Perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran kembali berlangsung di Swiss dengan perantara Oman. Fokus utama pembicaraan adalah program nuklir Iran yang menjadi sumber ketegangan yang bisa memicu konflik besar.
Iran secara tegas menyatakan tidak memiliki dan tidak akan mengembangkan senjata nuklir. Sementara Presiden Trump juga menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir, sikap yang konsisten dengan pendahulunya dari Obama hingga Biden.
Pada masa pemerintahan Obama, AS berhasil merundingkan perjanjian internasional yang bertujuan mengendalikan dan memantau pengayaan uranium Iran. Namun, Trump menarik AS keluar dari perjanjian tersebut dan mengkritiknya sebagai "perjanjian yang buruk". Kini, Trump mengancam akan melakukan serangan militer jika Iran tidak menyepakati kesepakatan baru yang membatasi aktivitas nuklirnya.
Meski banyak negara termasuk Iran memperingatkan bahwa serangan AS bisa memicu konflik berskala internasional, Trump tetap memerintahkan penambahan kekuatan militer terbesar AS di Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir sebagai tekanan negosiasi. Apa pun keputusan Trump terkait penggunaan kekuatan militer belum diumumkan selama proses diplomasi ini berjalan.
Posisi Iran dan AS dalam negosiasi
Trump mengklaim AS telah menghancurkan program senjata nuklir Iran melalui serangan militer pada Juni lalu, meskipun Badan Energi Atom Internasional (IAEA) meragukan klaim tersebut. Presiden AS juga menyatakan lebih memilih solusi diplomatik, namun tetap siap menggunakan militer bila diperlukan.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah mengembangkan senjata nuklir. Ia menyebut negosiasi saat ini sebagai peluang bersejarah yang dapat menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan kedua pihak jika diplomasi diprioritaskan.
Namun, Araghchi tetap menekankan hak Iran untuk mengembangkan teknologi nuklir damai. Hal ini menjadi titik sulit negosiasi karena Trump dan sekutunya menuntut Iran menghentikan sepenuhnya pengayaan uranium, tuntutan yang ditolak Iran karena berada dalam haknya sebagai anggota Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
Perbedaan posisi dan risiko eskalasi militer
Para pengamat dan ahli keamanan menilai kedua belah pihak masih memiliki perbedaan yang sangat besar. Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara di Chatham House, Sanam Vakil, memprediksi kemungkinan perang sangat dekat karena Trump menuntut pengakuan penuh dari Iran, sementara Iran tidak bersedia menyerah pada tuntutan tersebut.
Iran saat ini memang tidak aktif memperkaya uranium sejak serangan AS pada bulan Juni, dan memiliki potensi kompromi hanya pada penurunan tingkat pengayaan uranium yang digunakan untuk tujuan medis. Namun, isu misil balistik Iran serta dukungan terhadap kelompok proxy menjadi hambatan serius dalam mencapai kesepakatan menyeluruh.
Lebih lanjut, jurnalis Iran-Amerika Masih Alinejad menyatakan bahwa kompromi maksimum yang dapat diberikan Iran tetap belum memenuhi standar minimal yang diharapkan pemerintahan AS. Selain itu, program misil dan kekuatan militer proxy Iran juga menjadi titik konflik pendukung ketidaksetujuan kedua pihak.
Potensi konflik berkepanjangan dan dampaknya
Dengan kekuatan militer AS yang semakin besar di sekitar wilayah Timur Tengah, kemungkinan serangan militer terbuka tetap ada. Namun, para komandan militer AS mengingatkan Trump bahwa tidak ada solusi militer cepat yang dapat memaksa Iran menyerah tanpa konflik berkepanjangan.
Iran pun sudah memperingatkan bahwa jika diserang, mereka akan membalas dengan serangan terhadap pangkalan militer AS di kawasan. Ini bisa memicu perang regional yang sulit dikendalikan. Alinejad dan Vakil sama-sama menyuarakan kekhawatiran atas dampak panjang dari potensi konflik, termasuk penderitaan rakyat Iran yang sebagian besar menentang pemerintahan rezim saat ini.
Sebaliknya, McMaster, mantan penasihat keamanan nasional AS, memperkirakan serangan awal AS akan masif dan bertujuan membatasi kapasitas balasan Iran agar konflik tidak meluas. Namun, ia juga menegaskan bahwa Iran selama ini selalu dapat melakukan eskalasi ketika AS mencoba membatasi intensitas konflik.
Harapan diplomasi dan langkah ke depan
Menteri Luar Negeri Oman yang menjadi mediator, Badr Albusaidi, menyatakan bahwa pada sesi awal perundingan terdapat ide-ide kreatif dan positif. Dialog ini akan berlanjut dengan harapan dapat membawa kemajuan lebih jauh dalam mencapai kesepakatan.
Meski peluang tercapainya kesepakatan masih dipandang sulit dan penuh tantangan, upaya diplomasi tetap berlanjut demi menghindari perang yang bisa menghancurkan stabilitas regional. Baik AS maupun Iran dihadapkan pada dilema antara kompromi dan risiko konflik militer yang berpotensi berkepanjangan dan berdampak besar bagi dunia internasional.
Proses negosiasi ini menjadi momen penting di tengah ketegangan tinggi yang bisa menentukan nasib hubungan kedua negara dan keamanan global di masa depan.









