Ali Larijani menjadi tokoh sentral yang membentuk kebijakan nuklir Iran di tengah ketegangan diplomatik dengan Amerika Serikat. Meskipun tidak ambil bagian dalam perundingan langsung di Jenewa, Larijani memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah kebijakan nuklir dan strategi keamanan nasional Iran.
Sebagai kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Larijani bertugas mengoordinasi strategi pertahanan dan mengawasi kebijakan nuklir negara. Kepercayaan kuat dari Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menjadikan Larijani sosok yang mampu menggabungkan loyalitas ideologis dengan pendekatan pragmatis dalam kebijakan luar negeri.
Jejak Karier Ali Larijani
Larijani lahir di Najaf, Irak, pada 1957 dari keluarga ulama Syiah yang dekat dengan pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Ia memiliki latar belakang militer sebagai veteran Korps Pengawal Revolusi Islam selama perang Iran-Irak. Kariernya meliputi posisi penting di media negara dan legislatif, termasuk menjabat Kepala Penyiaran Negara IRIB selama satu dekade dan Ketua Parlemen Iran dari 2008 hingga 2020.
Pada 1996, Larijani ditunjuk sebagai perwakilan Khamenei di Dewan Keamanan Nasional dan kemudian menjadi sekretaris dewan tersebut. Ia juga pernah memimpin negosiasi nuklir dengan negara-negara Eropa dan Rusia antara 2005 dan 2007, serta ikut andil dalam perundingan penting mengenai program nuklir Iran.
Pendekatan Pragmatik dalam Diplomasi Nuklir
Larijani dikenal sebagai pendukung kesepakatan nuklir 2015 yang menjadi tonggak penting dengan kekuatan dunia. Ia memperingatkan bahwa tekanan berkepanjangan dari luar berpotensi mendorong Iran menuju pengembangan senjata nuklir. Pernyataannya menegaskan posisi Iran bahwa program nuklir bersifat damai dan merupakan hak berdaulat negara.
Ia juga memisahkan urusan nuklir dari persoalan lain seperti program rudal dan peran regional Iran. Dalam pernyataannya kepada media, Larijani menekankan pentingnya penyelesaian cepat dalam negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat, sekaligus meremehkan kemungkinan terjadinya konflik militer antara kedua negara karena kerugian yang akan ditanggung Amerika Serikat.
Peran Diplomatik dan Hubungan Regional
Dalam beberapa bulan terakhir, Larijani semakin banyak terlibat dalam diplomasi regional. Ia melakukan kunjungan ke negara-negara Teluk seperti Oman dan Qatar sebagai jembatan mediasi dalam ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow juga memperlihatkan posisi strategis Larijani dalam jaringan diplomasi Iran.
Kepemimpinannya di Dewan Keamanan Nasional selama periode krisis menambah eksposur publik Larijani sebagai sosok pragmatis yang dapat menyeimbangkan kepentingan nasional dengan dinamika internasional.
Kontroversi dan Sanksi Internasional
Larijani tidak lepas dari kontroversi, termasuk tuduhan korupsi yang dialamatkan kepada beberapa kerabatnya meskipun mereka membantahnya. Pemerintah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepadanya atas tuduhan keterlibatan dalam tindakan represif terhadap demonstrasi protes domestik yang terjadi akibat kenaikan biaya hidup.
Meskipun demikian, Larijani menganggap bahwa protes yang terjadi dipicu oleh tekanan ekonomi, namun kekerasan yang menyertainya adalah hasil campur tangan asing yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Ambisi Politik dan Implikasinya
Pengamat menilai ambisi politik Larijani masih terbuka lebar, termasuk kemungkinan mencalonkan diri sebagai presiden Iran pada masa mendatang. Sikapnya yang mempertahankan sistem sekaligus menjaga peluang politik mencerminkan strategi bertahan sekaligus adaptasi terhadap perubahan kondisi internal dan eksternal.
Larijani, sebagai pemain utama dalam kebijakan nuklir Iran, menunjukkan bagaimana pengalaman dan kedekatannya dengan struktur kekuasaan membuatnya menjadi sosok kunci dalam menghadapi dinamika geopolitik yang kompleks. Perannya dipandang krusial dalam menjaga keseimbangan antara ketahanan ideologis dan kebutuhan pragmatis dalam diplomasi nuklir sensitif ini.





