Setelah hampir empat tahun konflik, Rusia dan Ukraina kembali duduk bersama di meja negosiasi untuk mencari solusi damai. Pertemuan ini berlangsung di Jenewa, Swiss, pada 17 Februari 2026 dan dimediasi oleh Amerika Serikat (AS).
Pertemuan tersebut merupakan lanjutan dari upaya perdamaian yang digelar hanya sepekan sebelum peringatan empat tahun invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina yang dimulai pada Februari 2022. Meski begitu, harapan tercapainya terobosan dalam negosiasi kali ini masih dianggap kecil.
Delegasi dan Mediator dalam Negosiasi
Ukraina mengutus Rustem Umerov sebagai ketua delegasi resminya. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengirim dua perwakilan resmi, yaitu Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantunya. AS mengambil peran aktif sebagai mediator dengan menetapkan tenggat waktu penyelesaian konflik pada Juni 2026.
Namun kedua pihak, Rusia dan Ukraina, masih menunjukkan sikap mempertahankan posisi masing-masing. Mereka belum siap mengalah terutama dalam isu-isu kunci seperti status wilayah teritorial dan jaminan keamanan pascaperang.
Isu Utama dalam Pembicaraan
Salah satu masalah sentral adalah penguasaan wilayah yang mencapai hampir 20% dari luas Ukraina yang diduduki atau menjadi target Rusia. Ukraina menuntut pengembalian wilayah tersebut serta jaminan keamanan yang kuat setelah konflik berakhir. Dukungan keamanan ini termasuk perlindungan dari kemungkinan invasi ulang dari Rusia.
Selain itu, pembahasan juga mencakup isu-isu kemanusiaan yang sangat penting bagi rakyat Ukraina yang terdampak perang. Rustem Umerov menyatakan bahwa Ukraina akan bekerja sama dalam negosiasi, namun tanpa ekspektasi yang berlebihan.
Kondisi Medan Perang Saat Ini
Di lapangan, pasukan Ukraina menghadapi kondisi sulit. Mereka kekurangan personel dan harus berhadapan dengan kekuatan Rusia yang secara jumlah dan perlengkapan lebih unggul di berbagai titik sepanjang garis depan. Konflik senjata masih terus berlangsung meskipun ada upaya negosiasi damai.
Warga sipil Ukraina pun mengalami penderitaan akibat serangan udara Rusia yang masih terjadi. Serangan ini menyebabkan kerusakan fasilitas infrastruktur penting, termasuk pemadaman listrik, dan menghancurkan banyak bangunan tempat tinggal. Kondisi ini memperburuk situasi kemanusiaan di negara tersebut.
Meskipun pembicaraan berlangsung dengan harapan kecil akan kesepakatan cepat, langkah diplomasi ini tetap menjadi titik awal yang penting. Dialog antar kedua negara bisa membuka jalan menuju penurunan eskalasi konflik dan mengupayakan perdamaian yang langgeng. Negosiasi di Jenewa ini diharapkan dapat menjadi momentum bagi dunia internasional untuk terus mendukung proses rekonsiliasi antara Rusia dan Ukraina.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com




