Warga Afghanistan berduka atas kematian penduduk desa yang menjadi korban serangan udara Pakistan. Dalam pengeboman yang terjadi semalam, sedikitnya 18 orang tewas dalam serangan militer Pakistan yang menargetkan kelompok militan di wilayah perbatasan.
Menurut keterangan warga setempat, rumah-rumah di distrik Bihsud hancur total akibat serangan tersebut. Nezakat, seorang petani berusia 35 tahun, menyatakan bahwa keluarganya termasuk ayah dan anak-anaknya menjadi korban tewas dalam insiden itu.
Pihak militer Pakistan mengklaim telah menyerang tujuh sasaran di daerah perbatasan untuk menumpas kelompok militan yang berbasis di Afghanistan. Serangan tersebut dijelaskan sebagai balasan atas serangkaian ledakan bunuh diri yang terjadi di Pakistan baru-baru ini.
Kementerian Informasi dan Penyiaran Pakistan menyebut militan Taliban Pakistan dan afiliasi kelompok Negara Islam menjadi target utama operasi militer tersebut. Sementara itu, juru bicara pemerintah Afghanistan, Zabihullah Mujahid, mengecam tindakan itu sebagai serangan kriminal yang menghancurkan rumah warga sipil.
Warga dan petugas setempat di Bihsud dengan sigap mencari korban yang terjebak di reruntuhan menggunakan alat penggalian sederhana. Amin Gul Amin, tetangga korban, menyebut sebagian besar warga desa adalah keluarga dan kerabat yang tak bersalah.
Polisi Nangarhar melaporkan bahwa serangan udara berlangsung sejak tengah malam dan mengenai tiga distrik. Sebanyak 23 anggota satu keluarga terdampak, dengan 18 orang tewas dan lima lainnya mengalami luka-luka akibat runtuhan.
Selain daerah Bihsud, dua orang terluka di wilayah Nangarhar lainnya akibat serangan udara. Di Paktika, sebuah rumah tamu juga hancur, tetapi belum ada konfirmasi korban jiwa. Kementerian Pertahanan Afghanistan berjanji akan memberikan respons yang “tepat dan terukur” terhadap serangan ini.
Konflik antara Afghanistan dan Pakistan yang semakin memburuk terjadi sejak pengambilalihan pemerintahan Taliban di Afghanistan. Catatan misi PBB menunjukkan bahwa antara Oktober hingga Desember, militer Pakistan menyebabkan 70 kematian warga sipil Afghanistan.
Upaya gencatan senjata dan negosiasi melalui mediasi Qatar dan Turki gagal menghasilkan kesepakatan permanen. Intervensi Arab Saudi baru-baru ini berhasil membebaskan tiga tentara Pakistan yang ditahan di Afghanistan, namun ketegangan tetap berlangsung.
Sejak pertikaian meningkat, sebagian besar perbatasan kedua negara ditutup, turut mempersulit kehidupan masyarakat di masing-masing daerah. Pakistan menuduh pemerintah Taliban tidak mengambil langkah tegas terhadap kelompok militan yang menggunakan wilayah Afghanistan untuk melakukan serangan ke negara mereka.
Pemerintah Afghanistan membantah tuduhan tersebut dan menyatakan tidak memberikan perlindungan pada militan. Serangan udara Pakistan dipicu oleh ledakan bunuh diri di sebuah masjid Syiah di Islamabad dua minggu lalu, serta serangan serupa di wilayah barat laut Pakistan.
Kelompok Negara Islam (IS) mengaku bertanggung jawab atas ledakan masjid yang menewaskan setidaknya 40 orang dan melukai lebih dari 160 korban. Serangan ini menjadi yang terparah di Islamabad sejak tahun 2008.
Selain itu, cabang regional IS yang dikenal sebagai Islamic State-Khorasan juga mengklaim serangan bom bunuh diri di sebuah restoran Kabul bulan lalu. Insiden tersebut menambah ketegangan antara kedua negara dan memperumit upaya stabilisasi keamanan di wilayah perbatasan.





