Drone Serang Wilayah Kordofan Sudan: Ribuan Warga Sipil Tewas dan Bantuan Kemanusiaan Terhenti di Tengah Perang yang Makin Mematikan

Serangan drone di wilayah Kordofan, Sudan, telah menyebabkan kerugian signifikan bagi warga sipil dan menghambat operasi bantuan kemanusiaan. Peperangan yang telah berlangsung hampir tiga tahun ini makin ganas, dengan setidaknya 77 orang tewas dan puluhan lainnya terluka akibat serangan yang kebanyakan dilakukan oleh Pasukan Dukungan Cepat (RSF), menurut Sudan Doctors Network.

Konflik antara RSF dan militer Sudan meletus menjadi perang besar sejak April tahun lalu. Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan setidaknya 40.000 orang telah meninggal dan 12 juta lainnya mengungsi. Angka sebenarnya diyakini jauh lebih tinggi karena pertempuran terjadi di area yang luas dan terpencil sehingga akses ke lokasi sangat terbatas.

Peningkatan Serangan Drone di Kordofan

Militer Sudan meningkatkan penggunaan drone dan serangan udara di Kordofan seiring konflik bergeser ke wilayah barat. Kordofan kini menjadi "teater operasi utama," kata Jalale Getachew Birru, analis senior di Armed Conflict Location & Event Data (ACLED). Dua pekan lalu, militer menyatakan berhasil mematahkan pengepungan RSF di Kadugli dan kota tetangga Dilling, meski pengepungan belum sepenuhnya dibuka.

Warga seperti Walid Mohamed di Kadugli melaporkan bahwa meskipun koridor logistik telah dibuka sehingga ketersediaan makanan dan obat meningkat, serangan drone RSF nyaris terjadi setiap hari. Sasaran serangan meliputi rumah sakit, pasar, dan kawasan permukiman. Omran Ahmed dari Dilling menambahkan bahwa serangan tersebut makin menumbuhkan rasa takut dan mengorbankan banyak warga sipil.

Dampak Serangan Terhadap Operasi Bantuan Kemanusiaan

Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB, Volker Türk, memperingatkan bahwa serangan drone menewaskan lebih dari 50 warga sipil dalam dua hari saja pekan ini. Türk mengutuk keras serangan pada fasilitas sipil seperti pasar, sekolah, dan rumah sakit. Juru bicara PBB, Stéphane Dujarric, menyatakan bukti menunjukkan kedua pihak konflik, baik militer maupun RSF, menggunakan drone melawan sasaran sipil.

Meskipun militer menyatakan tidak membidik infrastruktur sipil, kondisi lapangan tetap berbahaya. Konvoi bantuan PBB untuk lebih dari 130.000 orang baru-baru ini berhasil mencapai Dilling dan Kadugli setelah tiga bulan terhenti. Namun, kekhawatiran terkait eskalasi kekerasan tetap tinggi. Mathilde Vu dari Norwegian Refugee Council menyoroti keprihatinan besar atas serangan drone yang ‘tidak diskriminatif’ serta dampaknya terhadap kelangsungan hidup warga.

Peralihan Front Perang di Kordofan

Pergerakan front konflik kini difokuskan di Kordofan, di mana militer berusaha membuka jalur ke wilayah Darfur. Kota El-Fasher di Darfur Utara yang pernah menjadi benteng militer jatuh ke tangan RSF bulan Oktober lalu. Jika direbut kembali, militer dapat menghidupkan kembali jalur suplai penting antara Kordofan dan Darfur. Sebaliknya, RSF berusaha menerobos keluar dari Kordofan menuju pusat negara dan ibu kota Khartoum.

Serangan udara dan drone terjadi terus-menerus, terutama di Kordofan Utara, yang menjadi wilayah dengan dampak sipil paling berat. Tahun lalu, tercatat 163 serangan udara dan drone di Sudan menewaskan 1.032 orang. Militer melakukan 83 serangan dengan korban 568 jiwa, sementara RSF melakukan 66 serangan dengan 288 korban jiwa, menurut data ACLED.

Faktor Lonjakan Penggunaan Drone

Peningkatan serangan drone dipicu beberapa faktor, termasuk akuisisi senjata baru oleh militer yang didukung oleh negara asing. Federico Donelli, dosen Hubungan Internasional, menyebutkan bahwa militer kini dapat melakukan serangan presisi seperti yang telah lama dilakukan RSF. Kedua belah pihak menghadapi kesulitan mempertahankan kekuatan pasukan di lapangan sehingga drone lebih dipilih untuk operasi di wilayah sengketa.

Kholood Khair, direktur Confluence Advisory, memperkirakan perang di Kordofan akan semakin intens dan mungkin meluas ke Darfur, terutama menuju El-Fasher yang pernah dilaporkan terjadi kejahatan perang. Ia memperingatkan bahwa kampanye pemboman berpotensi meningkat baik dari frekuensi maupun volume serangan di masa mendatang.

Keseluruhan situasi di Kordofan menggambarkan dampak serius konflik bersenjata yang melibatkan teknologi drone terhadap warga sipil dan upaya kemanusiaan. Serangan yang masif dan seringkali tak pandang bulu menyulitkan pengiriman bantuan serta memicu krisis kemanusiaan yang semakin buruk di wilayah yang sudah lama menjadi zona berkonflik.

Berita Terkait

Back to top button