Hubungan antara Ukraina dan Hongaria kembali memanas setelah Pemerintah Hongaria menahan tujuh pegawai bank negara Ukraina, Oshchadbank, yang sedang mengangkut dana melalui wilayah Hongaria. Kementerian Luar Negeri Ukraina menyatakan penahanan ini sebagai tindakan ilegal dan sebuah bentuk terorisme negara.
Para pegawai bank tersebut membawa uang tunai sebesar 40 juta dolar AS, 35 juta euro, serta 9 kilogram emas dari Austria menuju Ukraina ketika ditahan. Lokasi mereka kini berada di gedung dinas keamanan Hongaria di Budapest, namun keberadaan pasti dan kondisi mereka belum dikonfirmasi.
Ketegangan ini muncul di tengah konflik terbuka antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dan Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban. Zelenskiy mengritik Orban karena memblokir paket bantuan Uni Eropa senilai 90 miliar euro untuk Ukraina, yang sangat dibutuhkan untuk mendukung keuangan negara selama perang.
Orban membalas dengan mengancam menggunakan “alat politik dan finansial” untuk memaksa Ukraina membuka kembali pipa minyak Druzhba yang mengalirkan minyak Rusia ke kilang-kilang Hongaria. Hongaria dan Slovakia adalah dua negara UE terakhir yang masih mengimpor minyak Rusia melalui pipa ini.
Krisis pipa minyak dipicu oleh kerusakan infrastruktur akibat serangan Rusia pada Januari lalu. Ukraina mengklaim sedang memperbaiki pipa tersebut dan menargetkan pengoperasian kembali dalam kira-kira satu setengah bulan. Namun, Hongaria menuduh Ukraina sengaja menunda pengoperasian pipa demi alasan politik.
Presiden Zelenskiy menanggapi ancaman Orban dengan nada sinis, menganggap bahwa Ukraina yang berada dalam tekanan akibat serangan Rusia justru diminta untuk memenuhi kepentingan pemilu Orban. Zelenskiy bahkan mengancam menyampaikan alamat pemimpin yang memblokir bantuan kepada pasukan Ukraina agar menggunakan “bahasa mereka sendiri”.
Ketegangan hubungan kedua negara berakar dari sikap Hongaria yang anti-intervensi dalam perang di Ukraina dan mempertahankan hubungan yang relatif bersahabat dengan Moskow. Sementara Ukraina sangat bergantung pada dukungan finansial dari mitra internasionalnya untuk mempertahankan aktivitas militer dan stabilitas negara.
Selain masalah bantuan keuangan dan pipa minyak, Eropa mengalami kesulitan menyatukan sikap antar anggota UE terkait langkah diplomasi dan sanksi terhadap Rusia. Menteri luar negeri Eropa gagal meyakinkan Budapest agar tidak menghukum Ukraina sebagai balasan atas konflik pipa minyak.
Slovakia, yang juga memiliki sikap serupa dengan Hongaria dan memiliki Perdana Menteri pro-Kremlin, mengancam menolak permintaan darurat pasokan listrik dari Ukraina hingga minyak mengalir kembali. Hal ini menambah kompleksitas geopolitik di wilayah Eropa Tengah yang saling berkaitan dengan konflik yang sedang berlangsung.
Situasi saat ini memperlihatkan bagaimana perang di Ukraina berdampak luas ke berbagai bidang, termasuk hubungan diplomatik, ekonomi, dan keamanan energi regional. Penahanan pegawai bank Ukraina oleh pihak Hongaria menjadi babak terbaru dalam konflik diplomatik yang memperlihatkan ketegangan berlapis antara kedua negara.
Pemerintah Ukraina telah mengeluarkan nota resmi menuntut pembebasan segera warganya dan meminta Uni Eropa menilai tindakan Hongaria sebagai tindakan melanggar hukum, sekaligus menyerukan solidaritas antar negara anggota untuk menahan langkah yang bisa mengganggu dukungan terhadap Ukraina di masa kritis perang.
