Siapa Tiga Tokoh Kontroversial yang Memimpin Iran Sementara Setelah Kematian Khamenei, dan Apa Makna Krisis Ini?

Iran kini dijalankan sementara oleh sebuah Dewan Kepemimpinan interim setelah terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel. Dewan tiga anggota ini ditetapkan sesuai dengan Pasal 111 Konstitusi Iran, yang mengizinkan adanya dewan sementara sampai pemimpin baru resmi dipilih.

Ketiga sosok yang memimpin Iran secara sementara adalah Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, dan anggota Dewan Pengawas Ayatollah Alireza Arafi. Mereka memikul tugas berat di tengah ketegangan regional dan tekanan ekonomi yang membayangi negara tersebut.

Ayatollah Alireza Arafi merupakan anggota Dewan Pengawas sejak 2019, lembaga yang bertugas mengawasi kesesuaian undang-undang dengan prinsip-prinsip Islam dan mengawasi proses pemilihan umum. Selain itu, Arafi juga menjabat sebagai wakil ketua Majelis Ahli, yang bertanggung jawab mengawasi pemilihan Pemimpin Tertinggi. Dia memimpin salat Jumat di kota suci Qom dan mengelola sistem pendidikan para ulama di seluruh Iran.

Masoud Pezeshkian adalah seorang politikus reformis dan dokter bedah jantung yang pernah bertugas dalam Perang Iran-Irak. Ia terpilih menjadi presiden pada pemilu yang digelar dalam beberapa bulan terakhir. Pezeshkian pernah menjabat sebagai menteri kesehatan dan anggota parlemen dari Tabriz. Ia mengusung program stabilisasi ekonomi dan pelonggaran pembatasan sosial dengan tetap mempertahankan kesetiaan pada sistem konstitusional Republik Islam.

Sikap Pezeshkian terhadap pembunuhan Khamenei sangat tegas. Dalam sebuah pernyataan, ia menyebut Iran memiliki “hak dan kewajiban yang sah” untuk membalas para pelaku dan otak di balik “kejahatan bersejarah” tersebut. Langkah-langkah balasan sudah dilakukan dengan menyerang aset-aset Israel dan AS di negara-negara Teluk.

Gholam-Hossein Mohseni-Ejei menjabat sebagai kepala peradilan tertinggi Iran sejak Juli 2021. Ia dikenal sebagai tokoh garis keras dari sayap konservatif pemerintah. Sebelumnya, Mohseni-Ejei pernah menjadi menteri intelijen, jaksa agung, dan wakil ketua mahkamah agung. Selama krisis nilai tukar rial yang memicu protes keras, ia mengingatkan bahwa pemerintah tidak akan memberikan toleransi terhadap para “perusuh”.

Mohseni-Ejei juga menuding Amerika Serikat dan Israel secara terang-terangan mendukung kerusuhan tersebut. Pernyataan itu muncul ketika mantan Presiden AS, Donald Trump, secara terbuka menyerukan perubahan pemerintahan Iran dan menyerukan rakyat Iran untuk turun ke jalan. Setelah serangan tersebut, Trump kembali memprovokasi rakyat Iran agar menggulingkan pemerintahannya dengan menyebut peluang tersebut sebagai kesempatan “hanya untuk generasi ini saja”.

Berikut adalah anggota Dewan Kepemimpinan interim Iran:

  1. Ayatollah Alireza Arafi – anggota Dewan Pengawas dan wakil ketua Majelis Ahli.
  2. Masoud Pezeshkian – Presiden Iran yang beraliran reformis.
  3. Gholam-Hossein Mohseni-Ejei – Kepala Mahkamah Agung dan tokoh garis keras.

Ketiganya menjalankan fungsi kepemimpinan tertinggi sementara setelah kematian Khamenei, memegang peranan sentral dalam menjaga stabilitas negara dan memutuskan langkah-langkah strategis selama masa transisi. Proses pemilihan pemimpin baru dikontrol ketat oleh Majelis Ahli yang juga dipimpin sebagian oleh Dewan Kepemimpinan interim.

Situasi Iran saat ini sangat genting, dengan respons keras terhadap serangan yang menewaskan Khamenei, serta tekanan dari dalam dan luar negeri yang menuntut perubahan atau stabilitas. Dewan Kepemimpinan interim harus menjaga keseimbangan antara melanjutkan garis politik Khamenei dan merespons aspirasi rakyat serta kondisi geopolitik yang berkembang.

Exit mobile version