Cuba Terperangkap Gelap Massal Di Tengah Krisis Energi, Ecuador Usir Dubes Havana dalam Tegangan Diplomatik Memuncak!

Kuba mengalami pemadaman listrik besar-besaran yang menjangkau mayoritas wilayah negara tersebut, termasuk ibu kotanya, Havana. Perusahaan listrik negara UNE mengonfirmasi bahwa sekitar dua pertiga wilayah Kuba terdampak, dan mereka sedang berupaya mengembalikan pasokan listrik secepat mungkin.

Pemadaman ini disebabkan oleh gangguan teknis di pembangkit listrik termoelektrik Antonio Guiteras yang terletak sekitar 100 km sebelah timur Havana. Gangguan tersebut membuat listrik padam dari provinsi Pinar del Rio di barat hingga Las Tunas di timur. Media negara Kuba, Cubadebate, melaporkan pemadaman membuat siaran televisi negara terhenti dan berita nasional yang biasanya tayang sore hari mengalami keterlambatan lebih dari 30 menit.

Krisis listrik di Kuba sebenarnya sudah berlangsung lama dengan pemadaman harian yang bisa berlangsung hingga 20 jam, dikarenakan kekurangan bahan bakar untuk mengoperasikan pembangkit listrik. Kondisi ini kian memburuk setelah Amerika Serikat memutus pasokan bahan bakar dari Venezuela, mitra utama Kuba dalam suplai minyak. Pemutusan ini terjadi setelah penangkapan paksa Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, oleh AS yang disertai embargo minyak terhadap Kuba.

Keterbatasan bahan bakar tersebut juga memaksa pemerintah Kuba untuk melakukan pembatasan layanan penting lain seperti pengumpulan sampah dan transportasi umum. Menurunnya suplai minyak memperparah tekanan ekonomi terhadap negara pulau tersebut, yang telah menghadapi sanksi dan pembatasan yang semakin ketat dari pemerintahan Trump.

Di tengah situasi ini, hubungan diplomatik Kuba dengan Ekuador mengalami kemunduran. Pemerintah Ekuador baru-baru ini mengumumkan pengusiran Duta Besar Kuba Basilio Gutierrez dan seluruh staf kedutaan dari ibu kota Quito dalam waktu 48 jam. Keputusan ini didasarkan pada Pasal 9 Konvensi Wina tentang Hubungan Diplomatik yang memungkinkan sebuah negara menolak keberadaan diplomat asing tanpa perlu memberikan alasan spesifik.

Langkah Ekuador ini tidak dijelaskan lebih lanjut, namun Presiden Daniel Noboa, yang dikenal sebagai sekutu dekat Presiden Trump, tampaknya mengikuti kebijakan keras AS terhadap Kuba. Trump bahkan sempat menyatakan kemungkinan dilakukannya “pengambilalihan secara ramah” terhadap Kuba. Namun, belum ada konfirmasi bahwa pengusiran tersebut menandakan putusnya hubungan diplomatik secara resmi antara Ekuador dan Kuba.

Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez Parrilla, mengecam keputusan Ekuador dengan menyebutnya sebagai tindakan sewenang-wenang dan tanpa alasan yang dapat diterima. Ia menilai keputusan itu adalah dampak dari tekanan yang meningkat dari pemerintah AS terhadap negara-negara ketiga untuk memutuskan dukungan terhadap Kuba. Rodriguez juga menyatakan keyakinannya bahwa rakyat Ekuador akan mempertahankan solidaritas dan persaudaraan dengan Kuba.

Berikut ini ringkasan fakta penting terkait situasi terkini Kuba:

1. Pemadaman listrik terjadi akibat kerusakan di pembangkit Antonio Guiteras.
2. Dua pertiga wilayah Kuba terdampak, termasuk Havana.
3. Krisis energi di Kuba diperparah oleh embargo minyak AS pasca penangkapan Presiden Maduro.
4. Kuba melakukan pembatasan layanan publik terkait kelangkaan bahan bakar.
5. Ekuador mengusir duta besar dan staf kedutaan Kuba dalam 48 jam.
6. Keputusan pengusiran diduga dipengaruhi oleh tekanan politik dari AS.
7. Pemerintah Kuba mengutuk pembatasan diplomatik ini dengan tegas.

Pemadaman listrik dan ketegangan diplomatik ini menempatkan Kuba dalam situasi yang semakin berat di tengah tekanan politik dan ekonomi eksternal. Pemerintah Kuba perlu mencari solusi agar dapat mengatasi krisis energi dan memperkuat hubungan internasional yang selama ini menjadi salah satu penopang keberlangsungan negara.

Berita Terkait

Back to top button