Duterte Diduga Langsung Otak Pembunuhan Massal dalam Perang Narkoba Filipina saat Sidang ICC Dibuka

Pengadilan Kejahatan Internasional (ICC) mulai membuka sidang kasus yang menjerat mantan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, terkait dugaan pembunuhan di luar proses hukum dalam kampanye "perang melawan narkoba". ICC menyatakan bahwa Duterte secara pribadi memberikan otorisasi atas pembunuhan tersebut dan memilih langsung sebagian korban.

Deputi Jaksa ICC, Mame Mandiaye Niang, menyampaikan bahwa sidang selama seminggu ini merupakan proses konfirmasi dakwaan dan merupakan pengingat bahwa semua orang, termasuk mereka yang berkuasa, tidak kebal terhadap hukum. Sidang ini akan menentukan apakah Duterte akan diadili secara penuh dalam kasus tersebut.

Peran Duterte dalam Dugaan Pelanggaran HAM
Niang menegaskan Duterte memiliki peranan penting dalam serangkaian pembunuhan di luar hukum yang menargetkan pengedar dan pengguna narkoba, baik saat menjabat wali kota Davao City maupun ketika menjadi presiden. Ia menuduh Duterte "mengotorisasi pembunuhan dan memilih secara pribadi beberapa korban".

Jumlah dakwaan yang dihadapi Duterte meliputi tiga tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan, dengan bukti keterlibatannya dalam minimal 76 kasus pembunuhan yang terjadi antara 2013 hingga 2018. Namun, jaksa menilai angka tersebut hanyalah sebagian kecil dari jumlah sebenarnya, yang diperkirakan mencapai ribuan kasus.

Respons dari Tim Pembela Duterte
Kuasa hukum Duterte, Nicholas Kaufman, membantah tuduhan yang ditujukan kliennya sebagai "sangat salah dan bermotif politik". Kaufman menyatakan bahwa Duterte tetap yakin dengan warisannya dan mempertahankan ketidakbersalahannya secara total.

Kaufman mengakui bahwa Duterte adalah sosok yang unik dengan cara yang keras dan penuh retorika, tetapi menuduh pihak jaksa memilih secara selektif ucapan-ucapan Duterte yang menunjukkan pentingnya menaati hukum.

Reaksi Masyarakat dan Persidangan
Di luar gedung pengadilan, demonstrasi muncul dari berbagai kelompok dengan pandangan yang berbeda. Sebagian masyarakat menyambut proses hukum ini sebagai momentum bersejarah bagi para korban kekerasan. Seorang peneliti, Patricia Enriquez, menyebutnya sebagai momen yang penuh harapan sekaligus menyakitkan.

Namun, ada pula yang menilai tindakan persidangan ini sebagai penghinaan terhadap kedaulatan Filipina. Seorang koki bernama Aldo Villarta menganggapnya sebagai "tamparan" dan menilai bahwa hak asasi Duterte dilanggar dengan penahanan yang berlangsung.

Rincian Tuduhan Pembunuhan
Duterte menghadapi tiga jenis dakwaan, yaitu:

  1. Dugaan keterlibatan dalam 19 pembunuhan antara 2013 dan 2016 saat menjadi wali kota Davao City.
  2. Dugaan keterlibatan dalam 14 pembunuhan terhadap "Target Bernilai Tinggi" selama periode 2016-2017 sebagai presiden.
  3. Dugaan keterlibatan dalam 43 pembunuhan dalam operasi pembersihan terhadap pengguna atau pengedar narkoba dari tingkat bawah pada periode 2016-2018.

Proses dan Kondisi Duterte dalam Sidang
Setelah penangkapan di Manila dan pembawaan ke Belanda, Duterte kini ditahan di penjara khusus ICC di Scheveningen. Selama sidang awal, kondisi Duterte terlihat lemah dan kurang berbicara. Namun, ia tidak hadir dalam sidang konfirmasi dakwaan kali ini setelah permohonan pembela dikabulkan, meskipun ia dinilai cukup sehat untuk mengikuti proses.

Di Filipina, sekitar 60 kerabat korban yang sebagian besar adalah perempuan paruh baya dan lansia, berkumpul di sebuah pusat komunitas di bawah pengelolaan gereja Katolik untuk menyaksikan persidangan melalui siaran televisi. Mereka menyatakan kekecewaan atas ketidakhadiran Duterte yang dinilai sebagai sikap menghindar.

Kasus ini menjadi sorotan internasional karena menguji keberhasilan lembaga hukum dunia dalam menangani dugaan pelanggaran HAM oleh pejabat tinggi negara. Keputusan hakim dalam 60 hari ke depan akan menentukan apakah proses pengadilan penuh akan diteruskan terhadap Duterte.

Berita Terkait

Back to top button