US-Israel Memulai Operasi Besar Melawan Iran, Akankah Konflik Berkepanjangan dan Mengancam Stabilitas Regional?

Serangan bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang terjadi baru-baru ini diperkirakan akan berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Operasi ini memiliki tujuan strategis kompleks, termasuk melemahkan kemampuan keamanan Iran dan merusak infrastruktur kunci negara tersebut.

Berbeda dengan konflik singkat pada Juni tahun lalu yang menargetkan situs nuklir tertentu, serangan kali ini lebih luas dan rumit. Panglima Angkatan Darat Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, menegaskan bahwa operasi ini berada pada skala yang jauh lebih besar dan lebih kompleks dibanding sebelumnya.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengakui bahwa fasilitas-fasilitas Amerika dan Israel yang menjadi sasaran adalah “target yang sah”. Sebagai respons, televisi Iran melaporkan serangan rudal baru terhadap pangkalan-pangkalan AS di Teluk Persia.

Menurut David Khalfa, salah satu pendiri Pusat Riset Atlantic Middle East Forum, kampanye militer ini akan berlangsung selama beberapa hari atau bahkan berminggu-minggu. Dia menggambarkan serangan ini sebagai ofensif multi-domain yang bertujuan mengguncang rantai komando rezim dan mendorong kemungkinan perubahan internal, bahkan sampai pada tahap penggantian rezim.

Serangan tersebut menargetkan tokoh-tokoh puncak Iran, seperti Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan kepala Staf Garda Revolusi. Selain itu, serangan juga menyasar program rudal balistik Iran, yang menunjukkan upaya menyeluruh dalam melemahkan kemampuan pertahanan negara tersebut.

Sanam Vakil dari think tank Chatham House menyebut konflik ini berada pada fase eksistensial yang berfokus pada kelangsungan rezim. Menurutnya, eskalasi ini tidak mungkin berakhir dengan cepat karena dampak langsung terhadap struktur keamanan dan pemerintahan Iran.

Di saat yang sama, Araghchi mencoba meredakan ketegangan dengan menyatakan bahwa tujuan Iran bukan menyerang negara-negara Teluk Arab, melainkan membalas serangan yang mengancam keamanan mereka. Ia menawarkan jalur komunikasi terbuka untuk Amerika Serikat guna menghindari eskalasi lebih lanjut.

Namun, Khalfa menilai Iran sudah melakukan eskalasi horizontal dengan menyerang pangkalan AS di Teluk Arab dan mengancam Israel. Hal ini membuka potensi konflik regional lebih luas karena negara-negara Arab bisa saja mendukung serangan AS atau bahkan ikut terlibat langsung.

Lebanon melalui kelompok Hezbollah juga menyerukan negara-negara di kawasan untuk menentang agresi terhadap Iran. Dalam situasi ini, Amerika Serikat menghadapi risiko terseret dalam konflik panjang tanpa solusi jelas.

Peneliti Brandan Buck dari Cato Institute mengingatkan bahwa pola konflik ini mengulang kesalahan masa lalu, dengan janji tindakan terbatas sementara mempersiapkan medan untuk pertikaian berkepanjangan. Hal ini memperlihatkan kemungkinan perang AS-Israel melawan Iran yang sulit diakhiri dalam waktu singkat.

Berikut aspek utama yang membuat konflik ini berpotensi berkepanjangan:

1. Tujuan strategis yang luas dan kompleks dari operasi militer.
2. Serangan menyasar tokoh dan infrastruktur kunci Iran.
3. Eskalasi serangan terhadap pangkalan-pangkalan AS di wilayah Teluk Persia.
4. Ancaman keterlibatan negara-negara Arab dalam konflik.
5. Dukungan kelompok proxy Iran yang dapat memperpanjang ketegangan.

Dengan situasi yang sangat dinamis dan melibatkan berbagai aktor regional, perang antara AS-Israel melawan Iran diperkirakan akan menjadi konflik berkepanjangan yang memerlukan perhatian serius dunia internasional.

Terkait