China Hadapi Krisis Komando dan Kesiapan Militer Akibat Purge Korupsi Besar-besaran yang Mengguncang Struktur Tertinggi

China sedang menjalani pembersihan besar-besaran terhadap korupsi militer yang berdampak serius pada struktur komando dan kesiapan angkatan bersenjatanya. Studi dari International Institute for Strategic Studies (IISS) mengungkapkan bahwa operasi militer China saat ini mengalami kekosongan peran penting yang mengganggu efektivitas komando.

Pembersihan ini melibatkan banyak elemen penting mulai dari Komisi Militer Pusat (CMC) sampai operasi pembelian dan pengembangan senjata. Meskipun tindakan ini masih berlangsung dan belum selesai, dampaknya sudah dirasakan secara nyata di berbagai level militer China.

Dampak pada Struktur Komando Militer
IISS menyebutkan bahwa hingga kekosongan jabatan itu terisi, Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) beroperasi dengan kekurangan serius dalam struktur komandonya. Hal ini terjadi setelah dua jenderal tertinggi China—Zhang Youxia dan He Weidong—terlibat dalam penyelidikan disipliner yang merupakan bagian dari pembersihan militer terbesar dalam beberapa dekade terakhir.

Akibatnya, komisi militer tertinggi China yang biasanya beranggotakan tujuh orang kini hanya tersisa dua orang, yaitu Ketua CMC Xi Jinping dan Wakil Ketua baru Zhang Shengmin. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya pengambilan keputusan strategis.

Pengaruh Terhadap Kesiapan dan Moral
Selain kelemahan komando, proses pembersihan berpotensi mempengaruhi kesiapan operasional dan moral anggota militer. Jika promosi personel didasarkan pada koneksi politik, serta terdapat masalah dalam kontrak dan pengadaan senjata, kesiapan tempur angkatan bersenjata bisa menurun.

Namun, IISS menilai bahwa dampak ini bersifat sementara karena China terus melanjutkan modernisasi militernya secara agresif. Investasi dan pengembangan teknologi militer tetap menjadi prioritas utama pemerintah, meskipun ada gangguan internal.

Proyeksi Militer di Kawasan Indo-Pasifik
Laporan IISS juga mencatat bahwa China memperluas proyeksi kekuatan militernya di kawasan Indo-Pasifik untuk memperkuat klaim teritorial dan kebijakan negaranya. Penempatan pasukan di sekitar Taiwan dijadwalkan meningkat pada tahun 2025 sebagai bagian dari strategi tersebut.

Ketua CMC Xi Jinping dalam pidatonya bulan ini menyatakan bahwa pemberantasan korupsi merupakan langkah revolusioner demi menghadapi risiko dan tantangan. Ia menegaskan pentingnya pendidikan politik dan reformasi mendalam dalam Tentara Pembebasan Rakyat untuk menjaga stabilitas dan kesatuan militer.

Peningkatan Anggaran Militer yang Konsisten
Dalam kondisi pembersihan dan tantangan internal, anggaran militer China terus tumbuh cepat di kawasan Asia. Data IISS menunjukkan porsi anggaran pertahanan China mencapai hampir 44% dari total belanja militer regional pada 2025, naik signifikan dari rata-rata 37% antara 2010 hingga 2020.

Peningkatan anggaran ini menegaskan komitmen China dalam memperkuat militernya sebagai kekuatan utama di Asia dan global. Meski menghadapi gangguan dalam struktur komando, modernisasi peralatan dan kesiapan militer tetap berlangsung secara intensif dan tercatat dalam langkah strategis negara tersebut.

Pembersihan militer yang sedang berlangsung jelas membawa risiko jangka pendek dalam operasional angkatan bersenjata China. Namun, fokus berkelanjutan pada modernisasi dan ekspansi militer menandakan bahwa pemerintah berupaya menjaga pengaruh dan kesiapan angkatan bersenjata demi kepentingan nasional dan regional.

Exit mobile version