Giorgia Meloni, Perdana Menteri Italia, semakin memperkuat posisinya sebagai tokoh utama dalam perang budaya melawan agenda "woke" yang dipelopori oleh kubu kiri. Baru-baru ini, kontroversi mewarnai dunia hiburan Italia ketika komedian Andrea Pucci terpaksa mundur dari acara Sanremo setelah mendapat tekanan dan ancaman karena lelucon anti-woke yang dibuatnya. Meloni mengecam keras intimidasi ini, menyebutnya sebagai bukti "pergeseran illiberal" yang semakin menakutkan dari kubu kiri di Italia.
Dalam upayanya mereformasi budaya nasional, Meloni menargetkan RAI, lembaga penyiaran milik negara yang dianggapnya terlalu condong ke kiri. Ia mengisi posisi pimpinan di RAI dengan pendukungnya sendiri, yang kemudian membuat kritikus menyebut stasiun tersebut dengan julukan “TeleMeloni”. Menurut para pengkritik, perang budaya ini digunakan untuk mengalihkan perhatian publik dari isu-isu serius seperti kenaikan biaya hidup dan antrian rumah sakit yang panjang.
Langkah Politik dan Budaya Meloni
Meloni mengusung kebijakan sosial konservatif yang kuat, termasuk usulan pelarangan materi “gender ideology” di sekolah dan pembatasan pengakuan orang tua non-biologis dalam keluarga sesama jenis pada akta kelahiran. Langkah ini menuai kritik dari kelompok LGBT dan aktivis hak asasi yang menilai kebijakan tersebut “mengorbankan anak-anak” dengan secara legal menjadikan mereka “yatim”.
Selain itu, pemerintah Meloni mengkriminalisasi praktik surrogacy di luar negeri dan dalam negeri sejak awal tahun ini. Ia juga fokus pada dukungan kepada perempuan lewat pengurangan pajak untuk produk bayi dan menyediakan taman kanak-kanak gratis. Meloni memperkenalkan konsep “penghasilan keibuan” sebesar 870 poundsterling per bulan selama lima tahun bagi perempuan berpendapatan rendah yang datang ke klinik aborsi, sekaligus membuka akses bagi kelompok yang mendukung pilihan keibuan di dalam fasilitas tersebut.
Sikap Meloni terhadap Perempuan dan LGBT
Meski Meloni adalah perempuan pertama yang menjabat sebagai Perdana Menteri Italia, dia tidak menyebut dirinya sebagai feminis. Ia menolak kuota gender dan mengaku tidak pernah merasakan diskriminasi berbasis gender. Sikap ini dianggap kontroversial oleh sebagian ahli. Giorgia Serughetti, profesor filsafat politik dari Universitas Milano-Bicocca, menilai Meloni melakukan serangan keras terhadap keluarga LGBT dan mengecam penurunan hak reproduksi perempuan di bawah kepemimpinannya.
Meloni juga dikenal sebagai sosok pragmatis dalam kebijakan luar negeri, tetapi tetap memegang teguh nilai-nilai tradisional dan nasionalisme yang kuat di dalam negeri. Dalam pidato terkenalnya, ia menegaskan identitasnya sebagai seorang wanita, ibu, orang Italia, dan Kristen, serta menolak pengaruh yang dianggap merusak nilai-nilai tersebut.
Kontroversi dan Imajinasi Publik
Perempuan dengan latar belakang keluarga yang retak ini kerap menjadi figur kontroversial. Ia pernah memposting video kampanye yang menampilkan wanita Ukraina yang menjadi korban kekerasan, serta mengunggah klip dengan simbolisasi sengaja menggoda secara visual, menunjukkan kemampuannya berpolitik dengan bahasa yang “dekat dengan rakyat biasa”.
Meloni juga dikaitkan dengan akar sejarah partainya yang berasal dari kelompok pendukung Mussolini pasca-Perang Dunia II. Ia pernah memuji Mussolini sebagai “politisi yang baik” saat muda, namun kemudian menyatakan penyesalan atas komentar tersebut sambil mempertahankan slogan fascist “Tuhan, Tanah Air, dan Keluarga” dalam retorikanya.
Pada tingkat budaya, kontroversi lain muncul ketika seorang pelukis amatir melukis wajah Meloni sebagai malaikat di sebuah kapel di Basilica San Lorenzo, Roma. Setelah protes dari kalangan politik dan agama, wajah Meloni di mural tersebut akhirnya dihapus. Kejadian ini menggambarkan polarisasi tajam masyarakat Italia terhadap kebijakan dan simbol yang dibawa Meloni.
Dinamika Politik dan Masa Depan Italia
Meskipun banyak kritik, Meloni dianggap berhasil membawa stabilitas politik setelah periode pergolakan panjang di Italia. Pemilu berikutnya dijadwalkan akan berlangsung pada 2027 dan jika terpilih kembali, Meloni diperkirakan akan melanjutkan agenda transformasi Italia sesuai visi konservatifnya.
Beberapa warga menilai tidak ada alternatif kredibel selain Meloni saat ini. Ia dianggap sebagai figur kuat yang mampu merepresentasikan keinginan sejumlah besar warga negara yang menginginkan perubahan nilai sosial dan budaya di tengah dinamika politik yang semakin tajam. Namun, perdebatan tentang perang budaya yang ia pimpin menunjukkan bahwa isu-isu mendasar seperti ekonomi dan pelayanan publik tetap menjadi tantangan utama yang belum sepenuhnya teratasi.





