Jerman Pastikan Dukungan Militer untuk Lebanon Tetap Kuat Usai Misi UNIFIL Berakhir, Tantangan Besar Melawan Hezbollah dan Tekanan pada Israel Membara!

Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier menegaskan komitmen negaranya untuk terus mendukung Lebanon dan pasukannya meski misi pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon Selatan (UNIFIL) berakhir pada 2027. Pernyataan ini disampaikan setelah mengadakan pertemuan dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun yang menyoroti pentingnya kedaulatan dan stabilitas Lebanon bagi kawasan.

Steinmeier menegaskan bahwa dukungan Jerman tidak akan berhenti bersamaan dengan keluarnya pasukan dari UNIFIL. Ia menilai upaya penguatan aparat keamanan Lebanon sangat krusial, terutama dalam konteks tugas militer untuk melucuti senjata kelompok Hezbollah yang didukung Iran setelah konflik terbaru dengan Israel.

Peran Pasukan Jerman dan Pelatihan Militer di Lebanon

Jerman saat ini mengerahkan 179 tentara dalam kontingen UNIFIL dan memberikan pelatihan serta peralatan kepada Angkatan Laut Lebanon. Menurut Steinmeier, penguatan kapasitas militer Lebanon, terutama angkatan laut, akan menjadi fokus utama setelah UNIFIL selesai menjalankan mandatnya. Ini mencakup peningkatan kemampuan pengawasan dan pengendalian wilayah pesisir.

UNIFIL sendiri dibentuk sejak 1978, pasca-invasi pertama Israel ke Lebanon Selatan, dengan tujuan menjaga ketenangan dan keamanan di wilayah yang sering dilanda ketegangan. Meskipun terjadi perluasan misi dan jumlah pasukan setelah perang 2006 antara Israel dan Hezbollah, Dewan Keamanan PBB pada Agustus lalu memutuskan untuk mengakhiri misi tersebut paling lambat akhir 2027.

Kondisi dan Tantangan Keamanan Pasca UNIFIL

Presiden Aoun mengungkapkan kekhawatiran akan kekosongan keamanan setelah UNIFIL pergi. Ia menyambut baik rencana penerus kehadiran tentara Eropa, termasuk Jerman, demi menjaga stabilitas di Lebanon Selatan. Konsultasi terkait format dan kerangka kerja bagi pasukan Eropa yang tetap tinggal di sana akan segera dilaksanakan.

Dalam pertemuan tersebut, Steinmeier juga menyoroti kesepakatan gencatan senjata 27 November yang dimediasi AS dan Prancis sebagai kesempatan bagi perdamaian jangka panjang. Namun, Steinmeier menegaskan perlunya pelucutan senjata Hezbollah agar Israel bersedia menarik pasukannya dari wilayah yang masih didudukinya di Lebanon Selatan. Jerman secara tegas menentang pendudukan permanen atas wilayah Lebanon yang dianggap tidak dapat diterima.

Situasi Konflik dan Politik di Wilayah Perbatasan

Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan tuntutan agar Israel menarik pasukannya dari lima posisi strategis yang masih dikuasainya. Hal ini menjadi hambatan utama bagi penyebaran penuh Tentara Lebanon di perbatasan. Sementara itu, langkah awal Tentara Lebanon dalam mendepak senjata Hezbollah di wilayah selatan sungai Litani telah selesai, namun proses pelucutan senjata masih menghadapi tantangan besar.

Aoun juga menegaskan tekad Lebanon untuk mengendalikan sepenuhnya senjata di negara tersebut. Ia menyebut bahwa rakyat Lebanon sudah tidak tahan lagi menanggung beban konflik dan kekerasan. “Perdamaian bukan dicapai dengan tuntutan mutlak, melainkan oleh keadilan dan niat baik,” ujarnya.

Sikap Hezbollah dan Dampaknya pada Keamanan Regional

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Hezbollah Sheikh Naim Qassem menolak fokus pada pelucutan senjata sebagai hal yang “salah besar” dan mendukung agresi Israel. Ia menyatakan kelompoknya tidak menginginkan perang tetapi siap mempertahankan diri jika diperlukan. Meski kemampuan Hezbollah menurun pasca-konflik, kelompok ini berupaya mengatur kembali kekuatannya tanpa sepenuhnya menyerahkan senjata selama Israel belum mematuhi gencatan senjata.

Sejak gencatan senjata diberlakukan, Israel melanjutkan operasi militer dengan mengincar lokasi yang diduga menjadi basis Hezbollah serta menolak menarik diri dari posisi yang masih diduduki di Lebanon Selatan. Pembebasan tahanan Lebanon dan pemulangan pengungsi juga terhambat akibat situasi ini.

Upaya Diplomatik dan Reformasi Pemerintah Lebanon

Dalam agenda pertemuan, Steinmeier juga berdialog dengan Ketua Parlemen Nabih Berri dan Perdana Menteri Nawaf Salam, membahas fase pasca-UNIFIL. Fokusnya pada langkah-langkah pemerintah untuk melucuti senjata Hezbollah, serta pelaksanaan reformasi keuangan yang dianggap penting untuk kestabilan Lebanon di masa depan.

Jerman menunjukkan komitmen untuk tetap berada di balik upaya stabilisasi Lebanon, baik secara militer maupun diplomatik, sebagai bagian dari peran aktif mereka dalam menjaga keamanan dan perdamaian di kawasan Timur Tengah yang rentan konflik.

Exit mobile version