India Tandatangani Kesepakatan Mineral Kritis dengan Brazil untuk Kurangi Ketergantungan Besar pada China

India dan Brazil resmi menandatangani kesepakatan penting dalam bidang mineral kritis dan logam tanah jarang. Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan India pada pasokan mineral dari China yang selama ini mendominasi industri global tersebut.

Presiden Brazil, Luiz Inacio Lula da Silva, bertemu dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi, di New Delhi untuk membahas peluang perdagangan dan investasi yang dapat diperkuat. Kesepakatan ini dianggap sebagai terobosan untuk memperkuat rantai pasok mineral kritis dan logam tanah jarang yang lebih tangguh.

China saat ini menguasai proses ekstraksi dan pengolahan mineral kritis secara global. Dalam beberapa bulan terakhir, China memperketat kontrol ekspor mineral tersebut, sementara Amerika Serikat berusaha memutus dominasi ini. Brazil menempati posisi kedua sebagai negara pemilik cadangan mineral kritis terbesar setelah China.

Sumber daya mineral Brazil digunakan dalam berbagai sektor teknologi termasuk kendaraan listrik, panel surya, smartphone, mesin jet, dan rudal. Presiden Lula menyatakan bahwa investasi dan kerja sama dalam energi terbarukan serta mineral kritis menjadi inti kesepakatan inovatif yang disepakati kedua negara.

Permintaan India terhadap bijih besi, salah satu komoditas utama Brazil yang menjadi produsen dan eksportir terbesar kedua setelah Australia, juga meningkat seiring pertumbuhan infrastruktur dan sektor industri di India. Ini menunjukan potensi besar untuk kerjasama bilateral yang berkelanjutan.

Menurut Rishabh Jain, pakar dari think tank Council on Energy, Environment and Water di New Delhi, ekspansi kerja sama India dengan Brazil melengkapi kemitraan serupa dengan Amerika Serikat, Prancis, dan Uni Eropa. Aliansi negara-negara Asia Selatan dan Global South lainnya dianggap krusial untuk diversifikasi akses sumber daya.

Poin Penting Kesepakatan Mineral Kritis India-Brazil:

  1. Fokus meningkatkan rantai pasok mineral kritis dan logam tanah jarang selain dari China.
  2. Memperkuat kerja sama dalam pengembangan energi terbarukan.
  3. Memanfaatkan cadangan mineral Brazil untuk kebutuhan teknologi canggih di India.
  4. Mendorong pertumbuhan perdagangan bilateral di sektor mineral dan industri terkait.

Selain kesepakatan mineral, India dan Brazil menandatangani sembilan nota kesepahaman lain di bidang digital hingga kesehatan. Perdana Menteri Modi menegaskan Brazil sebagai mitra dagang terbesar India di Amerika Latin dengan target nilai perdagangan mencapai 20 miliar dolar dalam lima tahun mendatang.

Modi menyatakan perdagangan antara India dan Brazil mencerminkan kepercayaan dan memperkuat suara negara-negara Global South secara kolektif. Menteri Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar, pun optimistis pembicaraan kedua pemimpin ini akan memberikan dinamika baru dalam hubungan kedua negara.

Data dari Observatory of Economic Complexity (OEC) menunjukkan pada tahun ini nilai ekspor India ke Brazil mencapai 7,23 miliar dolar, dengan produk utama adalah minyak bumi olahan. Sebaliknya, Brazil mengekspor sekitar 5,38 miliar dolar ke India, dipimpin oleh gula mentah.

Kesepakatan mineral kritis ini menunjukkan langkah strategis India untuk membangun kemitraan yang lebih beragam dan mandiri dalam pengadaan bahan baku teknologi tinggi. Sementara Brazil memperluas akses pasar dan investasi, memperkokoh posisinya dalam peta mineral global.

Dengan pendekatan ini, kedua negara diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pengaruh dominan China dan menciptakan sistem perdagangan yang lebih seimbang dan berkelanjutan.

Berita Terkait

Back to top button