Iran dan AS Sepakati Prinsip Dasar: Diplomasi Genting di Geneva Terbungkus Ancaman Perang dan Sanctions yang Mematikan

Iran dan Amerika Serikat sepakat pada prinsip-prinsip panduan dalam pembicaraan di Jenewa yang menjadi dasar penyusunan kesepakatan lebih luas. Kesepakatan ini terungkap setelah kedua negara bertukar peringatan terkait potensi aksi militer.

Pembicaraan yang dimediasi oleh Oman tersebut bertujuan mencegah intervensi militer AS terhadap program nuklir Iran. Iran menuntut pencabutan sanksi AS yang sangat membebani perekonomian mereka.

Kesepakatan Prinsip Panduan

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa pembicaraan di Jenewa berjalan lebih konstruktif dibanding putaran sebelumnya. Ia menyebut telah tercapai kesepakatan luas atas prinsip-prinsip panduan yang akan menjadi landasan kerja merumuskan teks perjanjian.

Setelah rancangan perjanjian disiapkan oleh kedua pihak, dokumen tersebut akan dipertukarkan dan jadwal untuk putaran ketiga pembicaraan akan ditetapkan. Namun, Araghchi mengakui jarak pandang antara kedua negara masih cukup besar dan perlu waktu untuk mempersempitnya.

Pandangan dan Teguran dari Pemimpin Tertinggi Iran

Sebelumnya, pemimpin tertinggi Iran memperingatkan bahwa negara tersebut memiliki kemampuan untuk menenggelamkan kapal perang AS yang baru saja dikerahkan ke wilayah tersebut. Ia menyatakan, “Senjata yang mampu menenggelamkan kapal perang bahkan lebih berbahaya daripada kapal perang itu sendiri.”

Presiden AS, Donald Trump, juga memperingatkan akan ada konsekuensi jika tidak tercapai kesepakatan, sambil menegaskan bahwa AS tidak menginginkan konsekuensi buruk dari kegagalan dialog.

Tensi Militer di Teluk Persia

Sebagai bagian dari tekanan, AS mengirim dua kapal induk ke kawasan tersebut. USS Abraham Lincoln, membawa hampir 80 pesawat tempur, ditempatkan sekitar 700 kilometer dari pantai Iran pada hari Minggu, menjadikan sejumlah jet tempur F-35 dan F-18 berada dalam jarak serang.

Iran menanggapi dengan mengadakan latihan perang di Selat Hormuz untuk menghadapi “ancaman keamanan dan militer potensial.” Penutupan sebagian perairan Selat Hormuz selama latihan ini dilaporkan terjadi atas alasan keselamatan, dengan ancaman sebelumnya dari politisi Iran untuk memblokir jalur penting ini.

Fokus Negosiasi dan Tantangan

Iran menegaskan pembicaraan hanya akan membahas program nuklir, menolak membahas isu lain seperti program rudal balistik dan dukungan terhadap kelompok bersenjata di wilayah tersebut yang diinginkan Washington.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei, menyatakan pencabutan sanksi harus menjadi bagian tidak terpisahkan dari setiap kesepakatan.

Sementara itu, pembicaraan teknis juga dilakukan dengan Badan Energi Atom Internasional untuk membahas aspek teknis program nuklir Iran.

Pandangan Pakar tentang Kondisi Iran

Ali Fathollah-Nejad, direktur Pusat Timur Tengah dan Tatanan Global di Berlin, menilai Iran menghadapi dilema eksistensial. Koncesi terhadap tuntutan AS dapat memberikan keringanan sanksi yang diperlukan untuk stabilisasi rezim.

Namun, perubahan signifikan dapat merusak posisi ideologis dan militer Iran, yang selama ini menjadi pondasi pengaruhnya di kawasan.

Pembicaraan di Jenewa menjadi momen penting yang berpotensi menghindarkan ketegangan militer di Teluk Persia. Meski begitu, proses negosiasi masih memerlukan waktu dan komitmen dari kedua belah pihak untuk mencapai kesepakatan akhir yang memuaskan semua pihak.

Berita Terkait

Back to top button