Di Balik Layar Kekerasan: Jejak Digital Pelaku Penembakan Kanada Ungkap Kecanduan Konten Gore dan Kekerasan Massal yang Menghantui Pikiran Remaja

Analisis aktivitas online pelaku penembakan maut di sekolah menengah Kanada mengungkap ketertarikan mendalam pada kekerasan dan senjata api. Pakar dari Institute for Strategic Dialogue (ISD) menyatakan bahwa pelaku, Jesse Van Rootselaar, yang berusia 18 tahun, kerap mengakses konten-konten grafis kekerasan hingga konten gore yang disebutnya "adiktif."

Van Rootselaar aktif di situs WatchPeopleDie, yang menampilkan video kekerasan ekstrem terhadap manusia dan hewan. Situs ini sebelumnya juga diidentifikasi sebagai ruang yang diakses oleh beberapa pelaku kekerasan masal lainnya, termasuk pelaku penembakan di Wisconsin yang berusia 15 tahun. Senior manager ISD, Cody Zoschak, menjelaskan bahwa komunitas online seperti ini dapat memperburuk perasaan kesepian dan putus asa pada remaja.

Pengaruh lingkungan digital terhadap remaja

Situasi digital saat ini memungkinkan remaja yang merasa terasing memilih komunitas daring untuk mendapatkan pengakuan, meski dari orang asing berbahaya. Zoschak mengungkapkan, “Pengaruh terburuk yang dapat dialami seseorang dulu adalah dari siswa bermasalah di sekolahnya. Kini, pengaruh terburuk bisa berasal dari orang terburuk di internet.” Hal ini menunjukkan betapa besarnya dampak negatif dari ruang digital yang salah.

Melalui metode verifikasi data digital, ISD dapat mengidentifikasi akun-akun yang terkait dengan Van Rootselaar dan memetakan perjalanan aktivitas onlinenya sejak usia sekitar 12 tahun. Awalnya, Van Rootselaar membahas topik game video, lalu pada 2021 mulai memposting foto senjata api yang diklaim miliknya. Pada 2023, isi postingan beralih membahas penggunaan narkoba dan masalah kesehatan mental.

Simulasi penembakan dan konten kekerasan di platform game

Laporan terbaru oleh 404 Media menemukan adanya simulasi penembakan massal di platform Roblox yang diduga dibuat oleh Van Rootselaar. Roblox mengonfirmasi bahwa akun tersangka telah dihapus beserta seluruh kontennya, dan pihaknya berkomitmen membantu penyelidikan aparat penegak hukum. Simulasi tersebut dibuat di Roblox Studio, aplikasi khusus bagi pengembang yang hanya menerima tujuh kunjungan, namun jenis permainan tersebut pernah muncul di platform utama terkait peristiwa penembakan di Columbine, Uvalde, dan Parkland.

Kondisi keluarga dan riwayat gangguan mental

Selain keterlibatan dalam konten kekerasan, Van Rootselaar juga menunjukkan masalah kesehatan mental serius. Polisi kerap merespons insiden mental yang dialami di rumah pelaku selama beberapa tahun terakhir. Mereka bahkan menegaskan bahwa Van Rootselaar beberapa kali ditangkap berdasarkan Mental Health Act British Columbia, yang memungkinkan tindakan jika seseorang mengalami krisis kesehatan mental dan membutuhkan perawatan.

Tragedi ini menewaskan enam korban di Tumbler Ridge Secondary School, mayoritas berusia di bawah 13 tahun. Korban juga termasuk saudara laki-laki Van Rootselaar yang berusia 11 tahun dan ibunya, yang ditemukan meninggal di sebuah tempat tinggal. Peristiwa ini menjadi penembakan paling mematikan di Kanada sejak insiden École Polytechnique pada 1989, yang menewaskan 14 wanita sebelum pelaku mengakhiri hidupnya sendiri.

Dengan fakta-fakta tersebut, terlihat bahwa kecanduan konten kekerasan secara daring dan keterasingan sosial dapat membentuk mindset berbahaya pada remaja di era digital. Studi ini menyoroti pentingnya pengawasan dan dukungan kesehatan mental untuk mencegah potensi tindakan ekstrem di masa depan.

Berita Terkait

Back to top button