Setelah Khamenei Gugur, Siapa Kandidat Terkuat Pengganti Dengan Ancaman Perpecahan dan Kuasa Militer di Iran?

Pergantian kepemimpinan di Iran setelah tewasnya Ayatollah Ali Khamenei menjadi perhatian global yang belum menemukan jawaban pasti. Serangkaian serangan yang dilancarkan oleh AS dan Israel berhasil menyingkirkan banyak kandidat potensial penerus Khamenei. Mantan Presiden AS Donald Trump bahkan mengakui bahwa gagasan penerus yang mereka miliki turut tewas dalam serangan tersebut, sehingga pemimpin baru tidak berasal dari daftar yang sempat mereka pertimbangkan.

Menurut konstitusi Iran, pemimpin tertinggi harus berupa ulama Syiah yang dipilih oleh Majelis Ahli Ulama, yang terdiri atas 88 anggota ulama terpilih. Untuk sementara, kekosongan kepemimpinan diisi oleh dewan sementara yang diketuai oleh Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni-Eje’i, dan Ayatollah Alireza Arafi dari Dewan Pengawal. Situasi ini berlangsung di tengah ketegangan dan kerusuhan domestik yang meluas serta serangan militer berkelanjutan dari AS dan Israel yang bertujuan mengacaukan rezim revolusioner yang berdiri sejak 1979.

Gholam-Hossein Mohseni-Eje’i: Calon Kuat dari Lingkaran Mahkamah Agung
Gholam-Hossein Mohseni-Eje’i, berusia 69 tahun, saat ini memimpin sistem peradilan Iran setelah diangkat Khamenei pada 2021. Ia dikenal sebagai tokoh keras garis keras konservatif. Pengalaman panjangnya antara lain menjabat Menteri Intelijen dan Jaksa Agung. Tahun 2011, Mohseni-Eje’i dikenai sanksi oleh AS dan Uni Eropa karena perannya dalam penindasan protes pascapemilihan presiden 2009, termasuk penangkapan, penyiksaan, dan pemaksaan pengakuan palsu terhadap aktivis dan jurnalis. Di tengah protes massal menanggapi krisis ekonomi, ia menegaskan sikap tanpa kompromi terhadap pengunjuk rasa serta menuduh AS dan Israel mendalangi kerusuhan tersebut.

Hassan Khomeini: Potret Moderasi dari Garis Keturunan Revolusi
Hassan Khomeini merupakan cucu dari pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Meskipun tidak pernah memegang jabatan publik resmi, ia dinilai kandidat potensial karena garis keturunannya dan pandangan reformis yang relatif lebih moderat. Reuters melaporkan bahwa setelah serangan pada fasilitas nuklir Iran, Hassan Khomeini sempat muncul sebagai kandidat terkuat penerus Khamenei. Ia dihormati di kalangan Garda Revolusi serta ulama senior, meski pada 2016 dilarang mencalonkan diri di Majelis Ahli Ulama oleh faksi konservatif yang kuat.

Mojtaba Khamenei: Pewaris dengan Pengaruh Berlimpah Namun Kontroversial
Mojtaba Khamenei, putra kedua Ali Khamenei yang berusia 56 tahun, memiliki pengaruh besar di kalangan militer dan politik, khususnya Garda Revolusi dan pasukan paramiliter Basij. Bloomberg melaporkan bahwa Mojtaba mengelola kekayaan besar dengan aset di Swiss dan Inggris meski dikenai sanksi AS sejak 2019. Namun, suksesi dari ayah ke anak ini berpotensi memicu kemarahan publik dan elite Syiah karena dianggap mengarah pada monarki yang ditolak setelah revolusi 1979. Ali Khamenei sendiri disebutkan menentang penerusan garis keluarga sebagai pemimpin tertinggi.

Alireza Arafi: Tokoh Dewan Pengawal dengan Loyalitas Kuat
Alireza Arafi masuk dalam dewan kepemimpinan sementara setelah wafatnya Khamenei. Ia merupakan anggota Dewan Pengawal sejak 2019 dan kepala seminari Islam yang berpengaruh di Iran. Dewan ini memiliki peran signifikan mengawasi dan mengontrol jalannya pemilu dan legislasi yang harus sesuai syariat Islam. Alex Vatanka dari Middle East Institute menyebut Arafi sebagai loyalis Khamenei yang diangkat ke posisi strategis untuk melanjutkan agenda pendahulunya.

Mohammad Mehdi Mirbagheri: Wajah Konservatif dan Retorika Keras
Sebagai anggota Majelis Ahli Ulama sejak 2015, Mohammad Mehdi Mirbagheri dikenal sebagai konservatif keras dan pendukung garis revolusioner. Ia menonjol setelah kematian mendadak Presiden Ebrahim Raisi tahun lalu dengan mendukung kandidat garis keras Saeed Jalili. Mirbagheri kerap menggunakan retorika keras memusuhi kelompok yang dianggap "kafir" dan menyematkan demonstrasi "Wanita, Hidup, Kebebasan" sebagai konspirasi Barat.

Ali Larijani: Politikus Berpengaruh Meski Bukan Ulama Senior
Ali Larijani, berusia 67 tahun, memimpin Dewan Keamanan Nasional setelah diangkat kembali tahun lalu. Ia punya rekam jejak panjang sebagai mantan komandan Garda Revolusi, kepala penyiaran nasional, dan negosiator nuklir. Meskipun merupakan tokoh penting dalam politik Iran dan dikenal sebagai pragmatis loyal, Larijani tidak memenuhi syarat konstitusional menjadi Pemimpin Tertinggi karena bukan ulama senior. Ia menyerukan pembalasan keras atas serangan AS dan Israel.

Daftar Tokoh Potensial Penerus Khamenei:

  1. Gholam-Hossein Mohseni-Eje’i – Kepala Kehakiman
  2. Hassan Khomeini – Cucu Pendiri Republik Islam
  3. Mojtaba Khamenei – Putra Ali Khamenei
  4. Alireza Arafi – Anggota Dewan Pengawal
  5. Mohammad Mehdi Mirbagheri – Ulama Konservatif
  6. Ali Larijani – Politikus dan Pakar Keamanan

Kepemimpinan baru Iran akan sangat menentukan arah stabilitas politik dan sosial negara serta hubungan internasionalnya. Selain mengikuti mekanisme konstitusional, dinamika politik internal dan pengaruh eksternal juga akan menjadi faktor penting dalam menentukan nama pengganti Khamenei. Proses ini berlangsung di tengah tekanan berat akibat konflik militer dan kerusuhan dalam negeri, menambah ketidakpastian masa depan Republik Islam Iran.

Berita Terkait

Back to top button