Kematian Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang saat ini berusia 86 tahun, telah memicu perhatian baru terhadap calon penggantinya. Di tengah spekulasi yang makin intens, seorang tokoh yang mendapatkan sorotan utama adalah Hassan Khomeini, cucu dari Ayatollah Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam Iran.
Hassan Khomeini dikenal sebagai sosok yang relatif moderat di kalangan ulama Iran. Ia memiliki hubungan erat dengan kalangan reformis, termasuk mantan presiden Mohammad Khatami dan Hassan Rouhani, yang dikenal dengan kebijakan engagement terhadap Barat. Meskipun tidak pernah menduduki jabatan pemerintahan, Hassan memegang posisi simbolis sebagai penjaga makam kakeknya di Tehran selatan.
Posisi Hassan Khomeini dalam Dinamika Politik Iran
Beberapa politisi di Iran memandang Hassan sebagai calon pesaing bagi kubu keras kepala yang menguat di bawah Khamenei, khususnya kelompok yang dipimpin oleh putranya, Mojtaba. Perhatian kepada Hassan meningkat pasca kerusuhan besar yang melanda Iran di awal tahun ini. Kerusuhan tersebut membuat sebagian politikus mendesak penunjukan pemimpin baru yang lebih moderat demi menstabilkan negara di tengah gelombang protes.
Hassan Khomeini memang dikenal loyal pada sistem Republik Islam, namun ia kerap menyuarakan tuntutan reformasi. Pada 2021, misalnya, ia mengkritik Dewan Pengawas (Guardian Council) yang melarang kandidat reformis mengikuti pemilihan presiden. Ia menyatakan, "Anda tidak bisa memilih seseorang untuk saya dan menyuruh saya memilihnya." Kritikan seperti ini menunjukkan keberaniannya mengangkat isu transparansi dan keadilan di tengah sistem yang ketat.
Sikap Khomeini Terhadap Isu Sosial dan Politik
Kematian Mahsa Amini, seorang wanita muda yang wafat setelah ditahan polisi moral tahun lalu, memicu protes nasional. Hassan menuntut pertanggungjawaban atas insiden ini dengan mengatakan, "Pihak berwenang harus secara transparan dan tepat menjelaskan apa yang terjadi pada gadis berusia 22 tahun ini dengan dalih ‘bimbingan dan pendidikan’."
Namun demikian, Hassan juga menunjukkan sikap mendukung pemerintah saat terjadi kerusuhan hebat akhir tahun lalu. Ia menuding para pengunjuk rasa sebagai agen Israel dan menyamakan sebagian kekerasan dengan tindakan ISIS. Dalam surat belasungkawa terhadap Khamenei, Hassan menyebutnya sebagai "pahlawan rakyat Iran dan umat Muslim," menegaskan bahwa rakyat Iran akan kembali menapaki jalan kakeknya dengan melewati masa sulit ini.
Profil dan Latar Belakang Hassan Khomeini
Seorang teman dekat Hassan menyebutnya sebagai teolog progresif yang peduli pada musik, hak perempuan, dan kebebasan sosial. Ia mengikuti perkembangan media sosial dengan minat yang sama besar terhadap filsafat Barat dan pemikiran Islam. Istri Hassan, Sayyeda Fatima, juga berasal dari keluarga ulama, dengan ayahnya seorang Ayatollah. Pasangan ini dikaruniai empat anak.
Pada 2012, berbagai kalangan reformis mendorongnya mencalonkan diri sebagai presiden, tetapi ia menolak. Hassan juga mendukung pemerintahan Rouhani yang menegosiasikan kesepakatan nuklir 2015, yang kemudian dibatalkan oleh Presiden AS saat itu, Donald Trump. Ia terbuka menyatakan keprihatinan atas dampak sanksi ekonomi yang memberatkan rakyat Iran.
Upaya Hassan Khomeini dalam Dunia Politik Formal
Sekitar satu dekade lalu, Hassan berusaha maju dalam pemilihan anggota Majelis Ahli, badan yang bertugas memilih pemimpin tertinggi. Ia sempat mendapat persetujuan awal dari Khamenei, dengan syarat agar tidak merusak nama besar kakeknya. Namun, Guardian Council kemudian menolaknya dengan alasan kompetensi religius. Penolakan ini diduga bertujuan menghalangi berkembangnya kekuatan reformis.
Di tahun 2008, Hassan pernah menyindir Korp Pengawal Revolusi Islam (IRGC), mengingatkan bahwa menurut warisan kakeknya, militer tidak boleh terlibat dalam politik. Meski demikian, hubungan Hassan dengan IRGC tetap erat sebab lembaga ini dianggap sebagai penjaga revolusi.
Pandangan Hassan Khomeini tentang Konflik Regional dan Hubungan dengan Israel
Selama konflik udara antara Israel dan Iran yang berlangsung 12 hari, Hassan memuji kepemimpinan Khamenei dan menyatakan bahwa rudal Iran menjadi ancaman nyata bagi Israel serta kebanggaan bagi rakyat Iran. Dalam pandangannya, Israel adalah "rezim Zionis jahat" dan "tumor kanker" yang didukung oleh Barat. Hassan menyerukan umat Muslim untuk memperkuat diri melawan Zionisme.
Ia menguasai bahasa Arab dan Inggris dengan lancar. Sebelum belajar teologi di kota Qom, Hassan aktif sebagai pemain sepak bola hingga usia 21 tahun, sesuai permintaan kakeknya. Penggabungan wawasan modern dan tradisi keagamaan ini memberi Hassan posisi unik di panggung politik dan keagamaan Iran.
Keberadaan Hassan Khomeini sebagai figur moderat dan reformis dengan akar kuat dalam tradisi keagamaan membuatnya menjadi kandidat signifikan dalam penentuan pemimpin tertinggi berikutnya. Proses penggantian Khamenei akan menjadi momen krusial bagi masa depan Republik Islam Iran.









