Perundingan sengit antara Tesla dan serikat pekerja Jerman IG Metall akan segera berlangsung menyusul pemilihan dewan kerja di pabrik Tesla di sekitar Berlin. IG Metall berupaya mendapatkan kendali dewan kerja, sebuah badan yang mewakili karyawan dalam negosiasi upah dan jam kerja dengan manajemen.
Di Jerman, dewan kerja merupakan institusi penting dalam dunia korporasi, khususnya sektor otomotif. Namun, di pabrik Tesla yang mulai beroperasi sejak tahun lalu, kehadiran dewan kerja menjadi sumber ketegangan dengan manajemen perusahaan. Pemungutan suara minggu ini menjadi puncak permasalahan tersebut.
Elon Musk, pemilik Tesla dan pendukung gagasan libertarian, bersitegang dengan IG Metall yang telah berusia lebih dari satu abad dan dikenal memperjuangkan hak-hak buruh di Jerman. Serikat pekerja menuduh Tesla melakukan praktik “union busting” atau penghalangan pembentukan dan aktivitas serikat pekerja.
Pabrik Tesla di Grünheide, Brandenburg, mempekerjakan sekitar 10.000 orang. Di luar pabrik, terlihat spanduk IG Metall yang menuntut perubahan serta mural besar yang merayakan solidaritas pekerja. IG Metall mengkritik kondisi kerja di Tesla dan adanya pemutusan hubungan kerja diam-diam yang diperparah tanpa adanya perjanjian bersama yang mengatur perlindungan pekerja.
Pada pemilihan sebelumnya, IG Metall memperoleh 39 persen suara, namun koalisi empat daftar yang tidak berafiliasi dengan serikat berhasil menguasai mayoritas dewan kerja. Menurut Ernesto Klengel dari Hans-Boeckler Foundation yang berkaitan dengan serikat pekerja, situasi Tesla di Jerman “sangat berbeda” karena tidak adanya mayoritas serikat di dewan kerja.
Klengel menuturkan manajemen Tesla belum menunjukkan niat baik untuk bekerja sama secara konstruktif. Pendekatan konfrontatif ini dianggap belum pernah terjadi di pabrik otomotif lain sebelumnya. Selain persoalan internal, Tesla juga menghadapi persaingan ketat dari produsen mobil listrik China di pasar Eropa.
Hubungan Tesla dengan publik Jerman juga memburuk setelah Elon Musk memberi dukungan kepada partai sayap kanan AfD. Beberapa pekerja, yang tidak ingin disebutkan namanya karena sensitivitas masalah, mengeluhkan perlakuan diskriminatif dan beban kerja yang tidak adil, khususnya kepada karyawan dari komunitas Afrika yang jarang diberikan promosi atau posisi kepemimpinan.
Seorang pekerja logistik asal Nigeria yang ikut dalam pencalonan IG Metall mengatakan bahwa manajemen Tesla tidak mendengarkan aspirasi karyawannya. Di sisi lain, pekerja bernama Ali menyatakan puas atas gaji dan fasilitas yang diterima, termasuk saham perusahaan.
Andre Thierig, direktur pabrik, menyatakan Tesla membayar karyawannya lebih tinggi dibanding pesaing dan mengkritik perjanjian kolektif yang dianggap merugikan industri Jerman. Ia juga menuduh anggota IG Metall merekam rapat dewan kerja secara ilegal, yang memicu ancaman gugatan dari serikat.
Musk memperingatkan tidak akan ada investasi lebih lanjut jika IG Metall menjadi mayoritas di dewan kerja. Jan Otto, manajer regional IG Metall di Jerman timur, menanggapi bahwa Musk harus menghormati aturan tata kelola perusahaan dan demokrasi di Jerman. Otto juga menyerukan pemerintah Brandenburg untuk turun tangan.
Kementerian ekonomi regional menyatakan mendukung perusahaan, termasuk Tesla, untuk mengadakan perjanjian bersama serta menawarkan kondisi kerja yang menarik guna mendorong stabilitas dan keberlanjutan pabrik. Konflik ini mencerminkan benturan budaya kerja antara model Amerika dan tradisi ketenagakerjaan Jerman yang telah berlangsung lama.







