Rumah 15 Keluarga Palestina Diruntuhkan, Pemukim Israel Paksa Pengusiran di Lembah Yordan Utara – Konflik Memanas dan Lahan Disikat Secara Sistematis

Israeli settlers telah memaksa 15 keluarga Palestina untuk membongkar rumah mereka dan meninggalkan wilayah Lembah Yordan bagian utara di Tepi Barat yang diduduki. Kepala Dewan Desa al-Malih, Mahdi Daraghmeh, mengungkapkan kepada kantor berita Wafa bahwa tindakan ini terjadi di tengah serangan yang semakin intensif oleh para pemukim.

Sebelumnya, tujuh keluarga lain dari komunitas Maita juga terpaksa meninggalkan rumah mereka setelah mengalami serangan dan ancaman serupa. Di tempat lain, kelompok pemukim menyerang sejumlah pria di desa Nabi Samwil, barat laut Yerusalem Timur yang diduduki, melukai satu orang yang harus dirawat di rumah sakit akibat memar.

Serangan dan Operasi Militer Israel di Tepi Barat

Pasukan Israel terus meningkatkan serangan di berbagai wilayah Tepi Barat yang diduduki. Pada hari Selasa, terjadi serangkaian penyerbuan dan pembongkaran rumah di kota-kota Nablus, Al Khader, dan Salfit. Langkah ini sejalan dengan kebijakan pemerintah Israel yang memperkuat kontrolnya dengan mempermudah pemukim membeli tanah Palestina dan membuka pendaftaran tanah Palestina sebagai milik negara Israel.

Pemerintah Israel baru saja menyetujui rencana untuk menetapkan wilayah luas di Tepi Barat sebagai “tanah negara”, yang memindahkan beban pembuktian kepemilikan kepada warga Palestina. Kebijakan ini dikhawatirkan akan membuka jalan bagi aneksasi resmi wilayah tersebut dan memupus harapan berdirinya negara Palestina sesuai dengan berbagai resolusi PBB.

Reaksi Internasional Terhadap Kebijakan Israel

Menteri luar negeri dari beberapa negara, termasuk Yordania, Uni Emirat Arab, Indonesia, Pakistan, Turki, Arab Saudi, Qatar, dan Mesir, mengeluarkan pernyataan bersama yang menentang keputusan Israel. Mereka menilai kebijakan itu sebagai “eskalasi besar” yang mempercepat aktivitas pemukiman ilegal dan pengambilalihan tanah.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa langkah Israel bertujuan untuk memperkokoh kontrol mereka secara ilegal atas wilayah Palestina yang diduduki dan mengabaikan hak-hak sah rakyat Palestina. Intensifikasi operasi militer Israel ini terjadi sejak peluncuran perang besar-besaran di Gaza pada Oktober tahun lalu.

Dampak Serangan Terhadap Penduduk Palestina

Data resmi Palestina melaporkan setidaknya 1.114 warga Palestina tewas, lebih dari 11.500 luka, serta sekitar 22.000 ditangkap di Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur selama periode konflik yang berlangsung. Selain pembunuhan dan penahanan, tindakan pengusiran dan perluasan permukiman semakin memperjelas upaya Israel untuk menciptakan realitas baru di wilayah tersebut.

Fakta Utama Mengenai Pengusiran dan Pengambilalihan Tanah

  1. 15 keluarga Palestina dipaksa membongkar rumah di Lembah Yordan utara.
  2. 7 keluarga dari komunitas Maita mengungsi akibat serangan pemukim.
  3. Penyerangan terjadi di desa Nabi Samwil dengan korban luka.
  4. Pembongkaran juga berlangsung di Nablus, Al Khader, dan Salfit.
  5. Pemerintah Israel mempermudah pembelian dan pendaftaran tanah Palestina.
  6. Rencana penetapan wilayah luas sebagai “tanah negara” Israel disetujui.
  7. Reaksi keras dari berbagai negara Muslim atas eskalasi dan pengambilalihan tanah.

Langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah Israel menunjukkan strategi sistematis untuk memperkuat kendali mereka atas wilayah Tepi Barat yang diduduki, dengan konsekuensi langsung terhadap kehidupan dan hak kepemilikan warga Palestina. Pengusiran paksa, pembongkaran rumah, dan serangan oleh para pemukim menambah penderitaan masyarakat yang sudah lama terperangkap dalam konflik berkepanjangan ini.

Berita Terkait

Back to top button