Germany’s Merz Tiba di China untuk Bahas Perdagangan dan Keamanan di Tengah Persaingan Sistemik dan Tekanan Global

Kanselir Jerman Friedrich Merz memulai kunjungan resminya ke China, mitra dagang terbesar Jerman, pada Rabu. Kunjungan ini menjadi momentum penting di tengah tantangan ekonomi Eropa dan ketegangan global akibat kebijakan proteksionis AS selama masa lalu.

Dalam pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping, Merz menegaskan pentingnya menjaga hubungan ekonomi yang telah berjalan puluhan tahun. Selain aspek perdagangan, ia menyoroti kebutuhan untuk membahas isu-isu keamanan regional, termasuk mendesak China agar memberikan tekanan pada Rusia untuk menghentikan perang di Ukraina.

China kini merupakan kekuatan ekonomi kedua terbesar dunia dan pada tahun lalu menggantikan AS sebagai mitra dagang utama Jerman. Namun, Berlin tetap melihat China sebagai pesaing sistemik, mengingat perbedaan nilai politik dan kebijakan dalam berbagai bidang.

Pertemuan Tingkat Tinggi dan Kerjasama Ekonomi

Setelah tiba di Beijing, Merz langsung mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri Li Qiang di Balai Rakyat Besar. Keduanya menandatangani sejumlah kesepakatan dan memorandum, termasuk kerja sama di bidang perubahan iklim dan ketahanan pangan. Merz menegaskan perlunya hubungan yang lebih dalam namun juga adil serta transparan.

Li dalam sambutannya menyoroti tren proteksionisme dan unilateralisme yang tengah meningkat di beberapa negara, tanpa menyebut secara langsung AS. Ia menekankan bahwa kedua ekonomi besar dunia perlu bekerja sama untuk menjaga multilateralisme dan perdagangan bebas.

Tantangan dan Persaingan Sistemik

China semakin menonjolkan diri di panggung global dengan menguatkan militer dan menegaskan klaim atas Taiwan. Langkah pembatasan ekspor bahan penting, seperti chip mikroelektronika dan mineral kritis, juga menjadi sorotan. Contohnya, larangan sementara ekspor chip Nexperia ke Eropa terjadi akibat sengketa dengan pemerintah Belanda.

Para pelaku bisnis Eropa mengeluhkan praktik subsidi pemerintah China dan nilai tukar yang rendah, yang menyebabkan produk murah membanjiri pasar Eropa. Tahun lalu, defisit perdagangan Jerman dengan China mencapai rekor tertinggi sebesar 89 miliar euro.

Harapan dari Dunia Bisnis Jerman

Merz membawa rombongan bisnis besar, termasuk eksekutif dari Volkswagen, BMW, dan Mercedes. Mereka mengharapkan pembahasan serius terkait masalah kelebihan kapasitas produksi, distorsi persaingan, dan kontrol ekspor bahan baku penting.

Federasi Industri Jerman mengajak Merz mendorong reformasi struktural di China untuk memperkuat permintaan domestik dan menciptakan persaingan yang lebih adil. Tanpa perubahan, potensi konflik dagang baru dengan Uni Eropa dinilai bakal meningkat.

Agenda Kunjungan dan Fokus Teknis

Rencananya, Merz akan mengunjungi sejumlah lokasi strategis, antara lain Kota Terlarang di Beijing dan pabrik Mercedes yang menampilkan kendaraan berkendara otonom. Ia juga akan bertolak ke Hangzhou, pusat kecerdasan buatan, untuk berkunjung ke perusahaan robotika Unitree dan Siemens Energy.

Kunjungan ini memperlihatkan upaya Jerman mempertahankan posisi dalam persaingan global dengan China sambil melindungi kepentingan ekonomi dan keamanan Eropa dalam era ketidakpastian geopolitik.

Terkait