Beberapa aktivis Greenpeace asal Eropa ditangkap oleh polisi Prancis setelah mereka memblokade sebuah kapal kargo yang diduga mengangkut uranium dari Rusia untuk pembangkit listrik tenaga nuklir di Prancis. Aksi ini berlangsung selama lima jam di pelabuhan Dunkirk, utara Prancis, pada Senin pagi, dengan sekitar 20 pengunjuk rasa membawa spanduk bertuliskan “Stop toxic contracts” dan “Solidarity with Ukrainians”.
Kantor kejaksaan Dunkirk menyatakan empat orang yang terdiri dari tiga wanita dan satu pria kini dalam tahanan. Mereka berasal dari Jerman, Austria, dan Belanda. Penyelidikan dibuka atas tuduhan “menghalangi kebebasan bekerja” yang dapat berujung pada hukuman penjara satu tahun dan denda hingga 15.000 euro.
Greenpeace secara berulang mengkritik hubungan perusahaan energi milik negara Prancis, EDF, dengan perusahaan Rusia Rosatom. Tahun 2018, EDF menandatangani kontrak senilai 600 juta euro dengan Tenex, anak usaha Rosatom, untuk mengirim uranium bekas dari pembangkit nuklir Prancis ke Rusia. Uranium tersebut kemudian diproses ulang dan diperkaya kembali di fasilitas unik milik Rosatom di Seversk, Siberia.
Para aktivis yang ikut memblokade kapal menggunakan kayak dan memasang spanduk besar bertuliskan “Uranium: EDF loves Putin” sebagai bentuk protes terhadap kerja sama EDF dengan Rusia. Pauline Boyer, aktivis energi Greenpeace Prancis, menyebutkan perdagangan uranium ini secara tidak langsung mendanai perang yang dipimpin Presiden Vladimir Putin di Ukraina.
Greenpeace juga melaporkan bahwa pelabuhan Dunkirk kerap dijadikan tempat berlabuh kapal-kapal seperti Mikhail Dudin yang terbukti mengangkut uranium, baik alamiah maupun yang sudah diperkaya, dari Rusia ke Prancis. Setelah aksi blokade, mereka mengamati sekitar 40 kontainer uranium alamiah sedang dipindahkan ke kereta api, sementara kontainer uranium yang diperkaya dibawa dengan truk.
Data pelacakan Global Fishing Watch menunjukkan kapal Mikhail Dudin telah melakukan lebih dari 20 perjalanan pulang-pergi antara Dunkirk dan pelabuhan-pelabuhan di Rusia seperti Vistino, Ust-Luga, dan Saint Petersburg sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada akhir Februari 2022. Kapal lain, Baltiyskiy-202, juga melakukan lebih dari 15 perjalanan serupa dalam periode yang sama.
Kedua kapal berlayar dengan bendera Panama dan dimiliki oleh perusahaan yang terdaftar di Hong Kong. Pada 2022, Prancis sempat memerintahkan EDF menghentikan perdagangan uranium dengan Rosatom setelah kontrak itu terbongkar oleh Greenpeace. Namun, Kepala Divisi Bahan Bakar Nuklir EDF, Jean-Michel Quilichini, menyatakan pada bulan Maret bahwa EDF tetap berkomitmen untuk menjalankan kontrak 2018 tersebut.
Sebagai respons atas kritik dan situasi geopolitik, pemerintah Prancis telah mengumumkan rencana serius untuk membangun fasilitas pengolahan uranium sendiri sebagai upaya menggantikan ketergantungan pada Rusia. Analisis data bea cukai Prancis mengungkapkan bahwa pada tahun 2025, impor uranium dan senyawanya dari Rusia mencapai minimal 112 ton, atau sekitar seperempat dari total pembelian uranium Prancis berdasarkan volume.
Jumlah impor uranium dari Rusia memang menurun secara signifikan antara tahun 2022 hingga 2024. Namun, volume yang tetap ada menunjukkan bahwa kerja sama energi nuklir antara Prancis dan Rusia masih berlangsung meskipun adanya perang dan tekanan internasional. Protes yang dilakukan Greenpeace menyoroti dilema etis dan strategis yang dihadapi Prancis dalam menjaga kebutuhan energi nuklir sambil merespons konflik geopolitik global.







