Ketegangan di Timur Tengah terus meningkat dengan serangkaian serangan dan langkah militer yang terbaru. Iran meluncurkan rudal-rudal ke wilayah Israel pada Kamis pagi, menyebabkan sistem peringatan di beberapa kota seperti Tel Aviv aktif. Ledakan juga terdengar di ibu kota Israel, Yerusalem, namun otoritas darurat melaporkan tidak ada korban jiwa akibat serangan rudal tersebut.
Di balik serangan Iran, Tehran juga mengalami beberapa ledakan yang membuat negara itu mengaktifkan sistem pertahanan udaranya. Sementara itu, di Beirut, Lebanon, sebuah serangan udara menargetkan markas besar Hezbollah di bagian selatan kota, dengan peringatan bagi warga setempat sebelumnya. Serangan ini menewaskan sedikitnya tiga orang dalam dua serangan terhadap kendaraan di jalan menuju bandara Beirut, menurut kementerian kesehatan Lebanon.
Insiden Maritim dan Evakuasi
Di perairan dekat Kuwait, kapal tanker yang tengah berlabuh mengalami ledakan besar yang menyebabkan tumpahan minyak di laut. Insiden ini disampaikan oleh badan keamanan maritim Inggris UKMTO, yang juga melaporkan adanya sebuah kapal kecil meninggalkan lokasi ledakan. Selain itu, Qatar memulai evakuasi warga yang tinggal di dekat kedutaan besar Amerika Serikat sebagai tindakan antisipasi pasca-serangan rudal Iran. Pengurangan risiko juga dilakukan oleh negara-negara lain di wilayah tersebut.
Tembakan Rudal dan Tanggapan Internasional
Sebuah rudal balistik yang diluncurkan dari Iran dan menuju wilayah udara Turki berhasil dihancurkan oleh pertahanan udara NATO. Pemerintah Turki menyebut rudal tersebut awalnya ditujukan ke sebuah pangkalan di Siprus Yunani, tetapi keluar dari jalur. Kementerian luar negeri Turki langsung memanggil duta besar Iran untuk memberikan penjelasan terkait insiden tersebut.
Sementara itu, Amerika Serikat menyatakan dukungannya terhadap operasi militer ini. Presiden Donald Trump menyebut kinerja AS dalam perang ini sangat baik dan para pemimpin Iran mengalami kematian yang bertubi-tubi. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa hubungan dengan AS dalam konflik ini telah menghasilkan kemajuan bersejarah. Namun, upaya kongres AS untuk membatasi kekuasaan Trump dalam melanjutkan serangan militer terhadap Iran gagal dalam pemungutan suara di Senat.
Respons dan Kebijakan Negara Lain
Beberapa negara lain juga memberikan respons terkait perang ini. Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyatakan tidak bisa menutup kemungkinan keterlibatan negaranya dalam konflik demi mendukung sekutu. Namun, Spanyol menegaskan penolakannya atas klaim AS yang menyebut Madrid akan bekerja sama dalam operasi militer, dengan menegaskan bahwa sikap mereka terhadap penggunaan basis militer dan serangan terhadap Iran tetap konsisten menentang.
China, yang dikenal sebagai mitra dekat Iran, mengumumkan akan mengirim utusan khusus untuk memediasi konflik ini. Beijing menyerukan agar pihak-pihak terkait menghentikan serangan dan mempertahankan kedaulatan wilayah masing-masing.
Dampak Terhadap Industri Pelayaran dan Energi
Perusahaan pelayaran besar seperti Maersk dari Denmark dan Hapag-Lloyd dari Jerman menghentikan sementara pemesanan pengiriman di Teluk Persia setelah evaluasi risiko yang meningkat. Hal ini mengikuti langkah serupa dari perusahaan pelayaran China, Cosco. Kondisi ini menyebabkan harga minyak naik karena adanya ancaman nyata terhadap jalur pelayaran kritis, Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama bagi tanker minyak global. Otoritas Iran mengklaim telah "mengendalikan sepenuhnya" Selat Hormuz setelah insiden terbaru.
Di sisi lain, Angkatan Laut Oman berhasil menyelamatkan 24 kru kapal kontainer yang terkena serangan rudal di Selat Hormuz. Peristiwa ini berlangsung sehari setelah pernyataan AS yang menyatakan kesiapan angkatan lautnya untuk mengawal tanker melalui kawasan tersebut.
Kerugian Manusia Akibat Perang
Di wilayah lain, kapal perang Iran terkena torpedo dari kapal selam Amerika Serikat di lepas pantai Sri Lanka. Pihak angkatan laut Sri Lanka mengonfirmasi telah berhasil mengumpulkan 87 jasad korban. Insiden ini menambah daftar panjang korban jiwa yang timbul akibat konflik yang terus berlangsung.
Perang di Timur Tengah masih berlanjut dengan eskalasi berbagai serangan dan respons militer dari berbagai pihak. Kondisi ini memicu kekhawatiran global menyangkut stabilitas keamanan kawasan dan dampaknya terhadap perdagangan internasional. Berbagai negara dan organisasi internasional kini memantau ketat situasi dengan harapan terciptanya penyelesaian yang menghentikan pertumpahan darah dan kerugian lebih lanjut.









