Selama hampir 50 tahun, sebuah desa kecil di Prancis menjadi saksi bisu perjuangan spiritual Ayatollah Ruhollah Khomeini dalam menggerakkan revolusi Islam di Iran. Desa Neauphle-le-Chateau yang terletak sekitar 40 kilometer di barat Paris itu pernah menjadi markas sementara Khomeini sebelum revolusi Iran mencapai puncaknya dan menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi.
Neauphle-le-Chateau pun menjadi sorotan dunia ketika Khomeini menetap di sebuah vila selama sekitar 120 hari mulai Oktober 1978 hingga Februari 1979. Ia menggunakan waktu tersebut untuk menyusun strategi dan merekam pidato-pidato yang menyerukan penggulingan rezim Shah. Pidato-pidato ini kemudian diselundupkan ke Iran dalam bentuk kaset suara yang beredar luas.
Peran Strategis Neauphle-le-Chateau dalam Revolusi Iran
Ayatollah Khomeini tiba di Prancis setelah diusir dari pengasingan sebelumnya di Najaf, Irak, akibat tekanan dari diktator Saddam Hussein. Pilihan Neauphle-le-Chateau bukan tanpa alasan, karena Prancis menjadi satu-satunya negara di Eropa yang bisa dimasuki tanpa visa khusus bagi Khomeini. Seorang tokoh masa depan Iran, Abolhassan Banisadr, bahkan sempat menawarkan akomodasi di wilayah lain, namun akhirnya vila di Neauphle-le-Chateau dipilih sebagai pusat operasi revolusi.
Di desa yang hanya berjarak 20 kilometer dari Istana Versailles ini, Khomeini menerima para pengunjung, khususnya kaum muda Iran yang sedang menuntut ilmu di Jerman. Keberadaannya telah mengubah suasana desa yang biasanya tenang menjadi pusat perhatian media dan aktivitas politik internasional.
Dampak Sosial dan Politik di Neauphle-le-Chateau
Penduduk setempat mengingat masa-masa ketika desa mereka dipenuhi oleh polisi dan pemblokiran jalan. Seorang warga berusia 87 tahun mengenang ketatnya pengamanan selama tinggal Khomeini, meski masyarakat tidak merasa terganggu secara langsung. Ada juga pandangan yang menilai kejadian tersebut sebagai peristiwa kecil dalam sejarah desa, tetapi tetap menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat.
Vila tempat Khomeini tinggal mengalami nasib tragis setelah revolusi. Pada Februari 1980, sebuah ledakan menghancurkan rumah tersebut tanpa jelas penyebabnya. Meski bangunannya kini telah digantikan, situs itu sempat diberi papan peringatan yang mengaitkan desa dengan peranan penting Khomeini, walaupun papan tersebut kemudian dirusak pada tahun 2023.
Warisan Budaya dan Hubungan Diplomatik
Setiap tahun, Neauphle-le-Chateau tetap menjadi tempat ziarah bagi para pendukung Khomeini. Sekitar 150 hingga 200 orang, termasuk diplomat Iran, berkumpul untuk memperingati kembalinya sang ayatollah ke Iran pada tanggal 1 Februari. Di Tehran, kenangan terhadap desa ini juga diabadikan lewat penamaan sebuah jalan "Neauphle-le-Chateau", di mana kedutaan besar Prancis pun berdiri.
Peristiwa ini menunjukkan bagaimana sebuah desa kecil di luar Prancis memainkan peranan penting dalam sejarah politik dunia. Tak hanya sebagai tempat tinggal sementara, Neauphle-le-Chateau menjadi pusat penyebaran ide revolusioner yang mengubah wajah Iran dan berpengaruh pada geopolitik internasional hingga hari ini.
