Far Right Eropa Bersatu Usai Aktivis Prancis Tewas, Ancaman Baru Jaringan Ekstremis Lintas Negara Menguat

Pembunuhan Quentin Deranque, aktivis sayap kanan muda berusia 23 tahun di Lyon, Prancis, telah memicu gelombang solidaritas di kalangan kelompok ekstrem kanan Eropa. Kejadian ini mendorong aksi unjuk rasa serentak di berbagai kota, menandai penguatan jaringan transnasional antara kelompok sayap kanan di benua tersebut.

Deranque tewas setelah bentrok dengan aktivis sayap kiri pada pertengahan Februari, dan insiden ini dianggap sebagai momen penting yang membangkitkan gairah politik ekstrem kanan, mirip dengan kasus penembakan aktivis konservatif Amerika Serikat, Charlie Kirk. Ratusan hingga ribuan pendukung berkumpul dalam aksi solidaritas di Lyon, dengan jejak kelompok dari berbagai negara Eropa yang hadir.

Jaringan dan Aliansi Ekstrem Kanan di Eropa

Massa yang hadir dalam unjuk rasa di Lyon mencapai sekitar 3.000 orang. Mereka menunjukkan simbol dan seruan yang kontroversial, seperti salam Nazi, serta ujaran kebencian rasial dan homofobik. Kelompok yang ikut datang antara lain Identitarian movement dari Jerman, CasaPound dan Lealta Azione dari Italia, yang memiliki akar neo-fasis.

Menurut sumber pemerintah Prancis, aktivis sayap kanan dari Italia, Swiss, dan Jerman turut hadir. Ini menunjukkan bahwa aliansi kelompok ekstrem kanan kini tak lagi berbatas lokal, tetapi telah berkembang menjadi kolaborasi lintas negara. Data intelijen Jerman mencatat peningkatan anggota ekstrem kanan hingga 50% sejak tahun 2020, menandakan pergerakan yang semakin masif.

Perkembangan Kolaborasi dan Masuknya Sayap Kanan ke Ranah Politik

Laporan parlemen Prancis tahun lalu menyatakan bahwa sebelumnya kelompok ekstrem kanan di Eropa lebih banyak bertukar ide tanpa keterlibatan operasional. Namun, para pengamat meyakini kini telah terjadi perubahan signifikan. Kelompok-kelompok ini mulai membentuk kerja sama yang lebih nyata dan intens.

Seorang analis dari Amadeu Antonio Foundation menjelaskan bahwa kematian Deranque berperan sebagai katalis, memperkuat mobilisasi di media sosial dan mempererat hubungan antar pengikut sayap kanan di berbagai negara. Selain itu, beberapa partai politik utama kini mengadopsi kebijakan yang semula dianggap ekstrem, seperti "remigrasi" yang mendorong pengusiran imigran non-putih.

Contohnya, partai Alternative for Germany (AfD) dan Reform UK di Britania sudah memasukkan agenda deportasi massal dalam platform mereka. Sementara, National Rally Prancis memperjuangkan kebijakan "preferensi nasional" yang membatasi hak imigran dalam berbagai aspek sosial dan ekonomi.

Kekhawatiran Keamanan dan Pengawasan Intelijen

Otoritas Lyon menyiagakan pengamanan ekstra selama unjuk rasa, termasuk penempatan polisi di titik masuk kota untuk mengantisipasi kedatangan aktivis dari berbagai wilayah. Lembaga intelijen Prancis secara aktif memantau perkembangan mobilisasi ekstrem kanan untuk mencegah aksi balas dendam dan potensi kekerasan.

Menteri Luar Negeri Prancis juga mengingatkan tentang upaya kelompok sayap kanan dalam melemahkan demokrasi menjelang pemilihan presiden. Beberapa negara Eropa telah melarang masuk tokoh ekstrem kanan tertentu, misalnya Austria dan Jerman menolak akses Martin Sellner, sementara Inggris tidak memberikan visa bebas bagi influencer sayap kanan asal Belanda.

Peran Kelompok dan Tokoh dalam Mobilisasi Terbaru

Pawai di Lyon menampilkan keberagaman kelompok sayap kanan yang berafiliasi dengan partai politik besar seperti RN Prancis dan AfD Jerman. Salah satu pengorganisir lokal adalah Aliette Espieux, tokoh anti-aborsi yang pernah maju dalam pemilu kota bersama RN dan partai Kristen Demokratis.

Sekelompok aktivis Lealta Azione Italia, yang memiliki hubungan dengan partai pimpinan Giorgia Meloni dan Matteo Salvini, juga ikut hadir. Kelompok media alternatif sayap kanan Jerman, Filmkunstkollektiv, bahkan aktif menyebarluaskan berita terkait pembunuhan Deranque untuk menggalang dukungan yang lebih luas.

Aktivis sayap kanan German Arminius, yang ikut dalam aksi, menegaskan pentingnya membangun jaringan dan kerja sama lintas negara untuk memperkuat gerakan mereka. Ia menyebutkan bahwa belajar dari pengalaman sesama aktivis di Eropa menjadi kunci keberhasilan proyek politik mereka di masa depan.

Pergerakan sayap kanan di Eropa kini tampak semakin terorganisir dan bersatu dalam merespons insiden yang dianggap sebagai simbol perjuangan mereka. Dinamika ini tidak hanya berdampak pada tingginya mobilisasi akar rumput, tetapi juga mengubah lanskap politik dan keamanan di berbagai negara Eropa.

Terkait