Putin Tegaskan Rusia “Selalu” Dukung Kuba, Kecam Sanksi AS yang Memperparah Krisis Bahan Bakar di Pulau Revolusi

Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan bahwa Rusia akan “selalu” mendukung Kuba dalam menghadapi sanksi keras dari Amerika Serikat. Pernyataan ini disampaikan saat Putin bertemu dengan Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez, di Moskow sebagai bentuk solidaritas terhadap krisis bahan bakar yang dialami Kuba akibat embargo minyak yang diberlakukan oleh Washington.

Rodriguez datang ke Rusia untuk mencari dukungan mengingat situasi kritis di negaranya yang diperparah oleh pemutusan pasokan minyak utama dari Venezuela. Pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump sebelumnya memangkas aliran minyak yang menjadi tulang punggung kebutuhan energi Kuba setelah mendukung penggulingan Nicolas Maduro di Venezuela.

Putin menegaskan bahwa Rusia selalu berdiri di sisi Kuba dalam perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan dan hak bebas menentukan jalur politiknya. Menurutnya, sanksi baru yang dijatuhkan saat ini merupakan hal yang tidak dapat diterima dan tidak adil terhadap Kuba dan sekutu tradisionalnya.

Moskow belum mengumumkan secara resmi jenis bantuan apa yang akan diberikan kepada Kuba, meskipun media pemerintah Rusia melaporkan kemungkinan pengiriman minyak ke negara pulau tersebut. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan bahwa pembicaraan terkait dukungan teknis dan material sedang berlangsung tanpa memberikan kepastian konkret.

Sementara itu, dalam pertemuan terpisah dengan Sergei Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia, Rodriguez kembali mengkritik kebijakan AS yang dianggap memperparah krisis internasional. Lavrov menggunakan bahasa era Soviet untuk mengecam blokade militer dan maritim yang diterapkan Amerika Serikat terhadap Kuba, memohon agar Washington mengambil sikap yang lebih bijaksana.

Hubungan Rusia dan Kuba berakar sejak revolusi sosialisme Kuba pada akhir 1950-an. Selama puluhan tahun, keduanya menjalin aliansi erat dalam bidang politik serta ekonomi, termasuk ketika Uni Soviet masih berdiri. Meskipun Uni Soviet runtuh, hubungan itu tetap dipertahankan dan diperkuat di tengah tekanan dari AS yang sudah memberlakukan sanksi terhadap Kuba sejak 1960-an.

Dalam kondisi krisis bahan bakar yang telah lama dialami Kuba, tekanan dari sanksi AS kian memperdalam kesulitan yang dihadapi Pulau Karibia itu. Rusia, sebagai salah satu produsen energi terbesar dunia, menjadi salah satu opsi utama yang sedang dieksplorasi Kuba sebagai sumber bantuan.

Dalam perundingan, Rodriguez menegaskan bahwa Kuba tidak akan mengubah arah kebijakan politiknya meski mendapat tekanan dari AS. Ia pun mengutuk kebijakan Washington yang menurutnya memperburuk tatanan internasional yang sudah tidak adil dan semakin rentan.

Sejak intervensi militer Rusia di Ukraina, Moskow juga memperkuat kembali aliansi lama dengan negara-negara seperti Korea Utara dan Kuba, meskipun tidak ada deklarasi resmi dari Kuba mengenai konflik tersebut. Bahkan, terdapat laporan mengenai perekrutan pejuang Kuba untuk bergabung dalam konflik di Ukraina.

Putin sendiri diketahui melakukan kunjungan ke Kuba pada 2014 dan bertemu dengan Fidel Castro, tokoh revolusi Kuba yang meninggal dua tahun setelah kunjungan tersebut. Kini, meskipun pembicaraan diplomatik mengenai perang Ukraina sedang berlangsung yang melibatkan mediasi AS, Putin memilih untuk menahan kritik tajam terhadap Amerika Serikat.

Pernyataan dan langkah Rusia ini menegaskan keberlanjutan hubungan strategis antara Moskow dan Havana di tengah dinamika geopolitik yang kompleks dan embargo ekonomi yang terus menekan Kuba. Dukungan Rusia ke Kuba mencerminkan upaya memperkuat solidaritas antar negara yang selama ini menjadi lawan kebijakan hegemonik AS di berbagai wilayah strategis.

Exit mobile version