Ketakutan akan konflik baru terus menyelimuti warga Tehran setelah perang berdurasi 12 hari antara Iran dan Israel tahun lalu. Warga seperti Hamid mengalami gangguan tidur karena kekhawatiran akan keselamatan keluarga dan masa depan anak cucunya yang masih muda.
Perang terjadi saat Iran bersiap melanjutkan pembicaraan dengan Amerika Serikat mengenai program nuklirnya. Serangan Israel yang didukung AS menargetkan situs nuklir Iran, memicu balasan melalui serangan drone dan rudal oleh Iran yang menewaskan ribuan orang di kedua belah pihak.
Ancaman dan Ketidakpastian Diplomasi
Iran menegaskan pembicaraan harus terbatas pada isu nuklir, meskipun AS mendorong agar perundingan juga mencakup program rudal balistik dan dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata regional. Presiden AS memperingatkan "konsekuensi buruk" jika kesepakatan tidak tercapai dalam jangka waktu tertentu, menambah ketegangan yang sudah tinggi.
Warga Tehran seperti Hanieh dan Mina Ahmadvand semakin waspada dan mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan serangan militer baru. Hanieh menyimpan persediaan penting di rumahnya, sedangkan Ahmadvand membeli bahan makanan kaleng dan perlengkapan cadangan untuk menghadapi situasi darurat.
Pelajaran dari Perang 12 Hari
Pengalaman perang lalu membuat warga Tehran melindungi rumah mereka dengan cara-cara praktis, seperti menempelkan lakban pada jendela untuk mengantisipasi ledakan. Pemimpin tertinggi Iran memperingatkan bahwa serangan militer terhadap negaranya akan memicu perang regional yang lebih luas.
Iran secara terbuka berjanji akan membalas serangan dengan menargetkan pangkalan AS dan Israel di kawasan, seperti yang terjadi saat serangan balasan ke pangkalan AS di Qatar selama perang sebelumnya. Kondisi ini membuat warga terus memantau situasi politik dan militer secara intens.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Kecemasan akan perang bersamaan dengan krisis ekonomi yang menekan masyarakat. Nilai tukar mata uang rial terus merosot tajam, dengan euro dan dolar yang masing-masing melampaui 1,9 juta dan 1,6 juta rial. Harga kebutuhan pokok naik drastis, meningkatkan tekanan hidup bagi warga.
Meskipun demikian, aktivitas ekonomi di Tehran tetap berjalan dengan pertokoan dan kantor yang buka, meski kafe dan restoran ditutup selama bulan Ramadan. Rasa ketidakpastian dan ketegangan melingkupi kehidupan sehari-hari maupun prospek masa depan warga ibu kota.
Warga Tehran kini hidup dalam ketidakpastian yang mencekam akibat tekanan politik dan ancaman militer. Persiapan dan kewaspadaan menjadi bagian dari keseharian mereka, sembari mengharapkan solusi diplomatik yang dapat meredakan ketegangan di kawasan.





