Pembatasan yang diberlakukan oleh Taliban kini mengancam keselamatan perempuan dan anak-anak di Afghanistan. Aturan yang mewajibkan perempuan untuk mematuhi kode pakaian tertentu, didampingi wali laki-laki, serta menerima perawatan hanya dari tenaga medis laki-laki membuat akses darurat medis bagi perempuan sangat terbatas.
Pelapor Khusus PBB untuk Afghanistan, Richard Bennett, menyoroti bahwa pengaturan ini sering kali menyebabkan perlakuan diskriminatif. Ia mengungkapkan, perempuan sering kali ditolak layanan ambulans jika tanpa pendamping laki-laki. Dalam sebuah laporan yang disampaikan kepada Dewan Hak Asasi Manusia PBB, Bennett mencatat seorang wanita terpaksa melahirkan di pintu rumah sakit karena tidak didampingi. Kasus lain, seorang ibu kehilangan anaknya yang berusia empat tahun akibat tidak dapat melakukan perjalanan ke rumah sakit sendirian.
Dampak Kebijakan Terhadap Layanan Kesehatan Perempuan
Menurut Bennett, kebijakan ini tidak sekadar kebijakan parsial melainkan bagian dari sistem diskriminasi gender yang terinstitusi. Sistem tersebut membatasi otonomi perempuan atas tubuh dan kesehatan mereka. Taliban sendiri menyatakan bahwa mereka menghormati hak perempuan sesuai interpretasi hukum Islam versi mereka. Namun, realitanya membatasi pergerakan perempuan dan melarang pendidikan bagi anak perempuan di atas tingkat sekolah dasar.
Kebijakan ini juga berdampak pada jumlah tenaga medis perempuan. Pada tahun sebelumnya, perempuan masih mengambil peran sekitar 25% dari total tenaga medis di Afghanistan. Kini, dengan larangan melanjutkan pendidikan kedokteran bagi perempuan, jumlah tenaga medis wanita diperkirakan akan semakin menurun. Hal ini menghambat pelayanan bagi pasien perempuan yang harus mengikuti aturan pemisahan gender.
Risiko Kesehatan yang Meningkat
Suraya Dalil, mantan Menteri Kesehatan Afghanistan, mengungkapkan kekhawatirannya terkait hal ini. Ia menekankan bahwa pembatasan tenaga kesehatan perempuan akan meningkatkan angka kematian ibu dan bayi. Menurut Dalil, sistem kesehatan yang melemah serta penurunan jumlah tenaga medis perempuan berpotensi menyebabkan penderitaan dan kematian yang tidak perlu.
Richard Bennett menegaskan bahwa kebijakan ini "sama sekali tidak dapat dibenarkan." Ia memperingatkan bahwa jika kebijakan tersebut tidak dibatalkan, konsekuensinya adalah meningkatnya penderitaan, penyakit, dan kematian yang bisa dicegah. Kondisi ini memperburuk krisis kemanusiaan di Afghanistan yang sudah terancam oleh berbagai faktor sosial dan politik.
Fakta Kunci Terkait Pembatasan Taliban di Sektor Kesehatan:
- Perempuan wajib didampingi wali laki-laki saat mengakses layanan kesehatan.
- Perempuan harus mematuhi kode pakaian yang ditetapkan oleh Taliban.
- Tenaga medis perempuan semakin berkurang akibat larangan pendidikan kedokteran bagi perempuan.
- Pelayanan ambulans untuk perempuan sering ditolak jika tanpa pendamping laki-laki.
- Pembatasan ini mengakibatkan meningkatnya angka kematian ibu dan bayi.
Pembatasan yang semakin ketat ini menempatkan perempuan Afghanistan dalam risiko besar yang sangat membahayakan hidup mereka dan anak-anak. Kondisi ini menuntut perhatian internasional dan tindakan segera agar hak-hak perempuan di bidang kesehatan tidak terus tergerus. Tanpa perubahan kebijakan, sistem kesehatan di Afghanistan akan semakin rapuh dan tidak mampu mendukung kebutuhan warganya secara adil dan efektif.









