Pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran terkait program nuklir dijadwalkan berlanjut pada Kamis, 26 Februari 2026 di Jenewa. Perundingan ini menunjukkan adanya “dorongan positif” untuk mencapai kesepakatan yang dapat meredakan ketegangan antara kedua negara.
Presiden Donald Trump mulai menunjukkan rasa gerah atas sikap Iran yang belum menyerah pada tekanan AS. Utusan Washington, Steve Witkoff, secara terbuka mempertanyakan mengapa Teheran belum menunjukkan tanda-tanda mundur. “Dia penasaran mengapa mereka belum… Saya tidak ingin menggunakan kata ‘menyerah’, tetapi mengapa mereka belum menyerah,” ujar Witkoff dalam wawancara di Fox News.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, merespons dengan menyatakan bahwa negosiasi masih berjalan dan perincian kesepakatan mulai disusun. Araghchi menegaskan bahwa Iran tetap siap membela diri jika diserang. “Jika AS menyerang kami, maka kami memiliki hak penuh untuk membela diri,” katanya, menyinggung potensi target Amerika di kawasan.
Salah satu isu utama dalam perundingan adalah batas pengayaan uranium. Pemerintahan Trump terbuka mengenai kemungkinan memberikan ruang bagi Iran untuk melakukan pengayaan nuklir secara terbatas sebagai langkah simbolis. Namun, syaratnya Iran harus menutup setiap celah yang memungkinkan pembuatan senjata nuklir.
Menurut seorang pejabat senior Iran, pihaknya mempertimbangkan berbagai langkah strategis yang mencakup:
1. Mengekspor sebagian persediaan Highly Enriched Uranium (HEU).
2. Mengurangi tingkat kemurnian HEU yang dimiliki.
3. Membentuk konsorsium regional untuk pengayaan uranium.
Langkah-langkah ini diharapkan menjadi titik tengah yang bisa mempercepat tercapainya kesepakatan yang saling menguntungkan. Iran juga menuntut agar haknya melakukan pengayaan nuklir secara damai diakui secara internasional.
Di sektor ekonomi, Iran tetap teguh tidak ingin menyerahkan kendali atas sumber daya minyak dan mineralnya. Meski begitu, Teheran membuka peluang bagi perusahaan-perusahaan AS untuk berpartisipasi sebagai kontraktor dalam eksplorasi minyak dan gas. Ini memberi sinyal adanya ruang untuk kerja sama ekonomi tanpa mengorbankan kedaulatan nasional.
Situasi ini menggambarkan tarik ulur antara tekanan keras dari AS dan aspirasi Iran untuk mempertahankan posisi strategisnya. Meski ancaman militer masih membayang, kedua belah pihak tampak berusaha menjaga jalur diplomasi terbuka sebagai opsi utama.
Perkembangan pembicaraan di Jenewa ini akan menentukan nasib hubungan AS-Iran dalam waktu dekat. Semua pihak kini menunggu kelanjutan negosiasi dengan harapan dapat menghindari konflik terbuka yang berpotensi berdampak luas.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com




