
Serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah memicu reaksi beragam dari para pemimpin dunia. Setelah serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, banyak negara mengeluarkan pernyataan yang mencakup dukungan, kecaman, serta seruan untuk menahan diri dan menurunkan ketegangan.
Presiden AS, Donald Trump, menyatakan kematian Khamenei sebagai peluang terbesar bagi rakyat Iran untuk mengambil kembali negeri mereka. Serangan sendiri menargetkan beberapa kota besar di Iran seperti Tehran, Qom, Karaj, Kermanshah, Tabriz, dan Isfahan, terutama tempat yang berkaitan dengan fasilitas nuklir.
Reaksi Negara-Negara Barat
Inggris tidak mengikuti aksi militer secara langsung namun mempersiapkan pertahanan di basis udara al-Udeid, Qatar. Perdana Menteri Keir Starmer mengedepankan pentingnya menghindari eskalasi konflik regional. Bersama Prancis dan Jerman, Inggris menyerukan Iran agar menghentikan serangan balasan dan kembali ke meja perundingan.
Prancis melalui Presiden Emmanuel Macron memperingatkan bahaya eskalasi yang dapat meluas. Macron menekankan bahwa Iran harus menghentikan program nuklirnya dan berkomitmen menjalankan dialog diplomasi guna menjaga stabilitas kawasan.
Uni Eropa juga menyerukan semua pihak untuk menahan diri, mengutamakan perlindungan warga sipil, dan mematuhi hukum internasional. Ursula von der Leyen, Ketua Komisi Eropa, mengajak upaya diplomatik menjadi solusi konflik yang sedang berlangsung.
Negara-negara seperti Kanada dan Australia memberikan dukungan penuh kepada AS dalam upaya mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Perdana Menteri Mark Carney dari Kanada menegaskan posisi Iran sebagai sumber instabilitas dan teror di Timur Tengah.
Pendapat Negara-Negara Asia dan Timur Tengah
China mengutamakan penghormatan terhadap kedaulatan dan keamanan Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China mendesak penghentian segera serangan dan melanjutkan pembicaraan demi menjaga perdamaian di wilayah tersebut.
India menyatakan keprihatinan mendalam atas perkembangan terbaru dan menyeru semua pihak mengedepankan dialog serta menghargai integritas wilayah. Pakistan mengutuk serangan yang tidak berdasar dan menyerukan semua pihak agar tidak mengambil tindakan yang dapat mengancam keamanan negara-negara di kawasan.
Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab (UAE) mengutuk keras serangan balasan Iran yang menargetkan negara-negara mereka. Saudi menegaskan bahwa agresi Iran adalah pelanggaran besar terhadap kedaulatan regional. UAE menyatakan hak penuh mereka untuk membela diri sesuai hukum internasional setelah serangan misil terjadi di wilayahnya.
Reaksi Organisasi Internasional dan Negara Lainnya
PBB menyerukan penghentian segera permusuhan dan menekankan pentingnya dialog untuk meredam ketegangan. Sekretaris Jenderal António Guterres mengingatkan bahwa tindakan militer bertentangan dengan Piagam PBB dan berisiko memicu konflik yang lebih luas. Komisioner HAM PBB, Volker Türk, mengingatkan bahwa warga sipil menjadi korban utama dalam perang dan semua pihak harus bertanggung jawab untuk melindungi mereka.
Ukraina mengecam Iran sebagai sekutu Rusia dan mendukung langkah tegas Amerika Serikat. Albania juga menyatakan dukungan kepada Israel dan negara-negara Arab yang berupaya menjaga perdamaian dan keamanan regional.
Dampak dan Respons Regional
Kuwait dan Qatar mengecam keras serangan misil Iran di wilayah mereka. Kedua negara menekankan haknya untuk membalas serangan sesuai hukum internasional. Lebanon memperingatkan agar negaranya tidak terjerumus dalam konflik yang bisa mengancam persatuan dan keamanan nasional.
Hungaria mengekspresikan kekhawatiran akan dampak serangan terhadap harga minyak dan pasokan yang melalui jalur pipa Friendship. Perdana Menteri Viktor Orbán menyoroti risiko gangguan energi akibat ketegangan ini.
Oman, sebagai mediator dalam pembicaraan nuklir AS-Iran, menyatakan kekecewaan karena negosiasi damai terganggu. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Al Busaidi, berharap agar semua pihak menghindari tindakan yang bisa merugikan perdamaian global dan mengancam nyawa warga sipil.
Dengan berbagai reaksi ini, konflik di Timur Tengah berada pada titik kritis. Banyak negara menekankan perlunya penahanan diri dan pemulihan dialog sebagai jalan utama untuk menghindari eskalasi lebih lanjut yang bisa mengganggu kestabilan regional dan global.









