Krisis Kesehatan Mengerikan Mengancam Desa Terpencil Greenland Tanpa Akses Darurat dan Dokter Memadai

Krisis layanan kesehatan mulai mengancam desa-desa terpencil di Greenland, terutama karena keterbatasan akses dan fasilitas medis yang minim. Misalnya, di pemukiman Kapisillit yang hanya dihuni oleh 35 orang, tidak tersedia alat defibrillator. Kondisi ini berpotensi berbahaya, karena bantuan medis hanya bisa datang dengan kapal selama dua jam atau helikopter, yang berarti penanganan darurat bisa terlambat.

Ketua desa Kapisillit, Heidi Nolso, menegaskan bahwa jika terjadi henti jantung, bantuan datang terlambat sehingga nyawa bisa terancam. Nolso kini berjuang keras agar alat medis vital tersebut bisa tersedia di desa. Situasi ini mencerminkan kesulitan sistem kesehatan Greenland yang tersebar di wilayah luas dengan populasi kecil, sekitar 57.000 orang.

Tantangan utama dalam akses layanan kesehatan

Greenland memiliki lima rumah sakit utama yang tersebar di wilayahnya. Rumah sakit di ibukota Nuuk berfungsi melayani pasien dari seluruh wilayah. Namun, akses menuju fasilitas ini sangat sulit bagi warga desa kecil seperti Kapisillit, apalagi dengan biaya perjalanan yang mahal. Perjalanan mingguan ke Nuuk menggunakan kapal menelan biaya lebih dari $100, belum termasuk penginapan yang berada di kisaran harga serupa.

Selain itu, kantor medis di Kapisillit kerap kosong karena kekurangan staf. Akibatnya, pemeriksaan kesehatan rutin menjadi jarang dilakukan. Hal ini menyebabkan penyakit serius seperti kanker kerap terlambat terdeteksi, padahal kanker adalah penyebab kematian utama di Greenland.

Keterbatasan tenaga kesehatan dan peralatan medis

Salah satu hambatan utama adalah sulitnya merekrut dan mempertahankan tenaga medis yang berkualitas. Persyaratan menguasai bahasa Denmark menjadi kendala bagi dokter asing yang ingin bekerja di Greenland. Kondisi ini diperparah oleh migrasi penduduk muda ke kota, sehingga desa-desa terpencil seperti Kapisillit didominasi oleh warga lanjut usia.

Menteri Kesehatan Greenland, Anna Wangenheim, mengakui bahwa sistem kesehatan di sana mengalami backlog signifikan senilai sekitar satu miliar kroner (setara dengan $158 juta). Ia menegaskan perlunya pembangunan kapasitas jangka panjang, layanan kesehatan lokal yang lebih kuat, serta investasi untuk mengurangi ketimpangan dengan Denmark.

Dampak rendahnya layanan kesehatan terhadap warga

Statistik resmi menunjukkan harapan hidup di Greenland lebih rendah dibandingkan Denmark. Rata-rata pria berumur 69,6 tahun dan wanita 73,5 tahun, jauh di bawah rata-rata harapan hidup orang Denmark yang 10 tahun lebih lama. Dalam kondisi seperti ini, warga desa kecil berusaha melakukan pencegahan penyakit secara mandiri.

Contohnya, vaksinasi rabies sangat minim di masyarakat Kapisillit. Sebagai gantinya, warga membawa senjata untuk memburu hewan liar yang menunjukkan perilaku abnormal, sebagai upaya melindungi diri dari risiko rabies.

Respons pemerintah dan upaya perbaikan

Usulan pengiriman kapal rumah sakit dari Amerika Serikat pernah diajukan untuk mengatasi masalah kesehatan di Greenland. Namun, pemerintah Greenland dan Denmark menolak gagasan tersebut, menekankan sistem layanan kesehatan publik yang sudah berjalan. Menteri Wangenheim menyebutkan bahwa problem struktural tidak dapat diselesaikan dengan inisiatif simbolis dari luar negeri.

Meski begitu, pemerintah Greenland telah mengamankan pendanaan untuk peningkatan sistem kesehatan dan mengklaim bahwa pekerjaan perbaikan telah berjalan dengan baik. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat layanan di wilayah terpencil dan menambah akses bagi masyarakat yang selama ini kesulitan mendapatkan perawatan memadai.

Daftar tantangan utama layanan kesehatan di desa terpencil Greenland:

  1. Keterbatasan fasilitas medis vital seperti defibrillator di pemukiman kecil
  2. Akses geografis yang sulit dan mahal menuju rumah sakit besar
  3. Kekurangan tenaga medis, terutama dokter yang menguasai bahasa Denmark
  4. Migrasi penduduk muda mengurangi ketersediaan tenaga kerja lokal
  5. Penemuan penyakit serius yang terlambat akibat minimnya pemeriksaan rutin

Desa seperti Kapisillit mencerminkan realitas kritis yang dihadapi oleh banyak komunitas terpencil di Greenland. Dengan dukungan infrastruktur dan tenaga kesehatan yang memadai, risiko krisis layanan kesehatan di wilayah ini dapat diminimalisasi, sehingga warga bisa mendapatkan perawatan yang layak tanpa harus menempuh perjalanan jauh.

Exit mobile version