Ketegangan di Lebanon kembali meningkat akibat peran Hezbollah yang, meski sudah melemah, belum sepenuhnya dilucuti senjatanya. Setelah serangkaian serangan AS-Israel terhadap Iran dan meninggalnya pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Hezbollah meluncurkan roket ke wilayah utara Israel sebagai balasan.
Respons Israel tidak kalah keras, dengan serangan udara ke target-target Hezbollah di Lebanon Selatan, Beirut, dan Lembah Bekaa. Meskipun kekuatannya sudah menurun sejak serangan Israel pada Oktober 2023 yang memangkas banyak pimpinan, Hezbollah tetap mampu mengguncang stabilitas Lebanon dan mengancam keamanan kawasan.
Sejarah dan ideologi Hezbollah
Hezbollah lahir pada 1985 yang terinspirasi oleh Revolusi Iran 1979. Organisasi ini mengklaim kesetiaan kepada pemimpin spiritual Iran saat itu, Ruhollah Khomeini, dan berjanji melawan pendudukan Israel di Lebanon serta wilayah Palestina. Dalam hampir empat dekade, kelompok ini menguasai politik internal Lebanon dan arah kebijakan luar negeri.
Namun, konflik yang terus berlangsung sejak akhir 2023 mengakibatkan penurunan signifikan dalam kekuatan Hezbollah. Pada November 2024, sebuah gencatan senjata yang dimediasi AS disepakati, di mana Hezbollah setuju menarik pasukan ke utara Sungai Litani dan Israel mulai menarik pasukannya dari Lebanon selatan dalam waktu 60 hari.
Gagalnya implementasi gencatan senjata
Meskipun ada kesepakatan, Israel terus melakukan pengeboman berkala ke wilayah Lebanon. Israel juga mengkritik lambatnya upaya tentara Lebanon untuk melucuti senjata Hezbollah. Sementara itu, pimpinan Hezbollah, Naim Qassem, menolak pembebasan senjata lengkap selama serangan Israel tetap berlangsung.
Sepanjang November 2024 hingga saat ini, Israel sudah melancarkan lebih dari 855 serangan udara di Lebanon. Februari sendiri tercatat ada 44 serangan. Setelah pembunuhan Khamenei, yang menjadi semacam pemicu, Hezbollah langsung membalas dengan menembakkan roket ke Israel, menguatkan bahwa konflik regional terus memengaruhi destabilitas Lebanon.
Dampak konflik terhadap Lebanon
Peran Hezbollah yang secara konsisten menolak untuk “berdamai” menghambat proses perdamaian Lebanon sekaligus membawa negara itu ke ambang konflik bersenjata berulang kali. Sejak perang tahun 2006, di mana Hezbollah menculik prajurit Israel dan memicu pertempuran berdarah 34 hari, Lebanon belum bisa lepas dari bayang-bayang peperangan.
Dalam konflik terbaru, walau pemerintah Lebanon melarang aktivitas militer Hezbollah pada Maret, langkah ini belum secara efektif meredam serangan kelompok tersebut. Larangan ini menandai perubahan politik pertama kali dalam hampir 50 tahun, saat Hezbollah sebelumnya dianggap sebagai entitas keamanan semi-negara.
Risiko sektarian dan ancaman invasi
Larangan terhadap Hezbollah juga berpotensi memperdalam perpecahan sektarian di Lebanon, khususnya antara kelompok Sunni dan Syiah. Sementara itu, penempatan pasukan militer Suriah di perbatasan utara menimbulkan kekhawatiran invasi, mengingat sejarah pendudukan Suriah selama perang saudara Lebanon.
Israel sendiri masih menyiapkan opsi invasi darat yang berpotensi memperburuk konflik dalam negeri Lebanon. Beberapa aksi teritorial oleh kelompok ekstrimis Israel yang masuk secara ilegal ke Lebanon Selatan juga menambah ketegangan yang bisa memicu eskalasi lebih luas.
Peran Hezbollah dalam dinamika regional
Hezbollah tidak hanya menjadi aktor lokal tapi juga bagian dari persaingan geopolitik yang lebih luas antara Iran, AS, dan Israel. Meski secara militer kini lebih terbatas, kelompok ini tetap menjadi alat penekan yang berpotensi menghancurkan kestabilan Lebanon. Kematian Khamenei memperkuat simbolisme dan kerentanan komunitas Syiah di Lebanon yang sering menjadi sasaran serangan.
Skenario saat ini menunjukkan bahwa Hezbollah masih mampu mengubah kondisi Lebanon secara signifikan, meskipun menghadapi konflik internal dan tekanan internasional yang berat. Ketidakpastian ini menandakan Lebanon belum keluar dari siklus kekerasan yang sudah puluhan tahun membelenggunya.









