kami menghargai kepemimpinan Irak dan pengakuan bahwa pemindahan tahanan sangat penting untuk keamanan regional.” Dia juga mengapresiasi tim gabungan yang melaksanakan misi sulit ini di darat dan udara.
Irak berencana melakukan pemeriksaan dan interogasi terhadap para tahanan sebelum mengambil tindakan hukum. Negara tersebut juga meminta negara-negara lain untuk memulangkan warganya yang berada dalam daftar tahanan ISIL, meskipun realisasinya masih rendah.
Sementara itu, SDF sebelumnya juga berupaya meminta negara lain menerima kembali warga mereka yang tertahan, namun usaha ini sebagian besar berhasil untuk wanita dan anak-anak saja. Sebagian besar keluarga asing di kamp al-Hol, yang terkenal sebagai kamp penampungan kerabat anggota ISIL di timur laut Suriah, telah meninggalkan kamp sejak SDF mundur.
Kamp al-Hol sejak didirikan pada 2019 menjadi sorotan karena kondisi kemanusiaannya yang memprihatinkan dan aktivitas kelompok ISIL yang masih tersembunyi di dalamnya. Pekerja bantuan mendokumentasikan berbagai insiden kekerasan dan aktivitas kelompok bersenjata di kamp tersebut, sementara pejabat keamanan memperingatkan potensi kamp ini sebagai tempat lahir kelompok bersenjata di masa depan.
Pemindahan tahanan ini menjadi salah satu langkah strategis untuk mencegah ancaman keamanan yang lebih luas di kawasan tersebut. Pengelolaan yang lebih terpusat di Irak diharapkan dapat memperkuat upaya kontra-terorisme dan mengurangi risiko munculnya konflik baru terkait sisa-sisa jaringan ISIL yang tersebar di kawasan Timur Tengah.





