Iran baru-baru ini menggelar latihan militer di Selat Hormuz yang strategis. Latihan ini bertujuan untuk memperkuat kendali Iran atas jalur air yang sangat penting bagi perdagangan minyak global tersebut.
Latihan digelar oleh Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) dengan fokus pada penerapan “kontrol cerdas” menggunakan berbagai skenario tindakan militer. Komandan IRGC, Mayor Jenderal Mohammad Pakpour, memimpin latihan yang menguji respons cepat dan menyeluruh pasukan operasional Iran.
Latihan ini muncul setelah Amerika Serikat mengirim kapal induk kedua ke kawasan tersebut. USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R Ford menjadi simbol kehadiran militer Amerika di Teluk Persia, sebagai upaya menunjukkan kekuatan di tengah negosiasi program nuklir Iran.
Selat Hormuz adalah jalur kapal sempit yang hanya selebar 24 mil pada titik tersempitnya. Sekitar 21 juta barel minyak, atau sekitar 21 persen dari kebutuhan minyak dunia, melewati selat ini setiap hari. Penutupan jalur ini bisa menyebabkan lonjakan harga minyak dan kerusakan ekonomi global.
Iran telah berkali-kali mengancam akan menutup Selat Hormuz jika mendapat serangan militer. Mereka mengindikasikan akan menyerang kapal tanker dengan rudal dan drone serta bahkan menenggelamkan kapal untuk menghambat arus pelayaran. Namun, langkah ini juga berisiko besar bagi ekonomi Iran sendiri yang bergantung pada ekspor minyak.
Dalam beberapa minggu terakhir, India menangkap tiga kapal tanker yang diduga terkait dengan Iran dan melanggar sanksi Amerika Serikat. Kapal-kapal ini diduga sering mengganti identitas agar lolos dari pengawasan otoritas India. Iran membantah keterlibatan dalam kasus ini.
Pelaksanaan latihan militer bertepatan dengan kedatangan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, di Jenewa untuk memulai putaran kedua negosiasi nuklir tidak langsung dengan Amerika Serikat. Pertemuan ini difasilitasi oleh Oman dan bertujuan mencapai kesepakatan yang adil.
Araghchi menyatakan bahwa Iran datang ke meja perundingan dengan niat serius dan menolak tunduk pada tekanan atau ancaman. Sementara itu, komandan tertinggi militer Iran memperingatkan bahwa setiap tindakan militer oleh AS akan menghadapi perlawanan sengit dari Iran.
Penempatan dua kapal induk AS serta latihan militer Iran meningkatkan risiko bentrokan tidak disengaja di perairan yang sempit ini. Hal ini memperbesar potensi eskalasi menjadi konflik berskala luas, meskipun diplomat sedang berupaya mencari solusi damai di Jenewa.
Selain itu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, menyatakan kesiapan Iran untuk menerima inspeksi internasional di lokasi nuklir bawah tanah. Hal ini merupakan bagian dari negosiasi nuklir yang mulai menghangat setelah jeda panjang sejak insiden serangan Israel pada tahun sebelumnya.
Delegasi Iran di Jenewa juga membawa tim lengkap ahli nuklir yang menunjukkan keseriusan mereka dalam perundingan. Namun, Iran menegaskan hanya akan membahas program nuklir dan menolak memasukkan isu rudal atau pengaruh regional ke dalam pembicaraan.
Seorang anggota parlemen Iran menegaskan bahwa negosiasi ini dilakukan agar tidak ada pihak yang menyebut Iran menolak diplomasi. Iran juga ingin menunjukkan bahwa perang dapat dihindari dengan dialog, terutama setelah adanya upaya khusus dari pihak AS termasuk peran menantu presiden Amerika.
Di tengah ketegangan politik, rakyat Iran menghadapi tekanan ekonomi yang berat. Nilai mata uang rial merosot tajam sehingga memicu inflasi dan kesulitan hidup sehari-hari. Harga kebutuhan pokok meningkat dan bahkan vaksin flu sulit didapat karena sanksi terhadap impor farmasi.
Situasi ekonomi yang memburuk ini sempat memicu protes massal di beberapa wilayah Iran pada bulan Januari. Demonstrasi itu berujung pada tindakan keras dari aparat keamanan terhadap para pengunjuk rasa.
Latihan militer Iran di Selat Hormuz bukan hanya tindakan militer semata, tetapi juga sinyal politik terkait ketegangan regional dan negosiasi nuklir yang berlangsung. Rusia dan negara-negara lain terus memantau perkembangan yang berpotensi mempengaruhi stabilitas perdagangan energi global dan keamanan internasional.





