Ali Khamenei Meninggal Dunia, Pemimpin Iran yang Teguh Melawan Amerika dan Israel dengan Kekuasaan Besi dan Strategi Militer Tajam

Author: Qoo Media

Ayatollah Ali Khamenei, penguasa Iran selama 36 tahun, meninggal dunia pada usia 86 tahun. Kematian Khamenei diumumkan oleh media pemerintah Iran setelah serangan udara Israel dan Amerika Serikat yang menghancurkan kompleks kediamannya di pusat Teheran.

Khamenei dikenal sebagai sosok yang membangun kekuatan Iran sebagai kekuatan anti-AS yang signifikan di Timur Tengah. Ia memperluas pengaruh militer Iran di kawasan sekaligus menggunakan tangan besi untuk meredam gelombang protes dalam negeri yang berulang kali terjadi.

Pada awalnya, banyak pihak meragukan kemampuan politik Khamenei setelah kematian Ayatollah Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam Iran. Namun, Khamenei mampu memegang kendali ketat atas urusan negara dan naik menjadi salah satu figur paling berpengaruh di Iran dalam satu abad terakhir.

Khamenei secara konsisten menentang Amerika Serikat dan Israel sepanjang masa kekuasaannya. Ia sering menggunakan istilah “Setan Besar” untuk menggambarkan AS serta menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah pada tekanan dari negara-negara Barat.

Selama pemerintahannya, Khamenei mengekang aspirasi beberapa presiden terpilih yang cenderung lebih terbuka, menjaga kebijakan garis keras yang diwariskan oleh Khomeini. Hal ini menyebabkan isolasi politik dan ekonomi Iran di mata dunia internasional menurut kritik para pengamat.

Sebagai pemimpin tertinggi Iran, Khamenei memiliki kewenangan besar, termasuk mengendalikan angkatan bersenjata dan mengangkat tokoh-tokoh penting di lembaga kehakiman, keamanan, serta media negara. Ia juga dekat dengan pasukan elit Garda Revolusi serta mengontrol jaringan bisnis besar yang berperan penting dalam perekonomian nasional.

Khamenei berperan penting dalam memperluas pengaruh Iran di wilayah regional melalui dukungan kepada kelompok-kelompok milisi Syiah di Irak, Lebanon, dan Suriah. Ia menginvestasikan miliaran dolar untuk mendukung aliansi yang dikenal sebagai “Poros Perlawanan” dalam menghadang dominasi Israel dan AS.

Namun, pada tahun-tahun terakhir pemerintahannya, pengaruh Iran di kawasan mulai mengecil seiring kekalahan sekutu-sekutunya, termasuk penurunan posisi rezim Assad di Suriah dan pukulan telak terhadap kelompok milisi Hezbollah dan Hamas oleh Israel. Konflik antara Iran dan Israel juga memuncak menjadi peperangan terbuka dengan dukungan AS.

Khamenei menolak normalisasi hubungan dengan AS dan menganggap Washington sebagai dalang di balik instabilitas di Timur Tengah, termasuk tuduhan mendukung kelompok ekstremis seperti ISIS. Ia juga menegaskan fatwa larangan produksi dan penggunaan senjata nuklir yang dikeluarkannya untuk menunjukkan sikap resmi Iran mengenai kebijakan nuklir.

Selama masa kekuasaannya, Iran mengalami sejumlah gelombang protes besar. Pada 2009, kerusuhan besar pecah setelah pemilu yang dianggap curang. Di tahun 2022, protes meluas setelah kematian Mahsa Amini di tangan polisi moral, yang dibalas dengan tindakan keras hingga eksekusi para demonstran.

Khamenei juga dikenal akan fatwa kontroversialnya terhadap penulis Salman Rushdie terkait novel “The Satanic Verses”. Fatwa ini masih berlaku hingga terakhir kali dikonfirmasi pada 2017, dan serangan terhadap Rushdie terjadi pada 2022 di New York.

Kini, Republik Islam Iran menghadapi ketidakpastian besar, baik dari tekanan militer Israel dan AS maupun meningkatnya ketidakpuasan dalam negeri, khususnya di kalangan generasi muda yang menginginkan perubahan. Jumlah pengangguran dan aspirasi untuk kehidupan damai dan normal menjadi suara yang semakin vokal menentang kebijakan pemerintahan yang keras.

Dampak kematian Khamenei dipandang akan membuka babak baru dalam sejarah Iran yang masih bergulat dengan tantangan internal dan eksternal. Sementara itu, proses politik dan pengamanan negara akan menjadi fokus utama bagi penerus yang akan mengambil alih tampuk kekuasaan.

Terbaru