Iran dan AS Bersiap Gelar Pembicaraan Nuklir Kritis Setelah Dekade Ketegangan Memuncak dan Perang Terbuka Dimulai

Perundingan baru antara Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada Kamis mendatang, berfokus pada program nuklir Tehran. Pertemuan ini terjadi di tengah peningkatan kekuatan militer AS di Timur Tengah, sebagai tekanan agar Iran mau bernegosiasi kembali.

Sejak lama, ketegangan terkait program nuklir Iran telah menimbulkan kekhawatiran internasional. Berikut adalah rangkaian peristiwa penting dalam konflik yang membentang puluhan tahun ini.

Awal Mula Program Nuklir Iran

Pada tahun 1967, Iran memperoleh Reaktor Riset Tehran dari Amerika Serikat melalui program “Atoms for Peace”. Tahun 1979 menjadi titik balik saat Revolusi Islam menggantikan rezim Shah Mohammad Reza Pahlavi, dan program nuklir Iran sempat berhenti akibat tekanan global. Pada Agustus 2002, keberadaan fasilitas pengayaan uranium rahasia di Natanz terungkap oleh intelijen Barat dan oposisi Iran.

Perundingan nuklir awal dimulai pada 2003 dengan keterlibatan Inggris, Perancis, dan Jerman. Iran sempat menangguhkan pengayaan uranium Oktober tahun itu. Namun, setelah terpilihnya Presiden Mahmoud Ahmadinejad pada 2006, Iran mengumumkan kelanjutan pengayaan uranium, yang kemudian membuat negara-negara Barat keluar dari pembicaraan.

Periode Krisis dan Perjanjian Nuklir

Pemilu presiden 2009 membawa kontroversi dan unjuk rasa besar-besaran di Iran. Pada Oktober 2009, komunikasi rahasia antara Iran dan AS dibuka di Oman, dan negosiasi langsung berlangsung pertama kali di 2012. Puncaknya, pada Juli 2015, Iran dan negara-negara besar dunia menyepakati perjanjian yang membatasi pengayaan uranium dengan imbalan penghapusan sanksi ekonomi.

Perjanjian ini berantakan pada Mei 2018 ketika Presiden Donald Trump menarik AS dari kesepakatan. Ia menganggap kesepakatan itu sebagai “kesepakatan terburuk” dan menginginkan pembicaraan baru termasuk soal pengembangan rudal Iran dan dukungan terhadap kelompok militan.

Konflik Meningkat dan Serangan Militer

Seiring mundurnya Iran dari perjanjian mulai Mei 2019, berbagai serangan yang diduga melibatkan Iran terjadi di wilayah regional. Januari 2020 menandai eskalasi serius saat jenderal Qassem Soleimani dibunuh oleh drone AS di Baghdad. Balasan Iran meliputi serangan rudal yang menyebabkan ribuan tentara AS mengalami cedera otak traumatis.

Insiden keliru menembak jatuh pesawat penumpang Ukraina di bandara Tehran juga terjadi saat ketegangan tinggi. Serangkaian sabotase, termasuk ledakan fasilitas pengayaan Natanz, diduga dilakukan oleh Israel selama 2020-2021.

Ketegangan Memuncak di Timur Tengah

Konflik antara Israel dan kelompok bersenjata seperti Hamas dan Hezbollah terus memanas. Iran memainkan peran kunci dalam mendukung kelompok-kelompok tersebut secara militer dan politik. Tahun 2023-2024, serangan rudal dan drone terhadap Israel meningkat pesat, memicu intervensi militer terbuka dan serangan udara balasan dari kedua belah pihak.

Selain itu, pertempuran di Laut Merah dan serangan terhadap jalur pelayaran internasional yang didukung kelompok Houthi Yaman memperkuat kekhawatiran regional, yang dinaungi oleh Iran.

Upaya Diplomasi di Tengah Ketegangan

Setelah kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih untuk masa jabatan kedua pada awal 2025, upaya diplomasi kembali digenjot. Meskipun pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, awalnya menolak pembicaraan langsung, berbagai pertemuan dan negosiasi tidak langsung berlangsung di Oman dan Roma. Pada Mei 2025, negosiasi mencatat kemajuan sebagian meskipun belum mencapai kesepakatan final.

Namun, pada Juni 2025, ketidakpatuhan Iran terhadap kewajiban nuklirnya memicu konflik bersenjata antara Israel dan Iran. Dalam dua minggu, Israel melancarkan serangan berat, diikuti oleh serangan udara AS ke situs nuklir Iran. Serangan balasan Iran terhadap pasukan AS di wilayah Teluk juga tidak terelakkan.

Sanksi dan Protes Dalam Negeri

Setelah perang dan konflik, tekanan politik dan ekonomi di Iran semakin berat. Uni Eropa dan PBB melanjutkan ancaman serta penerapan sanksi “snapback” pada Iran karena kegagalannya mematuhi resolusi. Pada akhir 2025 dan awal 2026, gelombang protes besar pecah di dalam negeri akibat nilai tukar rial yang jatuh ke rekor terendah dan inflasi tinggi.

Respon keras pemerintah termasuk pemblokiran internet dan penindasan brutal terhadap demonstran menyebabkan ribuan tewas dan puluhan ribu ditahan. Di sisi lain, AS meningkatkan kehadiran militernya, termasuk pengiriman kapal induk dan jet tempur, serta bentrokan terhadap drone Iran di Laut Arab.

Jadwal Perundingan Terbaru

Dalam upaya meredakan ketegangan, Iran dan AS kembali menggelar putaran perundingan pada Februari 2026 di Oman dan Jenewa. Pertemuan ini difasilitasi oleh utusan militer AS dan diplomat internasional dengan harapan bisa mencegah konflik lebih lanjut dan menetapkan aturan main baru terkait program nuklir Iran.

Membaca rangkaian peristiwa ini menjelaskan bahwa ketegangan nuklir Iran bukan hanya masalah teknologi, melainkan juga pembelajaran politik, keamanan regional, serta rivalitas geopolitik antara kekuatan besar dunia. Perundingan yang akan digelar menjadi titik penting dalam menentukan arah stabilitas Timur Tengah dan keamanan global di masa mendatang.

Berita Terkait

Back to top button