Setiap musim dingin selama beberapa dekade, kolam renang di depan rumah Aleena Gul di Lembah Hunza, Pakistan, berubah menjadi arena es alami. Namun tahun ini, kolam yang biasanya beku menjadi lapangan hoki es itu tak membeku sama sekali.
Aleena, yang merupakan kapten tim hoki es perempuan di Hunza, merasa kecewa karena musim dingin datang terlambat dan suhu yang lebih hangat membuat lapisan es sulit terbentuk. Ia mengatakan, "Dulu musim dingin mulai November dan seluruh kolam akan membeku. Sekarang sudah Januari, es masih belum sempurna."
Perubahan Iklim dan Dampaknya pada Musim Dingin Hunza
Fenomena ini mencerminkan perubahan iklim yang sedang terjadi di kawasan pegunungan utara Pakistan. Musim dingin datang terlambat, cuaca menjadi tidak menentu, dan periode suhu di bawah titik beku semakin pendek. Studi dari WeatherWalay menunjukkan bahwa curah hujan musim dingin menurun sekitar 30% sejak akhir dekade 2010-an.
Selain itu, suhu musim dingin tercatat lebih hangat 2 sampai 3 derajat Celsius dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini menyebabkan penurunan salju yang berkontribusi pada terbatasnya pembentukan es alami yang sangat dibutuhkan untuk tournament hoki es di sana.
Tantangan Menggelar Turnamen Karakoram Interlude
Turnamen Karakoram Interlude, yang selama delapan musim diadakan di kolam depan Benteng Altit, kini menghadapi tantangan besar. Panitia berjuang untuk mendinginkan dan membekukan permukaan air dengan cara tradisional, seperti menyiram air dan meratakan es bertumpuk, meskipun suhu kadang tidak sampai –20°C seperti di masa lalu.
Sadiq Saleem, presiden Altit Town Management Society, mengonfirmasi adanya perubahan pola cuaca drastis, termasuk penurunan curah salju dan naiknya titik beku di wilayah ini. Ayria mencatat penipisan lapisan es dengan muncul retakan panjang dan bagian es yang menjadi tipis membuat penyelenggaraan pertandingan menjadi berisiko.
Pindah Lokasi ke Sost dan Keterbatasan Solusi
Karena kondisi es di Altit yang semakin rapuh, panitia terpaksa memindahkan turnamen ke Sost, sebuah kota kecil dekat perbatasan China, yang terletak pada ketinggian sekitar 2.800 meter. Lokasi ini dianggap lebih dingin dengan harapan pembentukan es lebih kuat.
Namun tahun ini, es di Sost pun tidak sepenuhnya ideal. Beberapa bagian lapisan es tetap tipis dan sulit untuk dimainkan. Dari tiga pertandingan yang dijadwalkan pada hari pertama, hanya satu yang bisa dilaksanakan karena risiko cedera pada pemain akibat kondisi es yang buruk.
Dampak Terhadap Ekonomi Lokal
Kesulitan dalam pembentukan es dan pengaruh iklim berimbas pada sektor pariwisata musim dingin Hunza. Kafe, penginapan, dan pelaku usaha kecil merasa pendapatan merosot. Murku Café, yang biasanya ramai selama turnamen hoki es, mengalami penurunan pelanggan signifikan tahun ini.
Kondisi ini juga mempersulit penduduk dalam menyiapkan kebutuhan sehari-hari saat musim dingin seperti sebelumnya. Dulu salju tebal menutup akses jalan sehingga warga harus menyimpan makanan dan persediaan. Kini, fluktuasi cuaca dan kurangnya salju membuat pola hidup berubah.
Adaptasi Masyarakat Lokal terhadap Ketidakpastian Musim Dingin
Meski menghadapi kesulitan, para pemain dan penyelenggara berusaha beradaptasi. Mereka terus menyemprotkan air ke permukaan es setiap malam dengan harapan suhu turun cukup untuk membeku sempurna. Selalu ada upaya untuk menjaga tradisi dan turnamen tetap berjalan.
Namun, perubahan iklim yang terus berlangsung menuntut masyarakat untuk memikirkan solusi jangka panjang, termasuk mempertimbangkan pergantian lokasi turnamen atau metode alternatif dalam menjaga kualitas arena.
Perubahan musim dingin di Lembah Hunza ini menjadi cerminan nyata dampak pemanasan global di wilayah pegunungan Himalaya. Keberlangsungan olahraga musim dingin dan sektor pariwisata di kawasan ini kini berada di atas lapisan es yang makin menipis.









