Seorang pria berusia 21 tahun menghadapi dakwaan terorisme atas rencana serangan pada salah satu konser Taylor Swift di Wina. Jaksa Austria menyatakan bahwa tersangka berencana menyerang konser tersebut yang dijadwalkan pada Agustus mendatang.
Jaksa publik di Wina mengungkapkan bahwa pria tersebut menyatakan kesetiaan kepada kelompok ISIS melalui penyebaran materi propaganda dan video melalui berbagai layanan pesan. Ia juga diduga mempelajari cara merakit bom serpihan dengan bahan peledak triacetone triperoxide, yang biasa digunakan oleh ISIS, dan sempat membuat sejumlah kecil bahan peledak tersebut.
Selain itu, tersangka berupaya beberapa kali membeli senjata secara ilegal dari luar negeri untuk dibawa ke Austria. Kepala Direktorat Keamanan Negara dan Intelijen, Omar Haijawi-Pirchner, menyebut bahwa tersangka berencana membunuh sebanyak mungkin orang dengan pisau maupun alat peledak yang telah dibuat.
Kasus ini akan diproses di Wiener Neustadt, sebuah kota di dekat ibu kota Austria. Juru bicara kejaksaan Wina memastikan bahwa tersangka masih dalam tahanan. Media Austria mengidentifikasi pria tersebut dengan inisial Beran A., yang ditangkap pada bulan Agustus.
Selain Beran A., tiga tersangka lain juga sudah ditangkap terkait plot ini. Salah satunya adalah remaja yang sudah dihukum di pengadilan Jerman karena persiapan tindakan kekerasan serius dan dukungan terhadap terorisme. Remaja tersebut, Mohammad A., seorang warga Suriah, mendapat vonis hukuman percobaan selama 18 bulan.
Akibat ancaman ini, otoritas Austria membatalkan tiga pertunjukan Taylor Swift di Wina. Keputusan tersebut diambil setelah informasi intelijen dari Amerika Serikat mengungkap adanya rencana serangan terhadap tur Eras Swift. Pembatalan ini mengecewakan puluhan ribu penggemar yang sudah memesan tiket dan datang dari dalam maupun luar negeri.
Setiap konser diperkirakan akan dihadiri hingga 65.000 penggemar dalam stadion Ernst Happel, serta sekitar 30.000 penonton di luar stadion. John Kirby, mantan juru bicara keamanan nasional di Gedung Putih, menyatakan bahwa Amerika Serikat secara berkelanjutan bekerja sama dengan mitra global dalam memantau dan menghentikan ancaman terorisme.
Kasus ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap acara musik besar masih menjadi isu serius bagi keamanan internasional. Langkah cepat aparat Austria dan koordinasi dengan intelijen asing berhasil menggagalkan potensi serangan yang dapat menimbulkan korban jiwa besar. Pemerintah setempat terus meningkatkan pengawasan guna melindungi keselamatan masyarakat dan penyelenggaraan acara publik.







