Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengungkap fakta mengejutkan bahwa keputusan untuk membunuh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sudah diambil sejak November 2025. Hal ini terungkap setelah serangan udara gabungan Israel-Amerika Serikat yang berhasil menewaskan Khamenei pada 28 Februari 2026 di Tehran.
Katz menyampaikan bahwa perencanaan operasi pembunuhan itu telah dimulai pada akhir tahun lalu melalui serangkaian pertemuan tertutup bersama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Awalnya operasi dijadwalkan berlangsung pertengahan 2026, tetapi kemudian dipercepat menjadi Januari karena kondisi politik Iran yang memanas. Gelombang protes besar yang mengguncang Iran membuat Israel khawatir para pemimpin ulama bakal melancarkan serangan balasan terhadap Israel dan aset Amerika di kawasan.
Motivasi Israel dan AS di Balik Operasi
Menurut Israel Katz, alasan utama di balik operasi tersebut adalah upaya mengeliminasi ancaman besar dari program nuklir dan rudal balistik Iran. Israel juga berharap pembunuhan Khamenei dapat menjadi pemicu perubahan rezim di Iran. Namun hingga saat ini, para pemimpin Iran masih belum menunjukkan indikasi akan meninggalkan kekuasaan. Dalam sejarahnya, pembunuhan seorang pemimpin tertinggi negara melalui serangan udara ini menjadi yang pertama kali tercatat.
Dampak dan Reaksi Setelah Serangan
Serangan udara gabungan tersebut memicu eskalasi konflik yang meluas di wilayah Timur Tengah. Selain menewaskan sejumlah tokoh penting Iran, Iran membalas serangan dengan menyerang wilayah Israel serta negara-negara Teluk dan Irak. Israel pun membalas lagi dengan menyerang kelompok Hezbollah, sekutu Iran, di Lebanon. Konflik yang terjadi semakin memperuncing ketegangan geopolitik di kawasan.
Pengganti Ali Khamenei Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
Berita pengangkatan Mojtaba Hosseini Khamenei, putra Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi Iran berikutnya mulai muncul dari sejumlah media Israel. Majelis Ahli Iran, lembaga resmi yang berwenang memilih Pemimpin Tertinggi, dikabarkan sudah menetapkan Mojtaba sebagai penerus. Namun langkah ini mendapat kritik keras dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Trump menegaskan bahwa Amerika tidak akan menerima pemimpin yang melanjutkan kebijakan Ali Khamenei dan memperingatkan hal itu bisa menarik AS kembali terlibat perang dalam waktu lima tahun ke depan.
Situasi Politik Iran dan Implikasi Konflik
Penunjukan Mojtaba Hosseini Khamenei dipandang sebagai tanda kesinambungan dari rezim konservatif yang selama ini berkuasa. Trump menginginkan penerus yang dapat membawa perdamaian dan harmoni bagi Iran, bukan justru memperpanjang konflik. Situasi ini menunjukkan kompleksitas politik dalam negeri Iran dan signifikansi strategis yang menjadi alasan utama keterlibatan langsung Israel dan Amerika Serikat dalam mengubah lanskap kekuasaan di negara tersebut.
Pengakuan resmi dari Menteri Pertahanan Israel memberikan gambaran jelas bahwa operasi pembunuhan terhadap Ayatollah Ali Khamenei bukan insiden tiba-tiba, melainkan hasil perencanaan matang selama beberapa bulan. Langkah ini mencerminkan eskalasi tajam ketegangan antara Iran dan koalisi Israel-Amerika Serikat yang belum menunjukkan tanda mereda. Dengan Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai pemimpin baru, masa depan politik Iran dan dinamika konflik di kawasan masih perlu diamati secara seksama.
