Ketegangan yang meningkat antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini menghadirkan dilema sulit bagi warga sipil di Iran. Setelah serangan gabungan dari AS dan Israel menyasar lebih dari 20 provinsi di Iran, pemerintah Teheran justru mengimbau warga untuk meninggalkan ibukota ke kota-kota lain yang dianggap lebih aman.
Pesan yang disebar melalui SMS kepada sekitar 10 juta penduduk Teheran memerintahkan mereka untuk tetap tenang namun segera pindah tempat demi keamanan, sementara di lapangan jalan-jalan keluar kota macet parah karena warga berlomba meninggalkan kota. Pemerintah tetap menegaskan kendali penuh terhadap pasokan bahan pokok dan bahan bakar, bahkan mendirikan pos pengisian bahan bakar di pinggir jalan untuk membantu pengungsi internal.
Pesan Berbeda dari Amerika Serikat dan Sekutu
Berbeda dengan arahan resmi pemerintah Iran, Presiden AS dalam sebuah video mengimbau warga Iran untuk bertahan di rumah dan menunggu waktu yang tepat untuk menggulingkan rezim teokratis yang berkuasa sejak revolusi 1979. Ia menilai ini sebagai peluang langka yang mungkin baru muncul sekali dalam beberapa generasi.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, bersama Reza Pahlavi, putra mantan shah Iran yang digulingkan, mengeluarkan pesan serupa yang mendesak warga Iran agar tetap waspada dan bersiap menggelar protes besar. Referensi ini mengarah pada gelombang unjuk rasa nasional yang terjadi beberapa bulan lalu, di mana ribuan warga tewas akibat penindasan aparat keamanan.
Konflik Internal dan Penindasan di Tengah Serangan
Pemerintah Iran menuduh kematian warga sipil akibat “teroris” yang didukung asing, namun PBB dan organisasi HAM internasional menyalahkan rezim Iran atas kekerasan represif terhadap demonstran damai. Setelah serangan berlangsung, aksi mahasiswa di sejumlah kota besar kembali terjadi dengan penahanan, skorsing, dan panggilan intelijen terhadap peserta. Sekolah dan universitas resmi ditutup hingga pemberitahuan selanjutnya untuk meredam gejolak lebih lanjut.
Dua sekolah bahkan menjadi sasaran serangan, dengan korban jiwa yang turut dialami oleh anak-anak. Di wilayah pusat Teheran, anggota paramiliter Basij dan Pasukan Garda Revolusi menggelar patroli dengan kendaraan bermotor sambil meneriakkan slogan anti-Amerika dan anti-Israel.
Pemadaman Internet dan Kontrol Informasi
Serangan pada kawasan Pasteur, pusat administrasi pemerintahan Iran, menyebabkan kerusakan besar pada kompleks yang menampung kantor pimpinan tertinggi. Informasi tentang keberadaan Ayatollah Ali Khamenei belum jelas, namun pejabat pemerintah menyatakan bahwa sang pemimpin besar dan Presiden Masoud Pezeshkian masih hidup.
Sejurus setelah serangan, pemerintah Iran memutus akses internet dan jaringan telepon seluler di sejumlah wilayah, bahkan memperluas pemadaman hingga menyulitkan komunikasi warga dengan dunia luar. Negara ini sendiri sudah pernah menerapkan pemblokiran internet selama 20 hari secara total saat gelombang demonstrasi nasional sebelumnya.
Aparat keamanan memperingatkan warga agar hanya mengakses informasi dari kanal resmi pemerintah dan melaporkan kegiatan mencurigakan untuk menghindari hukuman berat. Saat malam menjelang, jalan-jalan di Teheran mulai sepi, tetapi suara ledakan masih terdengar bergemuruh sebagai tanda konflik belum mereda.
Daftar Fakta Penting dari Situasi Terkini
- Serangan gabungan AS dan Israel menyasar 20 provinsi Iran.
- Pemerintah Iran menyuruh warga Teheran pindah ke kota lain.
- AS mendorong warga Iran untuk tetap tinggal dan bersiap melakukan revolusi.
- Reza Pahlavi mendukung demonstrasi anti-pemerintah.
- Puluhan ribu warga Iran pernah dipenjara dan beberapa menghadapi hukuman mati akibat kerusuhan sebelumnya.
- Sekolah dan universitas ditutup, sebagian perkuliahan dilaksanakan daring.
- Dua sekolah dalam serangan terkena dampak, menewaskan anak-anak.
- Internet di Iran mengalami blackout total dan pembatasan ketat.
- Basij dan IRGC menggelar patroli pro-pemerintah di Teheran.
Ketika ketegangan militer terus meningkat, warga sipil Iran menghadapi kebingungan akibat arahan yang bertentangan dari pemerintah dan pihak luar. Langkah keamanan, penutupan fasilitas pendidikan, hingga pembatasan komunikasi menunjukkan dampak besar konflik terhadap kehidupan sehari-hari. Situasi ini menunggu respon lanjutan dari berbagai pihak yang dapat memengaruhi stabilitas kawasan dalam waktu dekat.









