Pemilihan umum Nepal kali ini menjadi momen krusial setelah pemerintah mantan Perdana Menteri K.P. Sharma Oli jatuh akibat protes anti-korupsi yang dipimpin oleh kaum muda. Pemilu ini diikuti oleh hampir 19 juta pemilih yang tersebar di seluruh negeri, termasuk sekitar satu juta pemilih baru dari kalangan muda yang ikut dalam aksi protes setahun lalu.
Total 275 kursi anggota Majelis akan diperebutkan, di mana 165 kursi dipilih secara langsung melalui sistem pemenang suara terbanyak. Sisanya diisi dengan sistem representasi proporsional dari 65 partai yang terdaftar ikut bertarung. Sistem ini memberikan gambaran kewenangan dan pengaruh partai berdasarkan total dukungan suara yang mereka raih.
Isu Utama dalam Pemilihan
Korupsi menjadi persoalan sentral yang memicu gelombang protes sebelumnya. Selain itu, penciptaan lapangan kerja menjadi prioritas, terutama mengingat hampir 20 persen penduduk masih hidup dalam kemiskinan. Tingginya tingkat pengangguran di kalangan pemuda juga menjadi sorotan utama para analis politik.
Hubungan Nepal dengan dua negara tetangga yaitu India dan China turut menjadi faktor penting. India dan China merupakan mitra dagang utama Nepal, dengan India menyumbang dua pertiga dari perdagangan internasional Nepal dan China berada di angka 14 persen. China juga memberikan pinjaman lebih dari 130 juta dolar guna mendukung pembangunan negara yang termasuk salah satu yang termiskin di dunia ini.
Para Kontestan Kunci dalam Pemilu
Sejumlah tokoh besar berlaga dalam pemilu ini dengan latar belakang dan visi berbeda. Di antaranya adalah Balendra Shah, rapper yang bertransformasi menjadi politisi dan mantan wali kota Kathmandu berusia 35 tahun. Ia mewakili partai Rastriya Swatantra yang bersikap sentris dan menjadi salah satu kandidat kuat untuk posisi perdana menteri.
Di sisi lain, K.P. Sharma Oli, politikus senior berusia 74 tahun dari Partai Komunis Nepal (Marxis–Leninis Terpadu), berusaha merebut kembali posisi tertinggi meski tantangan besar datang dari generasi muda yang menolaknya dalam protes tahun lalu. Oli pernah menjabat perdana menteri sebanyak empat kali dan dikenal sebagai komunis liberal sejak 1990-an.
Calon lainnya adalah Gagan Thapa, anggota Partai Kongres Nepal yang berusia 49 tahun dan merupakan politisi moderat. Selain itu ada Pushpa Kamal Dahal, berusia 71 tahun yang memimpin Partai Komunis Nepal. Dahal adalah mantan pemimpin pemberontakan Maois yang sempat berlangsung selama satu dekade, sebelum akhirnya dia bergabung dengan politik arus utama sejak 2006.
Dinamika Politik yang Berubah
Pemilu ini memperlihatkan pergeseran pada lanskap politik Nepal yang sebelumnya didominasi oleh elit tradisional. Masuknya generasi muda sebagai pemilih dan kandidat mencerminkan keinginan reformasi dan pemerintahan yang lebih transparan. Partai-partai yang hadir juga menghadapi tantangan menerjemahkan aspirasi penduduk yang luas dan beragam dalam program pemerintahan.
Bagi Nepal, hasil pemilu ini bukan hanya soal siapa yang berkuasa, tetapi juga tentang bagaimana negara ini dapat menyeimbangkan pembangunan ekonomi dengan peran penting kekuatan regional di Asia. Kritik terhadap korupsi dan kebutuhan untuk menciptakan lapangan pekerjaan menjadi titik tolak untuk perubahan yang nyata di tengah tekanan geopolitik yang tetap kompleks.









