Serangan udara Israel menewaskan sedikitnya dua warga Palestina di Gaza, menurut pejabat kesehatan setempat. Korban tewas tersebut, yang diidentifikasi sebagai anggota Hamas oleh keluarga mereka, terjadi di bagian timur Kota Gaza.
Fadel Naeem, direktur Rumah Sakit Al-Ahli yang menangani korban, mengonfirmasi jumlah tewas dan luka-luka dalam serangan tersebut. Leluhur korban, Muhammad Abu Jabal dan Ali al-Burdini, disebut sebagai anggota kelompok militan Hamas.
Sejak gencatan senjata mulai berlaku, serangan mematikan dari Israel kerap menggangu situasi di Gaza. Ketegangan yang terus meningkat membuat banyak warga merasa konflik masih berlanjut tanpa henti.
Selain itu, militer Israel melaporkan penembakan seorang Palestina yang melintasi garis pemisah wilayah yang dikontrol Israel di Gaza selatan. Orang tersebut disebut sebagai militan yang dianggap mengancam pasukan Israel.
Penembakan terhadap warga yang melintasi wilayah ini telah menjadi hal yang sering terjadi sejak gencatan senjata diterapkan. Namun, laporan juga menunjukkan terdapat warga sipil termasuk anak-anak yang menjadi korban.
Serangan Israel di Lebanon
Israel juga melancarkan serangkaian serangan di Lembah Bekaa, timur Lebanon, yang menyerang markas kelompok militan Hezbollah. Dalam serangan ini, seorang remaja pengungsi Suriah berusia 16 tahun tewas, dan 29 orang lainnya terluka menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.
Meskipun gencatan senjata yang difasilitasi Amerika Serikat diumumkan setelah perang terakhir pada November lalu, serangan mendekati harian dari Israel ke Lebanon terus berlanjut. Tujuannya adalah untuk mencegah Hezbollah melakukan reorganisasi militer.
Dampak terhadap Jurnalis dan Korban Sipil
Laporan oleh Committee to Protect Journalists menyebutkan jumlah jurnalis dan pekerja media yang terbunuh sepanjang tahun ini mencapai angka tertinggi selama lebih dari tiga dekade. Sebanyak 129 jurnalis tewas, dua pertiganya akibat serangan yang dilakukan oleh Israel.
Salah satu korban adalah Mariam Dagga, freelancer yang bekerja untuk Associated Press, bersama empat wartawan lainnya yang tewas saat serangan di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis. Insiden ini juga merenggut nyawa 17 warga sipil lainnya.
Data Korban Palestina Sejak Gencatan Senjata
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan total kematian warga Palestina mencapai 618 sejak gencatan senjata diberlakukan, dengan angka kumulatif mencapai 72.082 sejak dimulainya ofensif Israel. Data ini biasanya dipandang cukup akurat oleh lembaga PBB dan pakar independen.
Namun, kementerian ini tidak memisahkan data korban antara warga sipil dan militan dalam catatannya. Hal ini menambah kerumitan dalam memahami dinamika konflik di wilayah tersebut.
Stagnasi Proses Perdamaian
Meskipun ada kemajuan yang terlihat dalam pembukaan kembali jalur Rafah untuk keluar-masuk warga Gaza ke Mesir, pelaksanaan aturan gencatan senjata masih menemui banyak hambatan. Komite teknokrat Palestina yang bertugas mengawal urusan sehari-hari Gaza belum mendapat izin masuk ke wilayah itu.
Selain itu, rencana pembentukan pasukan penjaga perdamaian internasional untuk menjaga keamanan di Gaza mulai dibicarakan, namun belum ada pasukan yang diterjunkan.
Israel dan Hamas masih berselisih terkait timeline dan cakupan penarikan tentara Israel serta proses demiliterisasi wilayah yang telah dikuasai Hamas selama hampir dua dekade. Konflik ini bermula saat serangan besar-besaran oleh Hamas pada Oktober tahun lalu yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel, sebagian besar warga sipil.
Pertukaran tahanan dan jenazah menjadi bagian penting dari perjanjian gencatan senjata, namun ketidakpastian dan kekerasan sporadis masih menandai hubungan antara kedua pihak hingga kini.
Kondisi yang terus bergolak ini menjadi perhatian dunia dan sering memicu demonstrasi serta tuduhan pelanggaran hak asasi yang oleh Israel dibantah. Konflik yang kompleks ini menunjukkan tantangan besar dalam mencari solusi damai yang berkelanjutan di Gaza dan kawasan sekitarnya.





