Putri Kim Jong Un Terancam Ditentang Bibinya dalam Perebutan Kekuasaan Korea Utara

Putri Kim Jong Un, Kim Ju Ae, yang kini berusia sekitar 13-14 tahun, sedang dipersiapkan untuk menjadi penerus pemimpin Korea Utara. Badan intelijen Korea Selatan mengungkapkan bahwa Kim Jong Un telah menetapkan putrinya sebagai calon pengganti, sebuah langkah yang mengagetkan karena tradisi kepemimpinan Korea Utara biasanya didominasi oleh laki-laki.

Meski demikian, ancaman serius justru datang dari dalam keluarga sendiri, yaitu bibinya yang berkuasa, Kim Yo Jong. Mantan duta besar Korea Selatan untuk Inggris, Rah Jong Yil, memperingatkan adanya potensi perebutan kekuasaan yang berbahaya antara Kim Ju Ae dan Kim Yo Jong ketika Kim Jong Un meninggal dunia.

Pengaruh Kim Yo Jong dalam Perebutan Kekuasaan
Kim Yo Jong dikenal memiliki dukungan kuat dari kalangan militer dan politik di Korea Utara. Dia kerap disebut sebagai orang kedua paling berkuasa di negara tersebut. Dalam sistem politik yang keras di Pyongyang, persaingan untuk berkuasa bahkan bisa berujung pada tindakan ekstrim termasuk pembunuhan anggota keluarga sendiri.

Menurut Rah Jong Yil, keputusan siapa yang akan memimpin sangat bergantung pada situasi dan waktu. Jika Kim Yo Jong menilai ada peluang untuk menguasai posisi pemimpin tertinggi, dia diyakini tidak segan merebutnya. Kondisi ini memicu kemungkinan konflik internal yang besar di koridor kekuasaan.

Contoh Sejarah Perebutan Kekuasaan di Korea Utara
Perebutan kekuasaan di kalangan elit Korea Utara bukan hal baru. Ketika Kim Jong Un naik tahta setelah kematian ayahnya pada 2011, dia berhasil menghilangkan satu-satunya rival utama, pamannya Jang Song Thaek. Jang dieksekusi pada 2013 setelah dituduh melakukan tindakan anti-partai dan kontra-revolusi.

Selain itu, Kim Jong Un juga kehilangan kakak tirinya, Kim Jong Nam, yang merupakan calon penerus potensial. Kim Jong Nam dibunuh pada 2017 di Malaysia melalui racun saraf VX yang dioleskan ke wajahnya. Pelaku pembunuhan mengaku menyangka melakukan prank, namun dugaan kuat menunjukkan adanya keterlibatan agen Korea Utara.

Peran Kim Ju Ae yang Semakin Mencolok di Publik
Kim Ju Ae sudah mulai tampil secara publik sejak uji coba rudal jarak jauh pada November 2022. Ia semakin sering terlihat mendampingi ayahnya dalam acara-acara penting seperti parade militer, uji coba senjata, dan peresmian fasilitas industri. Bahkan Kim Ju Ae ikut dalam kunjungan resmi Kim Jong Un ke Beijing pada September 2025, pertemuan pertama dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam enam tahun terakhir.

Badan Intelijen Nasional Korea Selatan (NIS) menilai kehadiran Kim Ju Ae di berbagai acara strategis menjadi sinyal kuat bahwa dia memang sedang diproyeksikan sebagai penerus Kim Jong Un. Hal ini mengejutkan banyak pihak karena Korea Utara dikenal sangat konservatif dalam hal kepemimpinan dan biasanya mengutamakan figur laki-laki.

Skenario Masa Depan Kepemimpinan di Korea Utara
Dinamika internal politik Korea Utara diprediksi akan semakin kompleks ketika Kim Jong Un wafat. Persaingan antara Kim Ju Ae dan Kim Yo Jong dapat memicu ketegangan dalam keluarga penguasa yang selama ini cenderung tertutup dari publik.

Menurut para pakar intelijen, proses regenerasi kepemimpinan di Korea Utara tidak hanya soal pengangkatan figur penerus, tetapi juga tentang mengamankan dukungan militer dan partai yang dominan. Karena itu, jalannya Kim Ju Ae menjadi pemimpin akan diuji keras melalui politik intrik dan strategi kekuasaan yang sulit ditebak hasilnya.

Dalam konteks ini, pengamatan atas perkembangan terbaru di Pyongyang menjadi penting untuk memahami arah kebijakan dan kestabilan rezim Korea Utara yang selama ini menjadi perhatian global terkait isu nuklir dan keamanan kawasan.

Exit mobile version