Xi Jinping dan Friedrich Merz Berjuang Pererat Hubungan China Jerman di Tengah Gejolak Global dan Perbedaan Tajam soal Ukraina

Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, pemimpin China, Xi Jinping, dan Kanselir Jerman, Friedrich Merz, sepakat untuk memperkuat kerjasama bilateral antara kedua negara meski ada perbedaan pandangan signifikan. Pertemuan mereka di Beijing ini menandai langkah penting dalam memperkokoh hubungan strategis antara ekonomi terbesar kedua dan ketiga dunia di tengah gejolak geopolitik dan ekonomi.

Xi Jinping menegaskan pentingnya komunikasi strategis yang lebih intensif untuk menghadapi kompleksitas dunia saat ini, yang menurutnya mengalami perubahan paling mendalam sejak Perang Dunia II. Di sisi lain, Merz mengajak agar kedua negara lebih fokus pada kesamaan dan berkolaborasi dalam menghadapi tantangan bersama, meskipun mereka memiliki sejumlah isu yang perlu dibahas, termasuk perang di Ukraina.

Perbedaan Sikap Terhadap Konflik Ukraina

Isu perang Rusia-Ukraina menjadi salah satu perbedaan mencolok dalam dialog kedua pemimpin. Merz menegaskan perlunya peran Beijing dalam mencari solusi bagi konflik yang telah berlangsung selama lebih dari empat tahun tersebut. Dia menyatakan bahwa masalah global tidak dapat diselesaikan tanpa keterlibatan China, mengingat pengaruh Beijing juga didengar di Moskow.

Sebaliknya, China bersikap netral dan menolak tekanan untuk mengubah sikapnya terhadap Rusia. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menyatakan harapan agar semua pihak memanfaatkan kesempatan untuk mencapai kesepakatan damai yang komprehensif dan mengikat. Sikap ini menyebabkan frustrasi di kalangan pemerintah Eropa yang menghendaki China menekan Rusia agar mengakhiri perang.

Menanggapi Kebijakan Tarif dan Perlindungan Perdagangan Amerika Serikat

Kunjungan Merz ke China juga terjadi dalam konteks tekanan ekonomi yang dialami kedua negara akibat kebijakan tarif impor dari Amerika Serikat pada masa pemerintahan Donald Trump. Kebijakan ini dinilai mengganggu perdagangan internasional dan memprovokasi ketidakstabilan ekonomi global.

Merz menekankan perlunya kemitraan yang seimbang, dapat diandalkan, diatur, dan adil antara Eropa dan China. Ia juga menyatakan bahwa kebijakan China harus dipandang dalam konteks Eropa yang lebih luas. Peningkatan impor China yang signifikan ke Jerman mencapai 170,6 miliar euro tahun lalu, sementara ekspor Jerman ke China justru turun sebesar 9,7 persen menjadi 81,3 miliar euro, menimbulkan kekhawatiran atas dampak terhadap sektor manufaktur di Eropa.

Harapan untuk Kerjasama Ekonomi yang Lebih Terbuka

Para pemimpin Eropa, termasuk Merz, mendesak agar perusahaan China membangun fasilitas produksi di benua mereka. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi kelebihan kapasitas produksi China yang menekan harga global terutama di sektor kendaraan listrik dan panel surya. Mereka juga menuntut penghapusan hambatan bagi perusahaan asing di pasar China yang masih tergolong proteksionis.

Xinhua News Agency, media resmi China, menyatakan bahwa kedua negara sebagai ekonomi besar memiliki tanggung jawab bersama untuk melawan proteksionisme dan tekanan ekonomi. Upaya ini menjadi pondasi penting bagi stabilitas dan pertumbuhan ekonomi dunia di tengah gejolak global.

Kunjungan Kerja dan Prospek Masa Depan

Dalam rangkaian kunjungannya, Merz juga mengunjungi pusat teknologi tinggi di Hangzhou untuk melihat langsung perkembangan robot humanoid di Unitree Robotics, inovasi yang mencerminkan kemajuan teknologi China. Kunjungan ini dilaksanakan menjelang perjalanan Merz ke Washington yang akan menjadi kunjungan ketiganya sebagai kanselir.

Pertemuan antara Xi dan Merz menunjukkan sinyal konsensus untuk memperkuat hubungan strategis meski perjalanan untuk mengatasi perbedaan masih panjang. Kedua negara memahami bahwa kerja sama erat sangat diperlukan di tengah ketegangan global dan transformasi geopolitik serta ekonomi yang cepat.

Berita Terkait

Back to top button