Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan udara terhadap target-target di Iran, memicu balasan langsung dari Republik Islam tersebut. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah tewas, meskipun klaim ini belum dikonfirmasi oleh pihak Tehran.
Operasi bersama AS-Israel dimulai dengan serangan udara besar-besaran yang menyebabkan asap mengepul di atas kota Tehran. Israel mengklaim serangan ini bersifat preventif dan menargetkan lokasi di mana pejabat senior Iran berkumpul serta peluncur misil di berbagai titik.
Serangan Intensif dan Target yang Dihancurkan
Menurut militer Israel, sekitar 200 pesawat tempur terlibat dalam serangan yang berhasil menghantam lebih dari 500 sasaran. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa beberapa pejabat tinggi Iran tewas dalam serangan itu dan menegaskan bahwa ribuan target lain akan dibombardir dalam beberapa hari mendatang. Penting untuk dicatat, pihak Iran melaporkan bahwa serangan di sebuah sekolah perempuan di Minab menewaskan 108 orang, yang menurut pejabat provinsi setempat merupakan akibat serangan Israel.
Balasan Iran dengan Gelombang Rudal dan Drone
Iran merespons dengan meluncurkan serangan misil dan drone, menargetkan Armada Kelima AS di Bahrain dan sejumlah pangkalan militer Amerika di Teluk. Garda Revolusi Iran menyatakan serangan tersebut merupakan balasan atas agresi Israel. Akibat serangan tersebut, wilayah Tel Aviv mengalami korban, di antaranya seorang wanita tewas dan lebih dari 20 orang terluka, dilaporkan oleh layanan darurat Magen David Adom.
Dampak Luas di Kawasan Teluk dan Penutupan Alur Pelayaran
Ledakan terdengar di beberapa wilayah Teluk, termasuk di Abu Dhabi, di mana dua orang tewas termasuk seorang warga sipil Pakistan. Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab melaporkan adanya 137 misil dan 209 drone yang ditembakkan ke wilayahnya. Saksikan di Dubai juga melaporkan ledakan dan tembakan misil di langit, sementara kejadian serupa terdengar di Riyadh, Manama, dan Doha. Qatar berhasil mencegat beberapa serangan misil yang ditujukan ke negaranya. Selain itu, dua orang tewas akibat serangan udara di pangkalan militer Irak yang menjadi basis kelompok pro-Iran, Kataeb Hezbollah, yang mengancam akan memberikan respons terhadap serangan tersebut.
Garda Revolusi Iran juga mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menjadi penghubung utama pengiriman minyak dan gas dunia. Langkah ini berpotensi menimbulkan dampak besar bagi pasar energi global.
Reaksi Internasional dan Upaya Mediasi
Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat membahas konflik ini. Utusan Iran menuduh AS dan Israel melakukan kejahatan perang dengan menyerang sasaran sipil. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengingatkan bahwa aksi militer di Timur Tengah berisiko memicu rantai kejadian tak terkontrol. Menteri Luar Negeri Oman yang tengah memediasi dialog antara Tehran dan Washington mengungkapkan kekecewaannya terhadap eskalasi kekerasan.
Uni Eropa mengutuk situasi yang semakin berbahaya, sementara negara-negara Teluk secara kolektif mengecam serangan Iran sebagai tindakan pengecut selama pertemuan darurat PBB. Di sisi lain, Rusia mengecam serangan AS dan Israel sebagai petualangan berbahaya yang berpotensi menyebabkan bencana kawasan. Kelompok militan Hezbollah di Lebanon menyeru masyarakat di wilayah tersebut untuk bersatu menentang AS dan Israel.
Penutupan Ruang Udara dan Pembatalan Penerbangan
Kawasan Timur Tengah mengalami gangguan penerbangan signifikan setelah wilayah udara Iran, Irak, Kuwait, Suriah, Uni Emirat Arab, dan Israel menutup sebelah pihak ruang udara mereka untuk lalu lintas sipil. Berbagai maskapai pun membatalkan rute penerbangan menuju dan dari kawasan tersebut. Rusia bahkan menangguhkan semua penerbangan komersial ke Iran dan Israel sampai pemberitahuan selanjutnya.
Situasi di kawasan Timur Tengah masih sangat dinamis dengan potensi meningkatnya konflik yang berdampak pada keamanan global. Upaya diplomasi internasional terus dilakukan demi meredakan ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.









