Iran mengungkapkan bahwa posisi Amerika Serikat (AS) terhadap program nuklirnya kini dianggap lebih realistis. Pernyataan ini muncul menjelang ronde kedua pembicaraan tak langsung antara kedua negara yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa.
Menteri luar negeri Iran datang ke Jenewa untuk melanjutkan negosiasi yang dimediasi Oman. Sementara itu, Pasukan Pengawal Revolusi Iran mulai menggelar latihan militer di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital untuk pengiriman minyak dan gas dunia.
Pelaksanaan latihan militer oleh Pasukan Pengawal Revolusi bertujuan sebagai persiapan menghadapi ancaman keamanan dan militer potensial di wilayah Selat Hormuz. Media pemerintah Iran menyebutkan bahwa langkah ini juga menegaskan kesiapan Iran dalam mengamankan kepentingannya.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pengiriman minyak global. Beberapa pejabat Iran bahkan sempat mengancam bakal memblokade selat tersebut sebagai respons atas tekanan internasional yang meningkat.
Moskow menilai perubahan sikap AS dari hasil diskusi di Muscat sebagai langkah menuju posisi yang lebih realistis. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan hal ini berdasarkan informasi yang diperoleh dari pembicaraan awal.
Pembicaraan yang dimediasi Oman ini akan berlanjut pada hari Selasa di Swiss. AS sebelumnya mendorong agar topik diskusi juga mencakup program rudal balistik Iran dan dukungan Teheran terhadap kelompok bersenjata di kawasan Timur Tengah.
Di Jenewa, diplomat senior Iran, Abbas Araghchi, bertemu dengan Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi. Grossi mengonfirmasi pertemuan tersebut berlangsung secara mendalam menjelang negoisasi penting yang akan dilanjutkan.
Abbas Araghchi menegaskan bahwa Iran membawa ide-ide konkret untuk mencapai kesepakatan yang adil dan setara. Ia menolak adanya penyerahan diri di bawah tekanan, menyatakan sikap Iran tetap tegas dalam perundingan.
Sementara itu, pihak AS mengirim utusan khusus untuk Timur Tengah, termasuk Steve Witkoff dan menantu Presiden Trump, Jared Kushner. Mereka bertugas memperkuat posisi AS dalam pembicaraan nuklir ini.
Tekanan meningkat sejak Presiden AS Donald Trump mengancam tindakan militer terhadap Iran terkait penumpasan brutal terhadap demonstran protes. Trump menyebut perubahan rezim di Iran sebagai “hal terbaik yang bisa terjadi”.
Demonstrasi menentang otoritas clerical Iran terjadi di beberapa kota besar, termasuk aksi solidaritas di Amerika Serikat. Di dalam negeri, para pengunjuk rasa terus melawan dengan meneriakkan slogan-slogan dari balik jendela walau mendapat tindakan keras.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, menyatakan kesiapan Iran mempertimbangkan kompromi terkait cadangan uranium jika sanksi ekonomi yang menghimpit negara dicabut. Ia optimistis keseriusan AS dapat membuka jalan menuju kesepakatan.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menekankan bahwa suatu kesepakatan yang dapat diterima harus mencakup penghapusan seluruh uranium yang diperkaya oleh Iran dan menghentikan kemampuan mereka untuk memperkaya uranium lebih lanjut.
Stok uranium Iran yang diperkaya hingga 60 persen diperkirakan sekitar 400 kilogram. Namun, lokasi persisnya belum diketahui karena pengawas nuklir terakhir kali melihatnya pada bulan Juni.
Perkembangan terkini ini menunjukkan dinamika yang terus berubah dalam hubungan Iran-AS dan upaya diplomatik menghindari konflik yang bisa mengguncang stabilitas regional dan pasar energi global. Latihan militer dan pembicaraan intensif menjadi dua sisi dari strategi yang dijalankan kedua negara saat ini.





