Presiden interim Peru, Jose Jeri resmi dimakzulkan oleh Kongres pada Selasa waktu setempat akibat terlibat skandal yang dikenal sebagai “Chifa-gate”. Pemakzulan ini mengejutkan banyak pihak karena Jeri baru menjabat selama empat bulan dan berjarak dua bulan dari pemilihan umum yang dijadwalkan.
Kongres memberikan suara sebanyak 75 setuju untuk memakzulkan dan 24 menolak. Skandal yang melibatkan pertemuan rahasia Jeri dengan pengusaha asal Tiongkok, Zhihua Yang, menjadi alasan utama pemakzulan ini. Foto-foto yang beredar menunjukkan Jeri mencoba menyamar saat bertemu dengan pengusaha tersebut di lokasi yang tidak tercatat secara resmi.
Pada 26 Desember, Jeri terlihat memasuki restoran khas Tiongkok di Lima dengan memakai penutup kepala yang menutupi wajahnya. Pertemuan kedua berlangsung pada 6 Januari di sebuah toko barang-barang China, di mana ia mengenakan kacamata hitam. Aksi tersebut menimbulkan kecurigaan publik dan pertanyaan soal integritas kepemimpinannya.
Jose Jeri kemudian meminta maaf secara terbuka atas tindakannya mencoba menyembunyikan pertemuan tersebut. Ia mengakui kesalahan dan menyebut bahwa penggunaan penutup kepala membuat publik ragu akan prilakunya. Meski demikian, Kejaksaan Agung Peru tetap melanjutkan penyelidikan terhadap dugaan transaksi ilegal dan perdagangan pengaruh.
Kejatuhan Jeri menambah daftar panjang pemimpin Peru yang berakhir dengan cara kontroversial. Dalam dua dekade terakhir, hampir semua mantan presiden di negara ini terjerat kasus hukum, seperti korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia. Contohnya, mantan presiden Pedro Castillo yang ditangkap atas tuduhan pemberontakan, dan Dina Boluarte yang juga dimakzulkan karena dianggap kehilangan moralitas.
Selain masalah domestik, skandal ini juga memperkeruh ketegangan antara pengaruh Tiongkok dan Amerika Serikat di Peru. China menjadi mitra dagang utama dan terlibat dalam berbagai proyek infrastruktur, termasuk pengembangan Pelabuhan Chancay. Namun, Amerika Serikat memperingatkan agar Peru tidak terlalu bergantung pada modal China demi menjaga kedaulatan nasional.
Setelah pemakzulan Jeri, kursi kepresidenan kini dinyatakan kosong oleh pimpinan Kongres. Berbagai blok politik dijadwalkan bertemu untuk memilih presiden interim baru yang akan memimpin hingga pelaksanaan pemilihan umum pada 12 April mendatang. Krisis politik ini menambah ketidakpastian situasi di Peru yang selama ini sudah rentan mengalami pergantian kepemimpinan.





